Kajian Tafsir: Doa sebagai Ekspresi Keagungan dan Penghambaan

Kajian Tafsir oleh Abah Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M.Ag.

besongo.or.id – Doa itu bentuk kesadaran, pengetahuan serta keyakinan kita terhadap Keagungan dan bimbingan Allah. Juga sebagai ekspresi penghambaan, pengakuan diri kita sebagai hamba yang rendah dan dhoif.

Jadi, inti dari doa itu bagaimana kita bisa memosisikan diri kita sebagai hamba yang lemah dan kepada siapa kita menghadap. Selain itu, kita juga harus memperhatikan apakah yang kita minta itu maslahat dan bermanfaat.

Maka dari itu, ungkapan kerendahan hati dalam doa itu menjadi kunci terkabulnya doa. Dan yang biasa kita lakukan adalah dengan mengucapkan istighfar sebelum berdoa kepada Allah.

Ungkapan tersebut disampaikan oleh KH. Imam Taufiq pada Kajian Tafsir Pondok Pesantren Darul Falah (Dafa) Besongo Semarang, Sabtu (1/1/2022) di Masjid Roudlotul Jannah dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube PP. Dafa Besongo.

Kajian tersebut mengawali kegiatan santri Dafa di tahun 2022, bagi santri yang masih di pondok selama liburan, Sekaligus menjadi ajang muhasabah dan introspeksi diri agar tidak terlalu berlebihan dalam mengselebrasikan kemeriahan tahun baru.

“Salah satu ekspresi tidak berlebihan dalam menyambut tahun baru ini adalah dengan bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang dikarunikan-Nya,” ungkap Beliau mengingatkan.

Abah Imam Taufiq juga menambahkan, bahwa doa ini juga sebagai ekspresi cinta kita kepada Allah dengan mengagungkan dan mensyukuri nikmat yang kita beroleh. Tapi tidak sedikit dari kita hanya berdoa ketika kita butuh saja. Dan dari sini muncul orang-orang yang kurang serius dalam berdoa.

“Allah itu tahu serius atau tidakkah kita dalam berdoa, sebagaimana orang tua yang juga tahu serius atau tidak anaknya saat meminta kepadanya. Bahkan Allah tahu segala sesuatu yang ada dalam diri setiap makhluk-Nya,” tambah Beliau.

Baca juga :  Lomba Qirro'atul Kutub Sebagai Bentuk Evaluasi Santri

Etika Berdoa Menurut Imam Ghazali

Maka Firman Allah “ud’uni astajib lakum” (baca: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu) dalam QS. Al-Ghafir ayat 60 di sini tidak hanya sebatas berdoa saja, lantas apa yang kita minta pasti terkabul. Tapi ada syarat-syarat dan etika yang harus dipenuhi.

Mengutip dari perkataan Imam Ghazali, Abah Imam mengungkapkan, dalam berdoa pilihlah waktu yang baik, atau waktu-waktu mustajabah. Seperti misalnya pada hari Arafah, hari Jumat, sepertiga malam terakhir, waktu di antara dua khotbah dan sebagainya.

“Maka selalu gunakan waktu-waktu yang baik itu untuk beribadah dan berdoa. Seperti waktu antara magrib dan isya. Dan salah satu amalan di waktu itu adalah dengan membaca Surah Al-Insyirah untuk mempermudah segala urusan kita.”

Menghadap kiblat, dan mengangkat tangan juga menjadi etika dalam berdoa. Karena dengan menengadahkan tangan, kita mengisyaratkan bahwa kita sangat butuh pertolongan dari Allah. Juga berdoalah dengan suara yang lirih sebagai bentuk sopan santun kita kepada Allah.

Apabila semua hak-hak Allah sudah kita penuhi maka kata Allah “Siapa orang yang sibuk mengingat-Ku, Aku akan memberikan suatu yang utama seperti orang-orang yang meminta.”

Reporter: Imam Mawardi

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *