Kajian Tafsir; Menata Diri di Bulan Suci Ramadan

KH. Imam Taufiq menyampaikan Kajian Tafsir/ dokumen istimewa

Besongo.or.id – Ramadan menjadi bulan yang tepat untuk memperbaiki diri. Salah satunya dengan memahami kajian keislaman. Sabtu (8/8/2021), Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Falah Besongo Semarang adakan Pengajian Tafsir yang diikuti beberapa santri dan warga Perumahan Bank Niaga.

Ramadan merupakan bulan yang tepat untuk berbenah diri dan memaknai kehidupan dengan amalan kebaikan, terlebih mengingat keutamaan sepuluh hari terakhir bulan Ramadan yang begitu mulia karena adanya malam Lailatul Qadar.

Di dalam kitab I’anatut Thalibin bab Puasa bahwa jika awal puasa jatuh pada Selasa atau Jumat, maka terdapat kemungkinan Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27. Lain halnya pada Surat Ar Rum [30] ayat 30 yang berkenaan dengan semangat menjemput Idul Fitri sebagai berikut :

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

Artinya : “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Kemuliaan Ramadan seharusnya dimaknai dengan adanya peningkatan ibadah dan kebaikan dengan meluruskan niat semata karena Allah. Sama halnya dengan Nabi Ibrahim yang mendapatkan gelar “Hanif” atau Khalilullah, berkat semangat dalam meluruskan umatnya.

Pada mulanya umat yang menyembah berhala, namun Nabi Ibrahim hancurkan sesembahan mereka menggunakan kapak. Atas yang dilakukannya tersebut, beliau mendapatkan hukuman dari Raja Namrud; dibakar hidup-hidup. Tetapi Nabi Ibrahim tidak terluka sedikitpun, hal tersebut juga menjadi mukjizat yang diberikan Allah SWT.

Dewasa ini, aktualisasi peribadatan kita dalam hal apapun harus hanif (lurus). “Karena pada hakikatnya penciptaan manusia oleh Allah itu fitrahnya tidak pernah berubah. Kata fitrah sendiri memiliki banyak makna,” Tutur Pengasuh Besongo tersebut.

Baca juga :  Santri Pinter Ngaji dan Berteknologi

Fitrah berasal dari kata فطر berarti menciptakan. Sedangkan derivasi dari kata tersebut berkembang pada kalimah فُطُوْر berarti berbuka, bisa juga dimaknai dengan sarapan, suci, atau suci dari unsur bawaan seperti bayi yang lahir ke dunia.

“Jika membincang dari segi agama, segala aktivitas manusia itu selaras dan khusyuk kepada Allah SWT, salah satunya yakni berbasis fitrah manusia,” Tegas KH. Imam Taufiq.

Aktivitas di bulan Ramadan memberikan multi effect baik bagi diri sendiri maupun sekitarnya. Seperti pembiasaan bangun pagi untuk sahur yang memberikan keberkahan, terbiasa membaca ayat suci Al-Quran (tadarus), shodaqoh, serta bisa mengontrol diri (self-control).

Puasa tidak hanya menahan haus dan lapar, melainkan melatih seluruh panca indra berpuasa dari hal-hal yang tidak bermanfaat.

“Dengan meniatkan segala hal dengan ikhlas, khusyuk, yakin (tidak ragu) dan semata hanya kepada Allah untuk terus memperbaiki,” Tutupnya.

Dikutip dari Pengajian Tafsir K.H. Imam Taufiq pada Sabtu (8/8/2021). Selengkapnya cek Youtube PP Dafa Besongo

Reporter          : Mafriha Azida

Editor              : Ati Auliyaur Rohmah

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *