Abah Imam Taufiq: Hidayah dan Kunci Mendapatkannya

Kajian Tafsir Tematik oleh Abah Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M.Ag.

Besongo.or.id – Semarang, Banyak yang beranggapan bahwa hidayah adalah sesuatu yang mutlak dari Allah untuk orang-orang pilihannya. Sehingga kita menunggu hadirnya hidayah tanpa berusaha.

Dalam kajian tafsir tematik Pondok Pesantren Darul Falah (Dafa) Besongo yang bertempat di masjid Raudlatul Jannah, Abah Imam Taufiq menjelaskan mengenai pengertian hidayah dan potensi untuk mendapatkannya, Sabtu (2/10/2021).

Mengutip Firman Allah dalam QS. al-An’am ayat 125, beliau menngartikan bahwa orang yang dikehendaki Allah mendapat hidayah (petunjuk), maka Allah akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya sesat, Allah jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia sedang mendaki langit.

“Allah senantiasa memberi limpahan hidayah pada manusia. Hanya saja manusia perlu sedikit upaya untuk menemukan hidayah yang Allah sisipkan,” tambah Abah Imam dalam kajian yang juga disiarkan secara daring melalui kanal youtube PP. Dafa Besongo tersebut.

Mengutip dari Kitab Tafsir Al-Maroghi, Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Universitas Islam Negeri (UIN) Semarang itu juga menjelaskan, bahwa ada lima kunci untuk seseorang sehingga ia dikatakan berpotensi mendapatkan hidayah.

Pertama adalah tauhid yang tepat, yakni meyakini bahwa Allah merupakan Dzat yang Maha segalanya. Kemudian yang Kedua adalah taubat.

“Seseorang jika memiliki banyak dosa tidak lagi memiliki potensi untuk menerima hidayah. Sehingga kita diperintahkan untuk benar-benar bertaubat, bukan hanya sekadar taubat sambal,” terangnya.

Ketiga adalah bersungguh-sungguh dalam belajar. Orang yang tidak belajar, tidak akan memahami bagaimana cara beribadah, tidak mengetahui perintah dan larangan Allah. Sehingga orang yang belajar dengan sungguh-sungguh lebih berpotensi mendapat hidayah dari-Nya.

“Lalu, baca dan pahamilah al-Quran serta mengamalkannya. Dan yang terakhir berkumpulah dengan orang-orang yang saleh,” tambahnya dalam tafsir al-Quran kontemporer karya Ahmad Musthafa Al-Maraghi itu.

Baca juga :  Studi Banding Mahasantri, Ungkap Peran Pesantren Hadapi Problematika Masyarakat

Jika semua itu dilakukan, maka semuanya sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Hatinya akan diberi kecerahan, sehingga bisa mengamalkan ajaran Islam. Begitupun sebaliknya, untuk orang yang melakukan kemaksiatan maka dia dikehendaki oleh Allah dalam kesesatan.

“Banyak jalan dan cara Allah memberikan hidayah. Yang terpenting, kita harus memastikan diri untuk selalu mengingat Allah. Maka Allah pun akan selalu menuntun hamba-Nya dalam kebaikan,” tutupnya mengakhiri pengajian.

Reporter : Ahmad Haris Sa’dullah

Editor : Anton Tubagus

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *