Akhirusannah 2022: Bekerja Sama Capai Tujuan Bersama

Akhirusannah 2022: Bekerja Sama Capai Tujuan Bersama

Ustaz Syariful Anam saat menyampaikan mauidhoh hasanah dalam acara pembukaan akhirussanah tahun 2022 (besongo online)

Menjelang bulan Ramadhan Pondok Pesantren Darul Falah Besongo membuka Haflah Akhirussannah 2022, Sabtu (1/4/2022). Acara pembukaan diikuti oleh seluruh santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo. Bertempat di teras Madin Perumahan Bank Niaga.

Haflah Akhirussanah merupakan acara tahunan Pondok Pesantren Darul Falah Besongo yang diadakan sebagai refleksi kegiatan ta’lim di pondok selama satu tahun. Tema yang diangkat pada akhirussanah kali ini ialah ‘Bergerak Membangun Sinergitas Santri Mendunia.’

Rangkaian acara akhirussanah akan dimeriahkan dengan berbagai musabaqah -perlombaan- yang diselenggarakan setiap hari Sabtu dan Ahad.

Ustaz Syariful Anam saat memberi mauidhoh hasanah menjelaskan tentang pentingnya semua pihak dalam pondok pesantren berjalan bersama dan bekerja sama untuk berjalan menuju tujuan yang sama. Setidaknya ada empat tokoh yang berperan dalam pondok yaitu: santri, ustaz/ustazah, orang tua santri, dan pengasuh atau lembaga (pengurus pondok).

“Tokoh-tokoh tersebut harus bergerak bersama untuk mencapai tujuan bersama. “Gerakan bersama dan bekerja sama keempat tokoh tersebut untuk meraih tujuan yang sama merupakan kunci kesuksesan pondok pesantren,” imbuhnya .

 

Pembagian Tugas

Keempat tokoh tersebut memiliki tugas masing-masing. Santri dalam proses belajar di pondok harus bersungguh-sungguh karena niat dari rumah adalah untuk ta’alum (menuntut ilmu). Ta’alum harus dilakukan dengan serius, tidak boleh berleha-leha. Selain itu, santri juga harus melakukan riyadhoh -tirakat- agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

“Tugas santri tersebut harus didasari oleh keridhoan atau kerelaan menjadi santri. Kerelaan santri ketika mondok berarti ridho dan taat nya santri kepada seluruh peraturan dan regulasi yang ditetapkan oleh pondok,” ungkap dosen Tasawuf dan Psikoterapi UIN Walisongo Semarang tersebut.

Tugas ustaz/ustazah adalah mendoakan para santri agar menjadi orang saleh/salehah dan memperoleh ilmu yang bermanfaat. Selain itu, mereka tentu juga harus menjadi contoh dan inspirasi bagi para santri dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Adapun tugas orang tua santri  di antaranya yaitu memberikan dorongan moril dan materil untuk putra-putrinya yang berada di pondok. Selain itu, orang tua hendaknya juga melakukan riyadhoh agar anaknya diberikan kemudahan selama berada di pondok.

“Selanjutnya, yang tidak kalah penting adalah tugas pengasuh dan pengurus pondok. Beliau harus mengelola dan mengatur regulasi pondok agar target pondok dapat tercapai,” tambahnya.

Dengan pemenuhan tugas keempat tokoh pondok itu maka pencapaian visi misi pondok yang diidam-idamkan bersama akan terwujud. Keempat pilar pondok tersebut harus bergerak sejajar dan berjalan bersama untuk mencapai tujuan yang sama.

Baca juga :  Pemilik Empat Istri

 

Santri Mendunia sambut Ramadhan Penuh Berkah

Adapun ‘Santri Mendunia’. Adalah santri yang berwawasan luas, bersudut pandang luas, dan berwawasan global. Santri yang berwawasan luas akan terbentuk jika kondisi di pondok mendukung hal tersebut. Seorang mu’alim (guru, ustaz/ustazah, pengasuh pondok) memiliki sifat sabar, tawadu, dan husnul khusluq akan menjadiwasilah bagi kebahagiaan dan kenikmatan sempurna yang dapat dimiliki oleh para santrinya.

Berbanding lurus, para guru atau ustaz/ustazah akan mendapatkan kebahagiaan dan nikmat yang sempurna pula apabila murid atau santrinya memiliki tiga hal juga. Di anatara tiga hal tersebut ialah akal (untuk berdiskusi, berpikir bersama, dan lain-lainnya), husnul fahmi (baiknya kepahaman) yaitu meninggalkan kemaksiatan baik besar maupun kecil, dan al-adab (adab atau akhlak) atau husnul khuluq.

“Hal-hal tersebutlah yang dapat mendorong kerja sama yang baik semua pihak di pondok. Bekerja sama dan sama-sama bekerja,” tuturnya.

Ustaz Syariful Anam juga menjelaskan perihal persiapan para santri memasuki Ramadan tahun ini. Nilai-nilai Ramadan harus tertanam dalam hati para santri. Ramadan bisa dianalogikan sebagai masa-masa panen.

“Dalam kitab karangan Syeikh Dzun Nun al Mishri dituliskan bahwa Ramadan adalah bulan panen. Biasanya panen itu dilakukan dengan senang dan bersemangat. Karena itu, kita harus merasa senang dan bersemangat dalam menyambut Ramadan ini,” ucapnya.

Ustaz Syariful Anam juga menukil kitab karya Syeikh Ali Ahmad al Jurjawi, mengenai khidmah berpuasa. Hal ini sangat penting sebagai dasar-dasar kita dalam beribadah puasa dalam bulan Ramadan. Khidmah berpuasa meliputi bersyukur kepada Allah, menjalankan amanat Allah (berpuasa), menjaga hawa nafsu, dan menjauhi hal yang dapat membatalkan puasa.

“Kita juga selalu menjaga mata, mulut, hati, dan anggota badan kita. Lalu, selalu menahan nafs al bahimiyyah, yaitu menahan diri dari perilaku yang tidak baik selama Ramadan. Selain itu, kita juga harus selalu menjaga kesehatan selama berpuasa,” pungkasnya.

 

Reporter: Lyna Anifa
Editor: Hanif Fauzi

Tinggalkan Balasan