Menjemput Hari Fitri dengan Pribadi yang Fitri

Menjemput Hari Fitri dengan Pribadi yang Fitri

Alhamdulillah, sampailah kita di akhir bulan yang insyaallah merupakan salah satu bentuk rahmat dan kasih Allah kepada kita, aaamiin. Menuju momen yang fitri, maka sambutlah juga dengan pribadi yang fitri (suci). Momen yang sejatinya akan didapatkan dan dinikmati oleh setiap orang bertakwa. Orang yang mampu mengalahkan hawa nafsu, serta mengekangnya selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Dan bahkan mampu me-langgeng-kannya (Jawa: melanjutkan) secara konsisten usai perginya bulan Ramadhan.

Bulan Ramadan adalah sarana latihan untuk melakukan beragam ibadah yang bisa jadi selama ini sulit kita lakukan. Kebiasaan baik tersebut harus mampu di-istiqomah-kan di luar bulan Ramadhan untuk mendapatkan Ridho Allah SWT. Hal ini mungkin bisa di awali dengan melanjutkan puasa syawal selama 6 hari di bulan Syawal. Ada baiknya kita lanjutkan dengan puasa sunnah lainnya seperti puasa Senin-Kamis, serta hal-hal baik lainnya.

Esensi Ramadhan sebagai momentum dalam memproses diri menjadi pribadi yang fitri. Hal itu bisa dilakukan dengan memaksimalkan produktivitas diri. Juga dalam rangka memperbaiki diri, yang itu itu merupakan hal wajib yang harus ada dalam diri seorang manusia. Hal ini diungkapkan oleh Imam al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin bahwa maksud dari berpuasa itu adalah “التخلق بخلق” (saat-saat bagi kita memperbaiki kualitas diri). Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum tapi juga mengekang diri dari hawa nafsu yang membelenggu manusia.

إمساك عن الشهوة النفس أي في أكل وشرب وغضب وغيره

Karena, musuh terberat bagi manusia itu sejatinya adalah dirinya sendiri. Ketika ia mampu menahan diri, maka ia akan mudah mengalahkan yang lainnya. Bahkan Rasulullah pun juga bersabda bahwa jihad yang paling besar itu adalah jihad melawan diri sendiri. Hawa nafsu ini sejatinya merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dan memang harus ada di dalam diri manusia. Namun kita harus mampu mengontrolnya karena nafsu ini bagaikan pisau bermata dua. Serupa dengan dikatakan Imam Syafi’i:

من استب فلم يغضب، فهو حمار,ومن استرضي فلم يرضى فهو شيطان

Sejalan dengan makna ini ada sebuah hadits di mana Rasulullah SAW bersabda “Lima hal ini bisa membuat puasa seseorang tidak sah: berbohong, menggunjing, mengadu domba, sumpah palsu, dan melihat dengan syahwat”. Tidak satu pun dari lima hal ini menunjukkan perilaku makan, minum, atau berhubungan suami istri. Namun mengapa kelimanya bisa membuat puasa seseorang tidak sah? Ini tentu berkaitan dengan makna sah itu sendiri; terwujudnya maksud puasa, untuk berakhlak mulia, dalam diri sang sa’im (orang yang berpuasa).

Baca juga :  Ekalaya dalam Spirit Santri

Quraish Shihab, dalam bukunya yang berjudul ‘Membumikan Al-Quran’ mengatakan. “Setiap yang beridul fitri harus sadar bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan. Dan dari kesadarannya itu, ia bersedia untuk memberi dan menerima maaf.” Makna ini, menurut beliau merupakan gabungan dari tiga unsur, yakni benar, baik, dan indah. Karenanya, Idul Fitri menjadi momentum bagi setiap Muslim untuk berbuat benar, baik, dan indah sebagai bentuk kembali kepada kesuciannya. Dengan kesucian jiwa, seseorang dapat memandang segalanya dengan penglihatan yang positif dan dia akan selalu berusaha mencari sisi-sisi yang baik, benar, dan indah. Idul Fitri adalah sebuah momentum untuk berintrospeksi diri. Setelah sebulan penuh digembleng dengan puasa dan rangkaian ibadah yang menyertainya, Idul Fitri idealnya harus menjadikan kita terlahir kembali sebagai manusia paripurna tanpa berlumur dosa. Mulai dari nol, saatnya kembali menyelaraskan kesalehan ritual dengan kesalehan sosial.

Mari kita jadikan momen idul fitri kali ini sebagai sarana mencapai kondisi fitri secara horizontal (hablumminannas) dan vertikal (hablumminallah) dari yang telah kita jalani selama bulan suci Ramadhan. Dan saat momen idul fitri itulah nantinya manusia yang bertaqwa dan mampu mengalahkan hawa nafsu serta mengekangnya, akan kembali ke fitrah-nya selain sebagai seorang hamba yang taat dan dekat kepada Tuhannya, tapi juga sebagai makhluk sosial yang humanis atau memiliki rasa kasih sayang kepada sesama. Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin ilal fithrah wal faizin bil Jannah.

Ulis Syifa Muhammadun, Mahasantri PP Darul Falah Besongo 2019 juga Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir

One thought on “Menjemput Hari Fitri dengan Pribadi yang Fitri

Tinggalkan Balasan