Berita

PSB

Ketua PCNU Semarang Jelaskan Keistimewaan Bulan Rajab

Nama bulan dalam Al-Qur’an ada 12 yang salah satunya yakni bulan Rajab. Pada bulan ini memiliki banyak keistimewaan. Yang pertama nikahnya ibu dan ayahnya Rasulullah Saw, yakni Siti Aminah dan Sayyid Abdullah.

“Kedua, benih orang paling hebat di dunia telah muncul di dalam perut ibu Siti Aminah, yakni Nabi Muhammad Saw. Ketiga, doa bulan Rajab yang mulia,” ujar Kiai Anashom Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.

Hal itu disampaikan dalam Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw. yang bertajuk “Isra’ Mi’raj Sebagai Refleksi Membangun Masyarakat Unggul dan Berdaya” yang dihelat Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, Kota Semarang di Masjid Raudlatul Jannah, Senin (20/02/2023).

Disampaikan, adanya bulan Rajab ini mengingatkan bahwasanya akan masuk pada bulan mulia yakni, bulan Ramadhan. Selain itu, Peristiwa Isra’ Mi’raj juga terjadi pada bulan ini.

“Ketika Isra’ dari Masjidil Haram, Nabi Muhammad tidak langsung ke Masjidil Aqsa. Suatu riwayat mengatakan beliau wisata religi dulu yakni yang pertama ke Yatsrib (Madinah). Kemudian, sebelum ke Baitul Maqdis beliau ke Gunung Tursina, tempat Nabi Musa menerima wahyu,” tutur Kiai Anashom yang juga Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Kota Semarang.

“Lalu, Nabi Muhammad menuju Kota Madyan, Kota Nabi Syuaib. Lanjut ke Baitul Lahm, tempat lahir Nabi Isa AS. Kemudian, sampai di Masjidil Aqsa beliau menunaikan salat berjamaah bersama Malaikat Jibril, para Nabi dan Rasul terdahulu,” tambahnya.

Dikatakan, terdapat peristiwa yang menggugah dari sisi tauhid, yaitu ketika Rasulullah Saw sudah kembali dan bercerita kepada masyarakat bahwa tidak sampai satu malam beliau melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj.

“Akan tetapi tidak ada yang percaya karena perjalanan sejauh itu tidak dapat ditempuh dalam waktu tidak sampai satu malam, akan tetapi Abu Bakar yang percaya akan peristiwa tersebut. Abu Bakar mengatakan bahwa apapun yang disampaikan Rasulullah Saw. bahkan lebih dari itu saya percaya,” jelasnya.

Lanjut beliau, keyakinan Abu Bakar dapat dijadikan contoh untuk kita bahwa sebagai umat Rasulullah harus selalu meyakini tingkah laku beliau.

Reporter: Mir’atus Sholihah (Santriwati Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang dan Mahasiswi UIN Walisongo Semarang)