Haruskah Santri Berpola Pikir dan Berperilaku Aswaja?

Haruskah Santri Berpola Pikir dan Berperilaku Aswaja?

Santri baru Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang melaksanakan serangkaian agenda TOS (Taaruf Orientasi Santri), Selasa 09/08/2022. Materi ‘Berpikir dan Berperilaku Aswaja’ disampaikan oleh Ustaz Luthfi Rahman.

Acara yang berlangsung dari pukul 19.30 – 21.00 WIB ini, dimoderatori oleh Khildah Athiyah. Bertempat di Madin Raudhatul Jannah Perumahan Bank Niaga. Topik ini sangat penting dan menarik bagi santri agar memiliki pola pikir dan karakter yang sesuai dengan Ahlussunnah wal jamaah.

“Ahlusunnah wal jamaah atau lebih dikenal dengan Aswaja adalah golongan yang mengikuti apa yang Rasulullah SAW dan sahabatnya lakukan,” Jelas Beliau

Beliau juga menjelaskan bahwa Walisongo sebagai tokoh penyebar Islam ahlusunnah wal jamaah di Nusantara, tidak hanya berperan sebagai pendakwah namun juga sebagai cultural broken. Karena mereka mampu menjembatani ajaran agama dengan budaya. Dosen FUHUM tersebut juga menjelaskan mengenai tiga prinsip yang ditempuh aswaja sehingga aswaja dapat hidup dan berkembang.

“Prinsip yang ditempuh aswaja adalah tawassut (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun membuat aswaja dapat hidup dan berkembang di wilayah mana saja dan mampu melebur dengan budaya sehingga dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Disebutkan Al Islamu shalihun li kulli zaman wal makan, Islam itu senantiasa cocok dengan zaman dan tempatnya,” Ujar Beliau

Bagaimana Santri Ber-Aswaja?

Selain itu, kehadiran golongan ini juga tidak menolak apalagi menafikan budaya dan tradisi yang sudah berkembang selagi tidak menentang syariat dan orang yang memiliki karakter aswaja tidak akan mudah mengkafirkan orang yang berbeda pendapat. Aswaja juga mengibaratkan agama dan nasionalisme sebagai dua sisi uang yang saling mendukung, hubbul wathon minal iman.

“Bukan hanya sebagai pandangan keagamaan, namun lebih dari itu aswaja merupakan pandangan hidup (way of life). Aswaja adalah cara berpikir dan bergerak dalam menyikapi persoalan. Maka seorang muslim harus bisa memberikan pencerahan dan keteduhan bagi yang lain,” tambahnya.

Ustaz Luthfi juga memaparkan jargon beliau, “Santri adalah gabungan dari dua kata ‘sun’ matahari dan ‘tree’ pohon yang artinya santri harus bisa memberikan keteduhan dan kemanfaatan bagi orang lain.”

Sebagai Santri hendaknya harusnya memberikan kemanfaatan serta keteduhan untuk sekitar, dari pemaparan Ustadz Luthfi mengenai aswaja, berpola pikir dan berperilaku aswaja adalah salah satu cara agar bisa menjadi santri yang bisa menyebarkan kemaslahatan untuk semua makhluk.

 

Reporter : Aliya Ramadhani A.

Editor : Fiya Faridatul A.

Tinggalkan Balasan