Pemilik Empat Istri

Pemilik Empat Istri

Pemilik empat orang istri dalam kehidupan (ilustrasi/harapan rakyat online)

Suatu hari diceritakan dalam sebuah legenda bahwa ada seorang raja yang sangat kaya raya. Dia memiliki segalanya yang ia inginkan semasa hidupnya. Ia memiliki kerajaan yang sangat besar dan mempunyai hubungan baik dengan para kerajaan di negara tetangganya. Ia memiliki banyak sekali prajurit dan ia juga memiliki 4 orang istri yang menemaninya. Ia hidup bahagia dan selalu bersenang-senang bersama mereka. Hingga suatu hari, sang raja jatuh sakit dan membuatnya sangat sekarat. Para tabib pun sudah tidak sanggup lagi mengobati sakit sang raja. Ia menjadi sangat lemah di tempat tidurnya karena sakit yang ia rasakan. Sehingga salah satu tabib bahkan memfonis bahwa sang raja mungkin memang sudah hendak dijemput ajalnya.

Sang raja pun sangat sedih, dan memanggil istri-istrinya untuk menemaninya. Ia takut jika harus mati dan berpindah ke alam akhirat sendirian. Lalu ia memanggil istrinya satu persatu dan meminta mereka agar mau menemaninya pergi ke akhirat. Pertama ia memanggil istri keempatnya yang paling dicintainya. Istri keempat itu ia belikan berlian, emas, pakaian yang sangat bagus dan barang-barang yang mewah. Sang raja pun bertanya kepada istri keempat ini.

“Maukah kamu mati bersamaku, dan menemaniku pergi ke akhirat?”. Istri keempat pun menjawab “Maaf, aku tidak bisa.” Lalu ia pergi meninggalkan sang raja begitu saja.

Sang raja pun memanggil istri ketiganya yang juga ia cintai, yang paling ia bangga-banggakan ke negara tetangganya. Pertanyaan yang sama muncul.

“Maukah kamu mati bersamaku, dan menemaniku pergi ke akhirat?”.

Istri ketiga pun menjawab, “Maaf, aku tidak bisa ikut denganmu, aku terlalu mencintai hidupku. Dan saat kamu mati nanti aku akan menikah lagi.”

Lalu datanglah istri keduanya yang selalu ada untuknya, dan selalu membantunya ketika ia membutuhkan. Sang raja bertanya juga kepada istri kedua.

“Maukah kamu mati bersamaku, dan menemaniku pergi ke akhirat?”.

“Maaf”, kata istrinya. “Kali ini aku tidak bisa membantumu, tapi yang bisa kulakukan adalah mempersiapkan pemakamanmu, dan aku akan ada di sana nanti sampai detik-detik detak terakhir jantungmu dan hembusan napasmu, bahkan sampai selesai pemakamanmu.”

Hingga pada akhirnya sang raja mendengar sebuah suara yang mengatakan, “Aku akan bersedia mengikutimu ke mana pun kamu pergi, bahkan mati pun aku akan ikut denganmu dan menemanimu pergi ke akhirat sekalipun!”

Baca juga :  Katanya Sih Mahasiswa

Sang raja menoleh, ternyata yang berbicara itu adalah istri pertamanya. Istri pertamanya adalah istri yang paling tidak ia urus. Ia sangat abai kepadanya selama ini. Sang raja pun malu kepadanya, lalu berkata

“Maafkan aku, harusnya aku lebih memperhatikanmu dan merawatmu selagi aku hidup.”

Ternyata, cerita tadi sangan relevan dalam hidup kita di dunia ini. Kita semua mempunyai empat istri seperti di cerita itu. Istri keempat adalah tubuh kita, di mana kita suka mendekorasinya dengan perhiasan, baju yang paling bagus, dan memakaikannya dengan barang-barang mewah lainnya. Tapi pada akhirnya tidak bisa mengikuti kita ke akhirat. Istri ketiga mempresentasikan barang-barang yang kita miliki. Semua barang yang kita punya yang kita kumpulkan dari mulai yang paling murah hingga yang sangat mewah sekalipun. Pada akhirnya tidak bisa kita bawa ke akhirat dan malah akan diberikan kepada orang lain. Seperti yang diceritakan istri ketiga yang akan menikah lagi dan pergi bersama orang lain.

Sedangkan istri kedua adalah teman-teman, kerabat dan keluarga kita. Kita mempercayai mereka, mereka selalu ada untuk kita Ketika kita membutuhkan mereka. Tapi tempat paling jauh di mana mereka masih tetap bisa menemani kita  hingga ke pemakaman. Dan istri pertama adalah jiwa dan amal perbuatan kita, serta segala tingkah perilaku kita semasa hidup. Seringkali kita lupa dan menjaganya, padahal itulah yang akan selalu menemani kita dan yang akan mengikuti kita sampai ke akhirat.

Jagalah baik-baik tubuh dan kesehatanmu, nikmati barang-barangmu, hargai waktu dan momen Bersama teman dan keluargamu. Tapi jangan pernah lupa untuk merawat jiwamu, peliharalah jiwamu. Maka dari itu, jagalah baik-baik jiwa kita. Perilaku dan amal perbuatan yang kita lakukan semasa di dunia ini. Karena itulah yang akan menjadi bekal kita di kehidupan akhirat nanti.

 

Rifki Priatna, Mahasantri Darul Falah Besongo ‘2018

#Cerita ini dikutip dari video yang disampaikan oleh Christopher Obaidah (22), konten creator asal Situbondo, Jawa Timur

Tinggalkan Balasan