Pembukaan Pascalib 2022: Santri Mendunia Merawat Tradisi Islam Nusantara

Ustaz Syariful Anam saat menyampaikan mauidhoh hasanah

Be-songo.or.id – Semarang, Pembukaan acara Pasca Liburan (Pascalib) yang berlokasi di Madrasah Diniyah (Madin) Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, Sabtu (5/2/2022) berlangsung secara khidmat. Kegiatan Pascalib tahun ini bertajuk ‘Santri Mendunia, Merawat Tradisi Islam Nusantara‘.

Berbeda dengan Pascalib tahun sebelumnya yang diadakan secara blended (daring-luring), Pascalib tahun 2022 diikuti oleh seluruh santri putra dan putri secara luring, dengan jumlah total sekitar 300 santri.

“Istimewanya di Pascalib tahun ini semua santri hadir secara offline. Karena tahun lalu sempat terkendala dengan mewabahnya virus covid-19,” ungkap Chantika Khoirunnisa, Ketua Panitia Pascalib 2021 saat menyampaikan sambutannya.

Ustaz Karis Lusdiyanto, Pembina Pondok Dafa Besongo mewakili Pengasuh menyampaikan sekaligus mengingatkan kepada para santri bahwa kegiatan santri di pondok mulai saat ini akan berlangsung secara offline.

“Untuk itu kita semua ditekankan atas kewajiban berkhidmah dengan sungguh-sungguh, minimal yaitu dengan mematuhi peraturan pondok dengan baik. Karena berkah atau tidaknya kalian mondok itu ada di tangan kalian sendiri. Dan khidmah ini menjadi salah satu kunci,” tegas Ustaz Karis.

Beliau juga menegaskan kepada santri untuk memperbarui niat di untuk mengawali kegiatan belajar di tahun pelajaran baru ini. Karena Pascalib ini menjadi fase peralihan dari liburan santri dan sebelum dimulainya kegiatan mengaji di Besongo.

Mendunia, Merawat Tradisi Islam Nusantara

Dalam sesi mauidhoh hasanah Ustaz Syariful Anam menjelaskan, Merawat tradisi Islam berarti merawat tradisi yang telah diwariskan oleh para walisongo sebagai peramu dan penyebar tradisi Islam di Nusantara, dari sisi metode, bersikap serta berdakwahnya. Maka merawat tradisi keilmuan yang didakwahkan di sini ada tiga hal; fiqhul ahkam, fiqhud dakwah, dan fiqhul hikmah.

Maka untuk merawat dan membumikan tradisi itu kita harus melek literasi turots dan literasi digital. literasi turots sebagai bentuk merawat tradisi Islam berbekal kitab kuning dan literasi digital untuk mendapatkan ilmu-ilmu yang relevan di era ini.

Baca juga :  Gerakan Feminisme dan Keadilan Anak

Jika santri bisa menguasai kedua ilmu itu maka akan tercetak seorang yang alim bi ulumil syariah li idroqil haqiqoh. “Orang yang menguasai ilmu-ilmu syariah dan bisa merasakan hakikat dari ilmu yang diperolehnya. Jadi tidak hanya berhenti pada sekedar menguasai ilmu saja,” tambah beliau.

Dan sosok-sosok inilah yang kemudian akan menyebarkan serta menjelaskan (ilmu) apa yang diketahui untuk kemaslahatan dan kemanfatan banyak orang.

Reporter: Faza Naila Fathimatuz Zahra

Editor: Imam Mawardi

Tinggalkan Balasan