Ngaji Kebangsaan Bersama Habib dari Papua

Abah Imam Taufiq (tengah) kanannya Habib Idrus Al-Hamid berserta rombongan dari IAIN Fatahul Muluk Papua

Besongo.or.id-Semarang, Hubbul Wathon minal Iman demikianlah penggalaran lirik lagu Yalal Wathon yang diciptakan oleh KH. Wahab Chasbullah, untuk menambah kecintaan santri terhadap tanah air.

Untuk menguatkan kecintaan dan khidmah santri terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesai (NKRI), Pondok Pesantren Darul Falah (Dafa) Besongo Semarang menggelar Ngaji Kebangsaan bertajuk ‘Santri NKRI Berkhidmah untuk Negeri’ yang diisi oleh Prof. Dr. Habib Idrus Al-Hamid, M.SI.  didatangkan jauh dari wilayah paling timur Indonesia.

Malam itu, pada Senin (27\12\2021) dinginnya malam tidak menyurutkan semangat santri. Sehabis isya’, santri yang masih menetap di pondok berbondong-bondong pergi ke Masjid Raudhatul Jannah. Santri serta alumni yang berada di rumah juga  tidak mau ketinggalan untuk ngaji bersama Rektor IAIN Fatahul Muluk Papua tersebut, setelah sholat isya’ puluhan santri  turut serta memasuki ruang zoom meeting yang disediakan panitia.

Acara berlangsung dengan khidmat yang dibuka dengan beberapa sholawat dari Rebana El-Falah. Setelah itu, untuk menambah khidmatnya malam, Inarotul Laila salah satu santri Pondok Besongo melantunkan beberapa ayat Al-Qur’an dengan suara indahnya. Sebelum acara inti dimulai, Abah Imam Taufiq, Pengasuh Pondok Pesatren Darul Falah Besongo memberi sedikit wejangan untuk santri.

Dalam sambutannya, Rektor UIN Walisongo tersebut menyampaikan bahwa seorang santri tidak dapat diragukan lagi komitmennya untuk bangsa dan negara. Sudah dibuktikan para ulama terdahulu, ulama-ulama salaf yang mendedikasikan ilmunya untuk mengabdi kepada negeri. Contohnya bisa dilihat dari KH Hasyim Asy’ari, salah satu ulama yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Demi mempertahankan Bangsa Indonesia salah satu kontribusi besar KH Hasyim Asy’ari adalah menyatukan dua kubu yang berseteru untuk menentukan dasar Negara Indonesia yang baru lahir. Atas jasanya itu, beliau ditetapkan sebagai Pahlawan nasional. Selain itu, Abah Imam Taufiq juga menyoroti masalah-masalah yang ada di Indonesia, menurutnya Indonesia bukan negara yang tanpa masalah, justru Indonesia mempunyai masalah yang komplek.

“Indonesia bukan negara tanpa masalah, masalah di negara ini banyak salah satunya adalah menipisnya semangat kebangsaan dan nasionalisme,” ujar ulama yang malam itu mengenakan baju dan peci putih khasnya.

Di akhir sambutannya Abah Imam Taufiq menyampaikan harapan agar seorang santri tidak kehilangan semangat nasionalisme untuk membela negara.

Setelah sambutan dari Abah Imam Taufiq acara inti yang ditunggu oleh puluhan santri  tiba. Di tengah malam yang dingin mereka dengan antusias mendengarkan kata demi kata yang disampaikan oleh Prof. Dr. Habib Idrus Al-Hamid, M.SI.

Cinta Negara dan Islam di Papua

Habib Idrus menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang pertama kali mengajarkan cinta tanah air. Dalam kajiannya, Rektor IAIN Fatahul Muluk Papua itu menceritakan kehidupannya di Papua tentang ekonomi dan budaya. Tidak bisa disangkal bahwa Indonesia merupakan negara yang mejemuk didalamnya terdapat beraneka macam budaya dan agama, namun itu bukanlah halangan untuk saling menghoramati dan menghargai. Salah satu penerapan kecintaan terhadap tanah air adalah dengan menjaga kerukunan terhadap sesama penduduk negri.

Habib Idrus juga menjelaskan sebuah sabda Rasulullah kepada sahabat yang pada waktu itu bertanya bagaimana cara menjadi seorang muslim yang baik. Dalam sabdanya Rasullullah menjelaskan bahwa muslim yang baik adalah Islam yang memberi makan dan menyebarkan salam.

“Makan disini bukan hanya berbentuk makanan sehari-hari saja, namun yang dimaksud dengan makan adalah ilmu,” terangnya kepada santri Dafa.

Beliau menyeru agar sesama muslim saling bertukar ilmu sesuai dengan sabda Nabi. Dengan Ilmu Allah akan mengangkat derajat manusia melebihi malaikat. Selain dengan ilmu, sebagai seorang muslim hendaknya memupuk iman, karena menurut beliau  seseorang yang beriman akan masuk dalam zona aman.

Tidak cukup sampai di situ, Habib Idrus juga menjelaskan tentang teks Al-Qur’an yang bisa dibuktikan, salah satunya adalah perintah untuk perempuan untuk menutup auratnya yang terdapat dalam surah Al-ahzab.

“Jilbab itu perisai, bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari ketika seorang menutup auratnya, maka ia akan terhindar dari berbagai macam pelecahan,”jelasnya.

Di akhir kajiannya Habib Idrus menyeru agar santri membuat karya monumental sebagai bentuk kecintaan terhadap tanah air.

Kajian Kebangsaan berakhir dengan ditutup dengan beberapa sholawat yang dibawakan oleh Tim Rebana El-Falah.

Reporter: Fiya Faridatul Afidah

Tinggalkan Balasan