Bahtsul Masail Besongo, Ini Tiga Permasalah yang Dibahas

Bahtsul Masail Besongo, Ini Tiga Permasalah yang Dibahas

Santri dan asatidz saat acara bahtsul masail internal Pondok Pesantren Darul Falah Besongo (foto/nada syifaur)

Be-songo.or.id – Semarang, Divisi Pendidikan Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang adakan bahtsul masail internal, Ahad (27/2/2022). Bertempat di Masjid Raudlotul Jannah, acara tersebut diikuti oleh tiga delegasi peserta dari masing-masing asrama dan empat peserta dari perwakilan asrama sebagai mustami’ (pendengar).

Terdapat tiga topik permasalahan yang menjadi sorotan dari Divisi Pendidikan untuk dijadikan sebagai as’ilah (soal). Ketiga permasalahan itu yakni; As-Sawad Al-A’dham, fenomena mistery box pada jual beli online, dan hukum bermain slot game.

Ketiga permasalahan itu dirasa relevan dengan kondisi sosial yang terjadi di masyarakat saat ini, terlebih permainan slot game yang sedang jadi trend di kalangan anak muda. Karena ada yang beranggapan bahwa itu termasuk judi atau neo-togel dan sejenisnya. Tapi di sisi lain banyak pemuda yang memainkannya bahkan menjadikan hasil uang yang didapat untuk kebutuhannya.

As’ilah yang dijadikan pembahasan dalam bahtsul masail tersebut adalah hasil dari penyaringan permasalahan yang diajukan oleh para santri dari masing-masing asrama yang mengajukan pertanyaan.

“Jadi sebelumnya kami koordinasi dengan ketua asrama agar para santri dapat mengajukan beberapa pertanyaan. Dari beberapa pertanyaan yang terkumpul itu kemudian disaring oleh Divisi Pendidikan dalam rapat,” tutur Abdullah Fatah Irsyadi, Koordinator Divisi Pendidikan Pondok Pesantren Dafa Besongo.

Harapannya, dengan diadakannya acara ini semoga bisa mencetak kader-kader santri yang melek literatur kitab kuning, yang paham juga bisa mengamalkannya dalam kehidupan bermasyarakat.

“Juga agar para santri dapat belajar berbicara di depan umum dan dapat menyampaikan gagasannya. Serta paling tidak para santri  tahu bagaimana jalannya bahtsul masail di pesantren atau dalam forum lain,” tambah Fatah.

Baca juga :  Kupas Tuntas Fiqh Nisa' Bersama Ketua Jurusan AS UIN Walisongo Semarang

Acara tersebut dihadiri oleh para asatidz dan pembina Pondok Pesantren Darul Falah Besongo sebagai muharrir (perumus) dan mushohih (pembenar/yang men-tashih). Para asatidz diharap dapat mengarahkan para peserta agar dapat ditemukan rumusan yang sesuai terhadap masalah yang diajukan.

“Saya harap kedepannya acara-acara seperti ini dapat terus diagendakan oleh kepengurusan selanjutnya sebagai acara rutin di pondok,” pungkasnya.

 

Reporter: Imam Mawardi

Tinggalkan Balasan