Be-songo.or.id

Memetik Hikmah Kisah Perjalanan Nabi Musa dan Nabi Khidir

Salah satu nabi yang memiliki anugerah tubuh kuat dan gagah adalah Nabi Musa a.s. Beliau berasal dari kaum Bani Israel dan merupakan keturunan dari Nabi Yakub dan Nabi Ishaq. Allah SWT mewahyukan kitab Taurat kepada Nabi Musa a.s. di Bukit Tursina untuk membimbing Bani Israel.

Ada kisah Nabi Musa yang luar biasa, menarik dan banyak hikmah yang dapat dipetik dalam kisah tersebut. Salah satunnya adalah kisah pertemuan Nabi Musa a.s. dengan Nabi Khidir. Allah menceritakannya dalam Al-Qur’an, lebih tepatnya terdapat dalam surat Al-Kahfi ayat 60-82.

Dalam hadits Riwayat Al-Bukhari, Ubay bin Ka’ab berkata ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Suatu Ketika, Nabi Musa a.s berkhutbah di depan kaum Bani Israil, lalu ia ditanya ‘Wahai utusan Allah, apakah di atas muka bumi ini ada yang lebih berilmu dari dirimu?’. Nabi Musa menjawab, “Tidak ada”. Maka Allah SWT menegur beliau karena tidak menyatakan bahwa yang paling tahu hanya Allah.

Baca Juga: Istighfar, Perintah Allah yang Dicontohkan Rasulullah

Allah SWT mewahyukan kepada Musa ; “Hai Musa, sesungguhnya ada seorang hambaku yang lebih banyak ilmunya dan lebih pandai darimu dan ia sekarang berada di pertemuan dua lautan.” Nabi Musa bertanya dengan rasa penasaran; “ Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa bertemu dengan hamba-Mu itu?”. Dijawab ; “ Bawalah seekor ikan yang kamu masukkan ke dalam suatu tempat, di mana ikan itu menghilang maka di situlah hamba-Ku berada”. Hamba yang dimaksudkan di sini tak lain adalah Nabi Khidir a.s.

Kemudian Nabi Musa pergi bersama muridnya yang bernama Yusya’ bin Nun. Keduanya membawa ikan tersebut dan berhenti di sebuah batu besar. Yusya’ bin Nun menyaksikan bahwa ikan yang dibawanya bergerak hingga akhirnya masuk ke dalam lautan, maka Allah menahan aliran air, hingga seakan-akan bekas lewatnya ikan seperti di batu. Sementara Nabi Musa sedang tertidur, akan tetapi sang murid tidak membangunkan Nabi Musa a.s. Namun tatkala Nabi Musa a.s bangun dari tidurnya muridnya lupa untuk menyampaikan peristiwa aneh tersebut. Peristiwa ini disebutkan dalam surat Al-Kahfi ayat : 61. Allah SWT berfirman :

فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا

Artinya : “Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu” (QS Al-Kahfi : 61)

Baca Juga: Ngaji Konflik: Beda itu Indah

Keduanya melanjutkan perjalanannya lebih jauh lagi. Pada pagi harinya Nabi Musa berkata meminta bekal makanan kepada muridnya, dan keduanya merasa sangat letih. Allah menjadikan keduanya letih dan lapar karena keduanya telah melewati lokasi yang seharusnya mereka berhenti. Kemudian, muridnya berkata kepada Nabi Musa bahwa ia lupa menceritakan tentang ikan yang melompat dan mengambil jalannya ke laut dan setan yang membuatnya lupa. Nabi Musa dan Yusya’ bin Nun berjalan kembali ke tempat hilangnya ikan tersebut dan bertemulah keduanya dengan Nabi Khidir, karena  sebelumnya Allah telah mengabarkan bahwa jika Nabi Musa telah kehilangan ikan tersebut, maka beliau akan bertemu dengan Nabi Khidir.

Nabi Musa pun memperkenalkan diri seraya menjelaskan tujuan beliau menemui Nabi Khidir adalah untuk mempelajari sebuah ilmu. Kemudian Nabi Musa meminta Izin untuk mendampingi dan mengikuti Nabi Khidir seraya bertanya, “ Bolehkah aku mengikutimu agar kamu dapat mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah di ajarkan kepadamu?”. Nabi Khidir pun menjawab : “ Sesungguhnya kamu sekali-kali kamu tidak akan sanggup dan sabar bersamaku. Bagaimana kamu bisa sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”. Nabi Musa berkata “InsyaAllah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam satu urusan pun”. Nabi Khidir pun menjawab “jika kamu tetap mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan sesuatu hingga aku sendiri yang akan menerangkanya kepadamu”.

Keduanya pun berjalan menyusuri pantai hingga keduanya mendapati sebuah perahu. Untungnya para awak kapal mengenali Nabi Khidir dan keduanya diberikan tumpangan tanpa harus membayar upah. Saat keduanya sedang berada di dalam kapal, Nabi Musa merasa heran karena meliat Nabi Khidir melubangi perahu. Nabi Musa pun bertanya, “ Mengapa engkau melubangi perahu itu yang akibatnya akan menenggelamkan penumpangnya?”. Nabi Khidir menjawab, “Bukankah telah aku katakan kepadamu bahwa kamu sekali-kali tidak akan sabar bersamaku”. Nabi Musa berkata sambal merayu, “Janganlah kamu menghukum diriku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani diriku dengan suatu kesulitan dalam urusanku.”

Setelah keduanya meninggalkan laut, keduanya kembali berjalan hingga melewati seorang anak kecil yang tengah bermain. Lalu, Nabi Khidir mengambil dan membunuh anak kecil tersebut, dengan rasa penasaran dan heran, Nabi Musa bertanya, “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih? Padahal dia tidak membunuh suatu jiwa. Sungguh engkau telah berbuat suatu kemungkaran.” Nabi Khidir pun menjawab dengan jawaban yang sama, “Sungguh engkau sekali-kali tidak akan mampu sabar bersamaku.”

Keduanya melanjutkan perjalanan hingga sampai di penduduk suatu negeri. Keduanya minta dijamu, tetapi karena penduduk tersebut terkenal akan kekikirannya, maka keduanya tidak dijamu oleh penduduk tersebut. Kemudian keduanya mendapati sebuah rumah yang hampir roboh, maka Nabi Khidir pun menegakkan bangunan rumah itu. Di sinilah Nabi Musa memilih untuk berpisah dengan Nabi Khidir, hal ini ditunjukan dalam pertanyaan Nabi Musa tentang mengapa Nabi Khidir mau memperbaiki rumah yang hampir roboh tanpa meminta imbalan sedikit pun, padahal dari mereka tidak ada yang mau menjamu keduanya. Nabi Khidir pun berkata, “Inilah perpisahan antara aku dan kamu. Aku akan memberitahumu tentang rahasia segala perbuatan yang dirimu tidak sabar padanya.”

“Adapun Perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku merusak perahu itu karena di hadapan mereka ada seorang raja jahat yang merampas setiap perahu.” Jadi, Nabi Khidir melubangi perahu tersebut guna menghindarkan dari perampasan raja yang dzalim, jika perahu ada sedikit kecacatan maka raja tidak akan mengambil atau merampas perahu tersebut.

Baca Juga: Ustadz Tajudin Jelaskan Rahasia Penciptaan Manusia dalam Surat Shad

“Adapun anak kecil itu, kedua orang tuanya adalah orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya dalam kesesatan dan kekafiran. Maka, kami menghendaki bahwa Tuhan akan menggantinya dengan anak yang lebih baik kesucianya dan lebih kasih sayangnya kepada kedua orang tuanya.”  Maksudnya kelak anak ini adalah anak yang nakal. Dikhawatirkan kedua orang tuanya akan terjerumus ke dalam kekufuran karena menuruti anak ini.

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota tersebut, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayah mereka berdua adalah orang yang saleh. Maka, Tuhan menghendaki agar mereka mencapai usia dewasa dan mengeluarkan simpananya itu sebagai rahmat dari tuhanmu.” Nabi Khidir juga menjelaskan kepada Nabi Musa bahwa beliau melakukan semua perbuatan ini bukan karena kemauanya sendiri. Melainkan adalah atas perintah dari Allah SWT.  

Oleh: Ema Magfiroh (Santriwati Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang dan Mahasiswi UIN Walisongo Semarang)