Be-songo.or.id

Hj Arikhah Jelaskan Keadaan Perempuan Sebelum Islam Datang

Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Wilayah Nahdlatul Ulama (RMI PWNU) Jawa Tengah Bidang Keputrian adakan halal bihalal dengan Pengasuh Pondok Pesantren Putri se-Jawa Tengah yang bertempat di Balai Sasana Widya Praja (SWP) Badan Diklat Provinsi Jateng, Banyumanik, Semarang, Senin (29/5/2023).

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, Kota Semarang Nyai Arikhah mengatakan, penyebutan perempuan dalam Al-Qur’an banyak sekali. Beliau mengutip pendapat Syekh Mahmud Syaltut bahwa, penghargaan Allah SWT kepada para perempuan salah satunya adalah diberikannya salah satu nama surat dalam Al-Qur’an yaitu An-Nisa’.

“Di dalam Al-Qur’an banyak disebutkan tentang perempuan itu dilambangkan dengan pemakaian ta’ marbutoh,” ucapnya.

Menurut Prof Quraish Shihab, lanjut beliau, ketika membincang tentang bagaimana Islam itu membicarakan tentang perempuan dan anak dalam Al-Qur’an, itu tidak bisa lepas dari sejarah sebelum Islam datang.

“Kita melihat bagaimana perempuan sebelum Islam datang itu diruang publik terdapat penguburan bayi perempuan hidup-hidup,” ujar Arikhah yang juga Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.

Kemudian, banyak perempuan itu dilacurkan, karena digunakan sebagai jaminan hutang. Yang hutang suaminya, yang dipakai untuk membayar adalah badan istrinya.

Selain itu, perempuan juga bisa dihadiahkan, dijadikan jaminan hutang, bisa diwariskan, bahkan tidak mempunyai nilai dalam persaksian. Lalu, di ruang privat para perempuan dalam kuasa ijbar walinya, bisa dinikahkan kapan saja bahkan sebelum haid.

Bahkan, sebelum haid bisa jadi pernah menikah sekaligus pernah dicerai. Di ruang privat perempuan bisa dijadikan mahar, bisa dipoligami tanpa batas, dan bisa dicerai rujuk tanpa batas.

“Sehingga, status perempuan sebelum datang itu kadang-kadang dipertanyakan. Sebenarnya perempuan itu manusia atau bukan?,” tanyanya.

Kemudian, juga berkembang ruhnya kekal atau tidak, bisa dapat ganjaran atau tidak, bisa masuk surga atau tidak.

“Ini pertanyaan yang membuntuti kenyataan perempuan di zaman jahiliyah,” tambahnya.

Lalu, bagaimana respon Islam?

Islam datang membawa rahmat tidak hanya kepada manusia, tetapi kepada seluruh alam. Sehingga, tidak ada yang ketika lahir lebih utama dibandingkan jenis kelamin lainnya.

“Jadi, ketika di masa jahiliyah bayi perempuan dikubur hidup-hidup, Islam melarang. Di dalam Islam perempuan mendapatkan mahar, bukan dijadikan mahar. Dulu perempuan diwariskan, kemudian Islam datang, perempuan menjadi ahli waris,” pungkasnya.

Oleh: Zida Haniatus Syifa (Santriwati Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang dan Mahasiswi UIN Walisongo Semarang)

Editor: M. Raif Al Abrar