Gemerlap di Cakrawala

(ilustrasi: Pinterst)

Suatu malam di gua yang gelap gulita, teramat pengap, dan berbau tak sedap. Bintang-bintang yang kata orang indah gemerlap di malam hari tak terlihat sama sekali. Bulan yang katanya selalu tersenyum tipis membentuk sabit yang indah pun, aku tak dibuatnya terpesona. Enggan muncul di tengah dinginnya malam, enggan tersenyum di tengah sunyinya ruang. Dia sedang enggan bertemu siapapun. Mungkin, dia sedang ingin bersembunyi.

Atau, justru aku yang sedang bersembunyi?

***

Silau mentari menyambut langkahku yang kaku. Sudah sekitar tiga tahun aku tak memiliki keberanian untuk melakukan hal ini. Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan kedua temanku, aku tak yakin mereka mengingat janji kami saat masih menjadi santri di pesantren dahulu. Walau begitu, aku tetap mencoba datang. Seratus persen yakin mereka tidak akan menepati janji konyol ini. Aku akan menuju warung Mbok Siti, sekalian untuk mengisi perutku yang semalam belum terisi dengan apa pun. Suasana pesantren yang kental sudah kurasakan, banyak santri yang berseliweran dengan mengenakan sarung batik, baju koko, dan peci hitamnya. Sebuah pemandangan yang sungguh membuat hatiku berdesir. Dulu aku juga seperti itu, sambil membawa kitab kuning dan sandal jepit yang tiap bulannya bisa ganti sampai dua atau tiga kali.

“Tahu sayur, sambalnya sedikit saja, kuahnya banyakin, sama teh panas. Benar toh, mas?” Aku mengangguk sambil tersenyum. Walaupun senyumku tak akan terlihat juga. Aku mengenakan hoodie hitam dan topi hitam lengkap dengan masker yang membungkus setengah dari wajahku. Aku terlalu malu untuk datang ke tempat ini, tempat dimana setengah dari usiaku kuhabiskan di sini. Bagaimana tidak malu? Kejadian tiga tahun silam itu bahkan masih menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan para santri.

“PEMBUNUH!”Aku menutup mata rapat-rapat sambil memegang erat sendok di hadapanku. Melihat tempat ini kembali sama halnya mengulang kejadian pahit tiga tahun silam. Otakku refleks bekerja cepat, memutar ulang potongan-potongan kejadian yang sungguh membuatku tersiksa. Bersamaan dengan itu, batinku menolak untuk kambali tersakiti.

“Aku sudah pernah bilang! Kamu itu beban bagi ibumu! Permintaan konyolmu itu, yang membuat ibumu mati! Dasar sialan!” Aku menutup wajahku yang mulai kebas. Sebelum aku berteriak seperti orang gila, ada seseorang yang menepuk pundakku dan membawaku kembali ke alam sadar.

“Tolong kecap, mas,” ujarnya dengan nada ramah. Aku buru-buru mengambilkan kecap untuknya dan memberikannya. Syukurlah, ada yang membawaku kembali. “Terimaka… Sat… Satyo?!” Mataku melotot. Bagaimana ia tahu namaku? Dengan nyali yang tak seberapa, kupandang lawan bicaraku.

“Ijat?” ucapku lirih.

Iyo, ini aku. Aku lagi nunggu Piyan. Kamu ternyata gak lupa, toh? Kita dulu pernah janji ketemu buat sowan ke ndalem-nya Abah Yai.” Ujarnya. Aku sendiri masih terdiam, bingung mau merespon apa dan bagaimana. Ijat yang melihatku hanya terdiam menghembuskan napas pelan. “Satyo, kamu itu pergi kemana saja? Hari itu, kamu dipanggil Abah Yai sebagai santri terbaik angkatan kita. Tiba-tiba saja kamu pergi membuat gempar dan panik semua orang. Abah sedih sekali, Yo. Bahkan barang-barangmu ketika nyantri masih di loker yang sama. Gak ada yang berani mindah. Abah Yai sudah tahu apa masalahmu. Beliau berpesan kepada kami untuk mengajakmu sowan kemari. Kami hubungi nomormu, orang tuamu, bahkan kami juga mengirim email buatmu, semua cara kami coba, dan semuanya pun tidak ada yang kau buka, Yo. Syukurlah, jika kau masih mengingat janji kita,” lanjutnya.

“Aku pamit, Jat.” Terpaksa aku mengatakan ini. Janji kita dulu adalah sowan setelah masa ngabdi di tempat yang telah ditentukan Abah Yai selama tiga tahun. Sedangkan aku, malah kabur dan bersembunyi dalam jurang keputusasaan yang tak berujung.

“Pulang kamu! Tidak pantas kau berada di sini. Lihat sana di rumah. Tubuh ibumu sudah terbujur kaku. Anak tidak tahu diri!” Plakkk… Tamparan ketiga dan bogeman kelima. Tubuhku sudah lemas sekali. Dengan tertatih aku mengikuti sosok yang harusnya kupanggil ‘ayah’. Perjalanan yang harusnya tak terlalu jauh jadi terasa lama. Satu mobil dengan sosok menyeramkan ini lebih mengerikan daripada berada di dalam mobil ambulan bersama mayat ibu.

Ya, ibuku. Ia sudah pergi.

Sosok ayah yang harusnya menenangkanku malah terus menerus menyalahkan diriku atas kematiannya. Ia kemudian juga pergi, meninggalkanku seorang diri. Kembali pada dunianya sebagai seorang pemabuk. Sosoknya telah pergi dan tidak lagi membuatku sakit, namun ucapannya membekas di hati, dan terus-menerus mengikis kepercayaan diri ini.

Berkali-kali aku berpikir, bahwa ini bukan salahku. Namun, tetap saja. ibu meninggal karena kelelahan mencarikan aku biaya untuk menimba ilmu di pesantren. Banyak warga yang mengkhawatirkan keadaanku. Mereka bilang, itu bukan sepenuhnya salahku, acap kali ibu mendapat perlakuan kasar dari ayah. Lagi-lagi pikiranku bersuara. Tetap saja, jika memang itu yang terjadi, saat itu aku sedang menimba ilmu di pesantren. Sehingga tidak dapat menolong ibu. 

“Piyan sudah datang, Yo. Kita sowan dulu sebentar,” ujarnya yang kemudian menarik tanganku paksa sambil menyunggingkan senyum. Piyan juga sudah berdiri di sebelahku sambil tersenyum senang melihat kehadiranku.

Baca juga :  Menjemput Mimpi

Langkah kami terhenti menlihat Abah Yai sedang berdiri di mimbar memberikan cermah umum di masjid. Pengajian ini untuk umum, bukan hanya santri yang mengikuti tapi para warga sekitar pun turut hadir mendengarkan. Sembari menunggu Abah Yai selesai mengisi ceramah, kami ikut duduk mendengarkan. Toh, sudah lama kami tidak mendengarkan nesehat Beliau.

“Hadirnya seorang anak itu berkah bagi kedua orang tuanya. Tidak ada orang tua yang sepenuhnya membenci anaknya. Jikalau ada, pasti punya maksud tersendiri di balik semua sikapnya. Tugas kita sebagai anak cuma satu. Mencintai dan menghormati keduanya karena Allah. Loh, iya. Sampeyan semua ini mencintai orang tua sampeyan karena apa? Jangan jawab karena mereka yang sudah merawat dan menyanyangi kalian. Jangan! Sampeyan hormat dan cinta kepada orang tua sampeyan, ya karena Allah yang memberi perintah. Semua itu, atas dasar perintah dan rasa cinta kalian kepada Sang Pencipta. Semisal Allah tidak memberi perintah untuk birrul walidain, ya sudah. Itu bukan merupakan kewajiban.” Tutur Abah Yai.

Ceramah yang entah mengapa pas dengan apa yang ingin sekali kudengar. Sungguh, aku tak pernah bisa membenci ayah. Beliau adalah cintanya ibu. Selamanya aku tak akan bisa melampiaskan perasaan marahku kepadanya. Putus asa tanpa pendukung dan pembela, membuatku menutup diri. Merasa kehadiranku di dunia tak berguna dan hanya membawa malapetaka.

“Tidak, Ngger. Kelahiran seseorang sungguh bukan malapetaka. Tetaplah berprasangka baik kepada Tuhanmu. Ingat! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya doa ibumu sudah cukup untuk kesuksesanmu, Ngger. Kembalilah ke pesantren ini. Pesantren ini perlu ustaz  muda nan cerdas sepertimu. Istighfar yang banyak dan buka matamu lebih lebar lagi. Masih banyak yang bisa kamu lakukan untuk kemaslahatan umat, daripada menyesal dan menangisi diri terhadap prasangka yang kau bangun sendiri. Apapaun arti sosok ayah bagimu, tetap doakan dia. Bagiamanapun, hadirmu pun karena hadirnya. Maafkan dia dan rasakan senyum lebar ibumu melihat kelapangan hatimu dari surga sana.”

Abah Yai benar. Tidak seharusnya aku terjatuh dalam jurang keputusasaan. Nasehatnya setelah Beliau turun dari mimbar tadi, memberikan ketenangan luar biasa dalam hatiku. Abah Yai, memang guru sekaligus ayah kedua bagiku.

***

Langit mulai menjingga. Terik yang menyengat berganti dengan warna-warna indah yang berkolaborasi membentuk keagungan yang nyata. Sebagai bukti dan pembelajaran bagi seluruh umat atas kebesaran-Nya. Tiada kata yang patut diucap selain syukur. Tiada kata benci yang sirna selain dengan memaafkan. Tiada ketengan hati yang tumbuh selain dengan menerima.

“Ustaz Satyo, sudah ditunggu para santri untuk mengimami sholat maghrib berjamaah.”

Kini, aku sudah keluar dari gua gelap, pengap, nan bau itu. Sebentar lagi akan kusambut gemerlapnya bintang dan manisnya senyum si bulan di cakrawala sana.

Nabilatus Saadah, Mahasantri Darul Falah Besongo Angkatan 2021 dan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UIN Semarang

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *