Berita

PSB

Bu Dewi Jelaskan Pentingnya Kesehatan Mental

Memasuki rangkaian acara Pascalib hari ke-3, Pesantren Darul Falah Besongo Semarang adakan Seminar Kesehatan Mental bertemakan Anxiety (kecemasan), (05/2/2024). Acara yang bertempat di Asrama B9 dan dihadiri oleh santri Dafa Besongo tersebut diisi oleh Dewi Khurun Aini, S.Pd. I., M.A., salah satu dosen Psikologi UIN Walisongo Semarang.

Dalam pembukaan seminarnya, beliau memaparkan data yang dikutip dari WHO mengenai kesehatan mental. Data statistik kesehatan mental yang diluncurkan oleh WHO menyatakan bahwa, 1 dari 4 anak remaja di usia 16-24 tahun mengalami gangguan jiwa. 94,5 persen mengalami gejala kecemasan, kemudian 88 persen mengalami depresi dalam menghadapi permasalahan, hal tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai kesehatan mental bagi anak remaja terutama mereka yang sedang duduk di bangku perkuliahan mengenai seberapa pentingnya kesehatan mental.

“Pentingnya kesehatan mental bagi mahasiswa itu apa, sih? Tentu yang paling utama, agar mahasiswa dapat fokus belajar, sehingga performa akademiknya dapat berjalan dengan baik”, ujar Dewi Khurun Aini.

Di lain sisi, Dosen Psikologi tersebut juga menjelaskan, kesehatan mental juga mampu membantu memperluas relasi, seperti relasi antar mahasiswa, dengan dosen, dan juga dengan orang-orang sekitar. Kesehatan mental juga mampu menciptakan daya tahan yang baik dalam menghadapi tantangan dan lebih mudah beradaptasi ketika memasuki lingkungan yang baru.

Dosen yang kerap disapa dengan Bu Dewi tersebut juga menyampaikan, semua masalah yang ada dalam diri individu masing-masing manusia itu esensinya sama, baik dari usia yang masih kecil, anak-anak, dewasa, tua, maupun lansia. Namun, yang berbeda dari semua hal itu adalah bagaimana cara mengatasi masalah tersebut.

“Ada tiga tipe orang dalam menghadapi masalah. Tipe pertama, dengan cara fight (menghadapi), kedua, fligt (menghindar), dan terakhir, ignore (tidak merespon). Tipe manakah yang anda pilih, itu pula yang akan menentukan masa yang akan datang, itu pula yang akan menjadi cerminan dalam perilaku masing-masing individu”, terangnnya.

Menurut beliau, kecemasan adalah kondisi emosi dengan timbulnya rasa tidak nyaman pada diri seseorang, serta merupakan pengalaman yang samar-samar dengan disertai perasaan tidak berdaya dan tidak menentu yang disebabkan oleh suatu hal yang belum jelas adanya.

“Sebenarnya terdapat peristiwa yang belum jelas keberadaannya, namun kita sudah terblok oleh mindset berpikir kita sendiri, jadi secara tidak sadar kita menakut-nakuti diri kita sendiri, seperti halnya kita mengambinghitamkan sosok hantu misalnya, padahal kita yang menciptakan ketakutan pada diri kita sendiri”, jelasnya.

Dosen Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo tersebebut mengatakan bahwa di zaman sekarang banyak terjadi kasus interpretasi dimana parameter penilaian orang lain terlalu tinggi dapat menyebabkan dan menimbulkan rasa cemas. Terdapat presepsi dalam mindset manusia, ketika seseorang tidak mampu memenuhi harapan orang lain terhadap dirinya sendiri, ternyata tanpa disadari hal tersebut dapat menimbulkan perasaan cemas pada dirinya sendiri.

“Misalnya pada saat seseorang mengexpost sesuatu di media sosial, namun kemudian tidak banyak yang memberi like, tidak banyak yang mengvalidasi kalau dia ganteng atau cantik, atau mungkin tidak ada yang merespon. Ternyata hal tersebut juga dapat menimbulkan kecemasan dan menimbulkan stress, mungkin ini agak lucu namun ini merupakan fenomena penyabab stress yang banyak dialami remaja di era digital ini, di zaman sekarang banyak sekali faktor-faktor kecemasan yang berasal dari online base ”, ucapnya.

 Beliau menjelaskan bahwa respon terhadap perasaan cemas yang paling baik adalah dengan cara menghadapi perasaan cemas tersebut, meskipun sebenarnya masing-masing orang memiliki cara sendiri-sendiri dalam menghadapi perasaan cemas. Perlu diketahui kecemasan memiliki fungsi untuk membantu mengidentifikasi dan merespon bahaya untuk memilih melawan (fight) atau menghindar (flight) terhadap masalah yang nantinya dapat menjadikan tolak ukur terhdap kemampuan penyelesaian masalah seseorang (problem solving), penyelesaian tersebut yakni berupa langkah apa yang akan diambil untuk menyelesaikan masalah yang dialami orang tersebut.

“Kecemasan akan menimbulkan pertanyaan apa yang harus saya lakukan pada tahapan berikutnya? Bagi tipe orang yang fight mereka akan mencari solusi atau langkah tepat apa yang harus saya lakukan agar dapat minimal mengurangi emosi kecemsan yang sedang di rasakan”, pungkasnya.

Penulis : Khairul Bahrul Ulum (Santri Pondok Darul Falah dan Mahasiswa UIN Walisongo Semarang )

Editor : Ilham Mubarok