Omid Safi: Tasawuf dan Humanisme

https://twitter.com/ostadjaan?s=09

Sebuah wacana pembaharuan Islam dengan barat seolah tak ada habisnya untuk dibahas. Hal tersebut sangat mewarnai perkembangan sejarah dunia dan tak jarang membuat isu yang memanas misalnya pada  tragedi 9/11 dimana terjadi serangan bunuh diri di New York dan Washington.

Adanya tragedi  seperti di New York dan Washington membawa pengaruh yang signifikan, seperti stigma-stigma negatif dari barat terhadap sesuatu yang berbau Islam. Beberapa asumsi mulai muncul, menyatakan bahwa Islam sangat berkaitan dengan hal-hal terorisme dan liberalisme.

Konflik tersebut menjadi titik awal lahirnya kelompok-kelompok Islam dengan berbagai macam ideologi seperti kelompok tradisionalis, liberalis, ekstrimis, dan lain sebagainya. Pada saat itu juga, muncul suatu kelompok unik dan mereka menamainya dengan sebutan “Muslim Progresif” yang digagas oleh seorang cendekiawan muslim terkenal, Omid Safi.

Menurut Subhan, Omid Safi adalah seseorang yang berkewarganegaraan Amerika yang berasal dari keturunan Iran. Safi merupakan seorang profesor di Duke University. Tidak hanya itu, Safi juga menjadi anggota Steering Commite yang berfokus dalam studi Islam yang bertempat di American Academy Of  Religion. Safi mempunyai peran yang sangat penting dalam hal pergerakan kelompoknya yang bernama “Muslim Progresif”.

Mufti dan Nursyahidin menjelaskan bahwa muslim progresif merupakan konsep yang mengatur kehendak masyarakat di ruang terbuka. Hal tersebut berkaitan dengan kebebasan yang dianut oleh Omid Safi, yakni menegakkan keadilan sosial (social justice), membangun kesetaraan gender (gender equality), dan menerima pluralitas dalam masyarakat.

Penjelasan mengenai gagasannya, Omid Safi sangat memegang prinsip humanisme dan sufisme. Keduanya menjadi sumber utama dalam tiap opininya. Humanisme islam menjadi dasar filosofi dan sufisme menjadi lorong dalam menjalani hidup. (Subhan, 2017)

Dijelaskan dalam karya Omid safi “A Muslim Spiritual Progressive Perspective on Palestine/Israel: (with a dash of Obama)” , dijelaskan sistem ketidakadilan dalam bingkai sejarah Palestina. Palestina diusir dari daerahnya sendiri oleh adanya negara bentukan berupa Israel. Dikatakan bahwa sejak pada 1948 ketika Israel menduduki Palestina, terjadi perubahan besar di negara tersebut. Sebanyak 750.000 orang-orang Palestina mendapatkan kekerasan dari adanya pendirian negara Israel itu. Orang-orang Palestian terusir dari tanah air mereka sendiri (homeland). Lalu orang-orang Israel menduduki tanah Palestina. Kalau pun ada orang Palestina di negaranya, itu tidak banyak dan menjadi orang-orang minoritas. Menurut Omid, peristiwa tersebut merupakan peristiwa ketidakadilan sistematis (systematic injustice), hal itu karena ketidakadilan tersebut terjadi dengan melibatkan negara. Meskipun itu adalah sejarah, Omid mencoba melihat peristiwa itu dari sisi humanisnya untuk memberikan pandangan kepada warga negara Amerika Serikat sebagai negara yang punya hubungan kuat dengan Israel.

Menurut Safi, humanisme menjadi dasar filosofis kehidupan yang harus disosialisasikan. Humanisme merupakan “the path to truth and reconciliation” yang harus ditempuh sebagai penyelaras pola kehidupan bermasyarakat. Dari sifat Allah yang Rahman dan Rahim juga menjelaskan pentingnya saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain. (Subhan, 2017)

Path of truth mengandung makna lorong kebenaran. Dalam hal ini sufisme menjadi jalan spiritual untuk melangkah menuju kebenaran. Jalan sufi dapat ditempuh dalam humanisme atau kemanusiaan. Islam yang sufistik ditempuh juga dengan ungkapan kata cinta. (Safi, 2009)

Baca juga :  Keluhan Mahasiswa dan Filosofi Keris

Dikutip dari perkataan Safi, “Since they sought the Divine inside humanity, these sufi’s connected the path of God, from God, to God” (Innaa Lillahi wa Inaa Ilaihi Roo’ji’uun Al-Qur’an: 2: 156). Ungkapan cinta yang dimaksud dalam Islam mistic menjadikan kehidupan sebagai harmoni. Lorong cinta akan selalu menemukan kebenaran yang sejati. Setiap agama mempunyai lorong cinta untuk menempuh cinta-Nya (Allah SWT).

Safi berkeyakinan bahwa at-tashawwuf kulluhu adab. Seharusnya nilai kesufian mampu meningkatkan realitas kemanusiaan yang ada. Adanya nilai kemanusiaan menjadikan keadilan dan perdamaian dalam struktur kehidupan.

Konsep humanis dan sufi merupakan bagian dari karakter Omid Safi. Keduanya bukan hanya dalam rangka membangun gagasan muslim progresif, namun juga berkaitan dengan pentingnya memahami dunia beserta menjunjung tinggi kemanusiaan sebagai wujud cinta Allah dan makhluknya.

Opini Safi juga bisa diterapkan dalam dunia saat ini, kaum muda harus mampu menunjukkan kesan intelektualnya berupa kecerdasan dan kekritisannya namun juga diimbangi dengan adanya toleransi. Perlu menghargai dan menjamin hak sesamanya.

Fenomena progresivitas ini sering menampilkan bahwa seorang muslim yang berpikiran maju itu adalah muslim yang kuat intelektualnya. Kita harus percaya bahwa gelombang intelektual berupaya dalam menghidupkan agama Islam yang lebih erat di masyarakat sebagai agama yang damai.

Tentunya hal ini penting untuk membangkitkan semangat belajar, dalam artian semangat meningkatkan kemampuan intelektual dengan diimbangi prinsip Omid Safi yakni humanisme dan sufisme. Karena pada dasarnya dua konsep tersebut berkaitan dalam menjawab isu-isu terkini terkait Islam dan pandangan barat. Terutama yang berkaitan dengan cara cara manusia beretika atau beradab di lingkungan sosial.

Penulis : Fahrizal Taufiq M

Editor : Ati Auliyaur R

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Satu pemikiran di “Omid Safi: Tasawuf dan Humanisme”