Nasi Kotak saat Konservasi, Tidak Ada Odading Lagi

Nasi Kotak saat Konservasi, Tidak Ada Odading Lagi

Pendistribusian Konsumsi saat Konservasi Santri Besongo di Perumahan Bank Niaga (foto/Besongo Online)

Besongo.or.id – Semarang, Sabtu fajar kemarin (3/12/2021) matahari bersaing dengan tebalnya mendung. Angin berhembus pelan, namun cukup untuk menerbangkan aroma sedap masakan santri putri yang bertugas memasak di kediaman pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah (Dafa) Besongo Semarang.

Pasalnya, masakan tersebut adalah konsumsi bagi santri yang pagi itu melakukan konservasi di perumahan bank niaga, Desa Tambakaji, Ngaliyan, Semarang. Tanah yang merupakan tempat bagi para santri untuk bermukim sekaligus mengaji dan mengabdikan diri pada masyarakat dan kyai. Dengan memakai seragam olahraga khas besongo berwarna abu-abu berpadu warna biru muda, santri dengan telaten membersihkan, memungut serta mencabut setiap sampah dan rerumputan di masing-masing pembagian tempat yang ditentukan.

Tidak ada lagi odading, gorengan atau jagung rebus yang biasanya jadi santapan santri saat konservasi. Menu santri saat konservasi pagi itu adalah nasi kotak dengan lauk urap , tempe, tahu, ikan asin, dan telur ayam rebus. Maskaan yang sebenarnya sudah digarap sejak Jumat, (4/11) pagi, dengan pembagian tugas yang sudah ditentukan dan dijadwal itu segera dirampungkan. Tim konsumsi yang terdiri dari pengurus divisi kebersihan dan beberapa santri, dikordinir langsung oleh Shofiyah, santri yang sudah menjadi abdi ndalem sejak tahun 2016.

Terlihat kepulan asap di atas panci rebusan daun bakal urap, tampak juga beberapa santri yang memotong telur-telur yang sudah direbus itu menjadi dua bagian, satu telur ayam rebus dibagi untuk dua santri. Beberapa santri lain terlihat sedang mengupas bawang, dan memotong-motong kacang panjang.

“Untuk nasinya sendiri dibuat di asrama santri yang sebelumnya sudah ditunjuk, seperti B9, B6, B13, dan A7. Jadi pas konservasi itu yah tinggal finishing bahan-bahan yang sudah disiapkan dari kemarin,” tutur Silviatuzzahro, salah satu santri yang bertugas masak di ndalem.

Melalui pesan chat WhatsApp santri yang kerap dipanggil Silvi itu juga menuturkan, jika dibandinkan biasanya, butuh usaha yang lebih untuk mencuci 200 kotak makan beragam warna yang tersusun di samping bak pencucian tersebut. Adapun kotak makan itu merupakan inventaris pondok tahun 2015, yang dulu biasanya dipakai untuk wadah nasi katering dari luar.

Baca juga :  Hari Kelima Pascalib: Healthy and Beauty Management

Dari proses tersebut, banyak pelajaran yang bisa diambil secara tersirat dari setiap gerak-gerik yang dicontohkan Umi Arikhah, Pengasuh Pesantren Besongo. Ketika santri berkacamata yang hobi memasak itu menusuk tempe dengan tusuk sate untuk kemudian disajikan dalam kotak nasi, ditegurlah oleh Umi Arikhah, “Mbak jangan gitu masukin tempenya, nanti lama,” sambil menasihati, terlihat dengan cekatan tangan Umi memasukkan tempe-tempe tersebut dengan garpu ke dalam kotak nasi.

“Jadi selain belajar memasak kita juga dituntut langsung untuk mengamati sekitar dan itu yang nantinya akan melatih kepekaan kita. Dan Umi ini teladan bagi kita. Selain memberi arahan, Beliau juga memberikan contoh langsung,” katanya kagum.

Bahan Masakan yang Berkhasiat

(dari atas: daun kenikir, daun bayam, kacang panjang)

Untuk urapnya sendiri itu terdiri dari daun singkong, daun bayam dan daun kenikir, yang mana ketiganya sangat bagus untuk kesehatan tubuh. “Utamanya daun kenikir, daun ini bisa mencegah kita terhindar dari penyakit kanker,” kisah Silvi kepada Besongo Online.

Menurut hasil bacaan saya dari laman popmama.com, hasil penelitian mengungkapkan bahwa daun tumbuhan yang juga dikenal dengan nama ulam raja ini mengandung zat artemisinin. Zat yang mampu membunuh sel kanker tanpa merusak sel lain yang ada di dalam tubuh.

Daun bayam. Selain juga dapat memperlambat pertumbuhan sel kanker juga memiliki antioksidan yang dapat memperkuat otot dan tulang. Oleh karena itu jika kalian pernah menonton kartun ‘Popeye Si Pelaut’ dulu dia bisa menjadi kuat setelah memakan bayam yang ada di dalam kaleng. Kadungan yang sama juga terdapat di dalam daun singkong.

“Uniknya itu ternyata parutan kelapa yang dibuat untuk urap adalah dari parutan kelapanya sisa bahan masakan, lalu kemudian dijadikan olehan untuk konservasi,” tambahnya.

Dari situ bisa diambil pelajaran agar kita bisa membaca situasi dan memanfaatkan apa yang ada disekitar kita agar tidak mubazir dan akhirnya terbuang sia-sia.

Reporter: Imam Mawardi

Editor: Qurrotun Ayun Wulandari

Tinggalkan Balasan