Bekali Santri Baru dengan Kepenulisan, Bagaimana Cara Membuat Tulisan Menarik?

Be-songo.or.id-Semarang, Saat ini menulis menjadi tantangan tersendiri di era digital. Dengan menulis seseorang bisa diakui dan dikenal bahkan dikenang di masyarakat. Menulis bukanlah hal yang gampang, namun juga tidak sulit jika serius untuk mencoba menulis. Untuk itu diadakan Diskusi Kepenulisan dalam rangka TOS (Ta’aruf Orientasi Santri) Ponpes Darul Falah Besongo Kamis,(12/08/2021) di Aula Pesantren.

Ustadz Gigih Firmansyah selaku narasumber menjelaskan kepenulisan dan tips menulis mudah terutama bagi pemula. Saat ini ada banyak macam bentuk kepenulisan yang bisa dituangkan melalui santri di ruang digital.

“Saat ini ruang-ruang di media massa yang membahas topik tentang keagamaan sudah seharusnya diisi oleh santri. Ruang ini yang sering dilirik masyarakat, misalnya artikel ilmiah populer,” tutur Ustadz Gigih.

Beliau juga menjelaskan semua tulisan tersebut memiliki kesamaan, kecuali pada ide dan susunan kebahasaanya.

“Tulisan apapun itu. Baik artikel, berita, jurnal, yang membedakan hanya ide dan susunannya yang kurang lebih hampir sama. Artikel ilmiah populer, sebagaimana namanya tidak sekaku artikel ilmiah di jurnal atau artikel penelitian. Bahasa yang digunakan lebih umum atau poluler karena sasarannya adalah masyarakat luas,” Jelas Pimred Joglo Jateng tersebut.

Ustadz Gigih juga menjelaskan bagaimana menentukan ide agar menarik, salah satunya dengan update pengetahuan; membaca.

“Menemukan ide tuk menulis seringkali menjadi tantangan tersendiri. Ide bisa muncul dari mana saja, misalnya pengalaman pribadi, berita di koran, atau cerita teman. Pilih topik yang paling diketahui atau dikuasai,” tutur Ustadz Gigih lagi.

“Tulisan yang baik adalah tulisan yang sudah terwakilkan isinya dalam judul. Jika judulnya menarik mampu membuat orang minat untuk membaca tulisannya,” tambahnya.

Ustadz Besongo tersebut menjelaskan beberapa tips membuat tulisan menarik. Hal tersebut termaktub dalam 3 N; niteni (memperhatikan) tulisan yang sudah tayang di media massa, kemudian memperhatikan struktur penulisannya, susunan kalimat dan paragrafnya.

Baca juga :  Pesantren Besongo Adakan Keterampilan Pembuatan Hand Sanitizer Sebagai Upaya Pencegahan COVID-19

Kemudian nirukke (menirukan) ulang tulisan yang sudah tayang di media massa yang membuat pembaca tertarik dan dirasa bagus. Mencontoh tulisan-tulisan orang lain yang sesuai dengan kebutuhan kita. Terakhir nulis dewe (menulis sendiri) atau menulis sendiri ide yang ada dengan pemahaman dari 2 N di atas.

“Lakukan berulang-ulang 3 N di atas, insyaallah tulisan anda baik.” Pungkasnya.

Reporter          : M. Rifki Priatna

Editor              : Ati Auliyaur R

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *