Duka di Sembilan Juz Terakhir

Murojaah Hafalan (Ilustrasi: Besongo Online/Fiya Afid)

Aku benar-benar tidak percaya lagi dengan kata ‘tiba-tiba’.

Saat kata itu terpaksa digunakan di hadapanku, lebih baik kuminta Tuhan mengutuk diriku menjadi tunarungu sejenak saja.

Aku, sudah tak kuasa lagi untuk mendengarnya.

Sunyinya malam membuat hati dan pikiranku tenang. Teman-teman sudah lama terlelap dan asik dengan mimpi indahnya. Sesekali gigi mereka menggeretak menimbulkan bunyi yang sungguh demi apapun membuat telingaku geli. Sudut kamar dan lengangnya langit-langit kamar menjadi saksi usaha keras seorang remaja menahan kantuknya. Tanganku erat memegang mushaf agar tak terjatuh. Sulit sekali rasanya untuk bisa menjadi satu langkah di depan teman-temanku. Biar saja mereka memandangku sebelah mata. Kadang aku bertanya, apakah Tuhan ada bersamaku? Apakah Tuhan sedang tidak melihat usahaku? Delapan jam sudah aku terduduk untuk membuat hafalan besok pagi. Pantatku mulai panas, kantuk mulai membuatku lemas. Sungguh tidak muluk, aku hanya ingin setor satu halaman besok pagi. Sepintas, rasa iri melihat teman sematrasku sudah tertidur lelap muncul. Padahal seingatku dia hanya memegang mushafnya selama dua jam, namun sebelum terlelap ia mengadu bahwa sudah cukup, cukup tiga halaman saja untuk setoran esok hari. Dalam hati aku meneriaki dirinya, bahwa tiga halaman itu sangat lebih dari cukup bagiku.

Hal yang membuatku sebal dan sedih secara bersamaan akhir-akhir ini sebenarnya adalah aku mulai merasa lelah dan bosan. Sudah hampir tujuh tahun dari usiaku kuhabiskan di pesantren ini. Mulai dari kelas tujuh SMP hingga besok aku menyelesaikan semester dua, yang artinya sebentar lagi aku akan menjadi santri semester tiga. Berkali-kali aku memohon kepada ayah agar mengizinkanku untuk berhenti nyantri. Aku ingin merasakan kuliah di luar yayasan pesantrenku, aku ingin bertemu banyak orang yang bukan dari kalanganku, serta aku ingin mencoba dan belajar banyak hal baru di luar sana. Sekeras apapun aku meminta, seteguh itu pula ayah memintaku untuk bertahan sebentar lagi. Ayah tidak meminta aku khatam Al-Qur’an dalam kurun waktu sekian, ayah juga tidak menuntutku menjadi ustadzah seperti teman-temanku. Ayah hanya minta aku terus mengaji, sesulit dan selama apapun itu. Tiba-tiba aku merindukan ayah. Namun, apalah daya. Angka kasus covid-19 terus meningkat tajam.

Ayah, sungguh aku tidak sepenuhnya menyayanginya. Tidak bertemu dengannya hampir delapan bulan pun hal biasa bagiku. Jauh dari rumah dan hidup sendiri di pesantren rupanya lebih baik daripada tinggal di rumah bersamanya. Bersamanya dan istri barunya maksudku. Bunda meninggal dua tahun yang lalu karena stroke. Hal yang membuatku sebal, belum genap setahun kematian bunda, ayah menikah lagi. Parahnya, tanpa persetujuanku. Bahkan aku hanya mendapat kabar pernikahannya melalui telepon seluler. Memang sudah menjadi peraturan pesantren, sih. Pulang hanya satu tahun sekali saat libur lebaran kecuali ada hal-hal penting. Ya, memang sudah benar seperti itu. Aku tak perlu pulang dan pura-pura bahagia atas pernikahan mereka. Toh, bukan hal penting juga, kan? Namun, semenyebalkan apapun ayah, aku tidak bisa membencinya. Bagaimanapun, ayah adalah cintanya bunda. Bagaimanapun juga. hanya ayah yang kupunya.

Shodaqollaahul’adziim…” Aku segera menutup Al-Qur’an milikku dan menyalami Ustadzah Nina. Setor satu halaman berjalan lumayan lancar. Ustadzah Nina ini, masih kelas dua belas. Hal ini yang kadang membuatku malu. Walaupun Umi Nyai sudah sering mengingatkan, bahwa mengaji itu tidak usah memandang usia guru yang mengajar, tidak usah malu bila kamu lebih tua darinya, dan jangan meremehkan gurumu hanya karena kamu lebih tua. Begitu juga para ustadzah yang lebih muda dari muridnya, harus tetap sopan dan menunjukkan rasa hormat kepada embak yang diajar tanpa merasa lebih hebat dan tinggi hati. Ajaran yang indah, namun terkadang sulit dilakukan,

“Emm… Mbak Risa. Kulo angsal pesen sangking Umi Nyai. Liburan semester niki, Mbak Risa diken ngaos kaleh Umi langsung. Turine, tahun niki Mbak Risa ajeng didaftarke khataman maleh.” (Emm… Mbak Risa. Saya dapat pesan dari Umi Nyai. Liburan semester ini, Mbak Risa disuruh ngaji sama Umi langsung. Katanya, tahun ini Mbak Risa mau didaftarkan khataman lagi.) Ucap Ustadzah Nina lembut. Aku tidak terlalu terkejut, tahun kemarin aku sudah diikutkan pemadatan khatmil Qur’an, namun tetap tidak bisa memenuhi target khatam.

Aku baru sampai juz dua puluh satu. Dua puluh satu juz yang kuperjuangkan tujuh tahun itu pun belum sepenuhnya lancar dan bisa disimak. Berbeda dengan teman-temanku yang kini sudah menjadi ustadzah, rata-rata dari mereka hanya perlu waktu dua sampai tiga tahun untuk menyelesaikan hafalannya. Aku memang lemah di hafalanku, namun di perkuliahan aku terbilang cukup pintar. IPK-ku selalu 3.8 ke atas. Tidak pernah lebih jelek daripada itu. Sore ini, aku mulai ngaos di ndalem. Mengeluh seperti apapun juga aku tetap berangkat ke ndalem.

Hari ini aku menangis sesenggukan di sudut kamar lagi. Sudah hampir dua minggu aku setor di ndalem. Aku sangat malu setor tidak lancar di hadapan Umi Nyai. Namun, bagaimana lagi? Kemampuanku hanya segini. Tiba-tiba aku sangat merindukan ayah lagi. Berkali-kali aku mengucapkan istighfar lengkap dengan tangisan yang tak kunjung berhenti. Dadaku sungguh sesak, sekali saja aku menarik nafas dalam-dalam, air mata ini jatuh lagi tak terbendung. Aku sudah tidak kuat. Aku benar-benar ingin menyerah.

“Mbak Risa, ditunggu tantenya di ruang tamu. Segera, nggeh,” Ucap santri kelas sebelas tiba-tiba. Aku sedikit terkejut. Betapa baiknya Allah, di saat aku sedih tiba-tibaTante Rina datang. Aku bergegas mencuci muka dan sedikit berlari menuju ruang tamu.

“Assalamualaikum, Tante,” Salamku yang kemudian mengecup punggung tangannya.

“Waalaikumsalam. Bawa baju secukupnya, Sa. Kita pulang sebentar. Ada acara di rumah. Sudah tante ijinkan ke pengurus. Cepat, ya. Tidak usah lama-lama,” Ujar Tante Rina halus. Tanpa bertanya lagi, aku segera kembali ke kamar untuk mengambil barangku. Hatiku sungguh senang sekaligus… takut. Aku takut dengan suatu hal yang diawali kata tiba-tiba.

Lima jam perjalanan membuat hatiku semakin gundah. Semakin dekat dari rumah, semakin berdebar pula jantungku. Tanganku menjadi dingin. Apa karena terlalu lama aku tidak pulang ke rumah ini? Tante Rina menggenggam tanganku erat ketika mobil putih Tante Risa memasuki gang perumahan. Saat itulah aku tersadar, ayah sedang tidak baik-baik saja. Aku melihat bendera kuning di depan rumahku. Lengkap dengan mobil ambulan dan para tenaga kesehatan yang menggunakan APD (Alat Peindung Diri) lengkap.

“Risa, yang sabar, ya. Ayahmu meninggal karena terpapar Covid-19, nduk. Risa pasti kuat. Ada Mama, tante, dan saudara-saudara yang lain. Yang kuat ya, nduk, yang kuat.” Ujar Tante Rina.

Seketika badanku lemas tak berdaya. Air mataku langsung keluar tanpa menunggu perintah. Aku tidak menyangka, pertemuanku dengan ayah saat lebaran kemarin adalah pertemuan terakhir dengannya. Risa harus sabar, Risa harus kuat. Pasti khatam Al-Quran-nya. Tidak boleh banyak mengeluh. Tidak boleh banyak menangis. Harus ceria. Harus rukun sama Mama juga, nanti kalau Ayah pergi kan Risa hidupnya sama Mama. Nasehat-nasehat ayah, bahkan masih kuat diingatanku. Aku langsung mengusap air mataku. Mencoba tegar dan menghampiri Mama.

“Risa, maafkan Mama…” Mama memelukku erat. Ini kali pertama aku berpelukan dengannya. Aku mendengar detak jantungnya yang melebihi ritme normal. Di sini, aku tersadar. Mama tulus mencintai ayah.

“Ayah mana, ma?” Tanyaku dengan suara yang kuusahakan mati-matian agar terlihat tenang. Mama menggeleng pelan.

“Ayah dimakamkan sesuai protokol, Sa. Mama juga tak bisa mengantar ayahmu.”

Hancur. Hatiku hancur berkeping-keping. Ayah… Risa bahkan tak mengantar ayah di pernikahan ayah. Untuk terakhir kalinya, Risa juga tak punya kesempatan untuk mengantar ayah pulang. Risa terlambat. Bahkan Risa belum pernah bilang Risa menyangai ayah lebih dari apapun. Memang benar, segala sesuatu yang bisa disampaikan, sebaiknya segera disampaikan. Waktu tidak akan bersekongkol dengan kita.

Ini harus menjadi kali terakhir aku hancur ketika mendengar kata tiba-tiba. Tidak akan lagi terjadi padaku di masa depan. Aku harus ikut haflah tahun ini, sebelum tiba-tiba Mama juga pergi dariku atau sebelum aku yang tiba-tiba pergi meninggalkan mama. Ayah… Risa akan berhenti mengeluh, Risa akan menyelesaikan sembilan juz terakhir. Risa yakin… Ketika nanti sembilan juz terakhir Risa selesai, virus yang membunuh ayah telah mati. Beri Risa waktu sampai Risa haflah, Yah. Risa akan berkunjung ke makam ayah dengan khataman Al-Qur’an 30 juz bil-ghaib Risa. Maaf, Risa tidak bisa mengantar ayah. Maaf, Ayah harus pergi sendiri. Salam untuk bunda, ya. Salam juga untuk kekasih Risa, Rosulullah Muhammad SAW.

Selamat jalan, yah. Tunggu sembilan juz terakhir Risa, ya.

###

“Puncak mencintai seseorang adalah ketika kamu mengikhlaskan orang yang kau cinta, kembali kepada cinta sejatinya, yaitu Penciptanya,”

Nabilatus Sa’adah, Mahasantri Besongo angkatan 2021 dan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris

Tinggalkan Balasan