Pentingnya Kesejahteraan Jiwa Bagi Kesehatan Mental

Pentingnya Kesejahteraan Jiwa Bagi Kesehatan Mental

kesehatan mental merupakan sebuah kondisi jiwa yang bercirikan kesejahteraan emosi, penyesuaian perilaku yang baik, bebas dari kecemasan (foto/besongoTV)

Mental terdeteksi oleh perasaan manusia, lalu apa itu kesehatan mental?, kesehatan mental merupakan sebuah kondisi jiwa yang bercirikan kesejahteraan emosi, penyesuaian perilaku yang baik, bebas dari kecemasan dan disabilitas berkapasitas untuk membuat hubungan yang konstruktif juga usaha penyelesaian tuntutan dan tekanan hidup.

Demikian yang disampaikan Nadya Ariyani Hasanah Nuriyyatiningrum, pada sesi materi terakhir kegiatan TOS Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, tentang Mental Health,’ Sabtu (13/08/2022).

“Mahasantri juga mahasiswa itu harus mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Supaya dapat menjaga kondisi kejiwaan. Dan salah satu ciri kondisi jiwa yakni adanya kesejahteraan emosi yang disadari oleh individu,” tambahnya.

Demikian bisa diimplementasikan menjadi misalnya kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar. Untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.

Dilanjutkan, dalam menghadapi Quarter Life Crisis. Nadya mengatakan, bahwa Quarter Life Crisis adalah krisis yang akan dihadapi dalam seperempat hidup manusia. Entah itu pada usia 18,19,20. yakni dalam kondisi di mana seseorang naik ke fase dewasa. Yakni tuntutan dari berbagai pihak juga faktor.

“Nah untuk mengatasi tekanan tuntutan tersebut, kita harus sadar bahwa setiap orang punya kehidupan masing-masing atau memiliki masanya masing-masing. Jadi tidak perlu mengambil acuan dari fase hidup orang lain,” sarannya.

Tips saat Menghadapi Masalah

Kualitas kesejahteraan individu juga dipengaruhi oleh masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu, Dosen Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) itu memberikan langkah-langkah yang dapat diterapkan sebagai solusi, di antaranya.

Pertama, sadari semua sisi saat ini. Baik dari sisi seorang mahasiswa, sisi seorang santri, dan juga sisi dewasa. Selanjutnya, kenali lingkungan baru dengan memahami budaya, aturan tertulis dan tidak tertulis, dan juga orang-orang. Ketiga, Accept (menerima). Menerima segala hal baik positif maupun negatif. Setelah itu, buat rencana jangka pendek juga panjang.

“Dengan membuat rencana yang akan dijalani, kita menerima energi positif untuk dapat mencapai tujuan tersebut,” tambahnya.

Kelima, kembangkan dan jaga relasi. Relasi dengan teman di lingkungan baru, dan juga menjaga relasi dengan keluarga, kerabat, dan teman lampau. Enam, Lakukan hal menyenangkan bisa dengan melakukan hobi atau me time sebagai bentuk apresiasi diri.

“Terakhir, temukan kebahagiaan. Hargai sekecil apa pun itu. Dengan ini kita selalu bisa mendapatkan emosi yang nyaman setiap harinya,” lengkapnya.

Setelah individu tersebut mampu melalui masalahnya sampailah pada pencapaian penuh potensi psikologi seseorang. Hal tersebut dapat dilihat dari kemampuan menerima segala hal yang terjadi dalam hidupnya, baik positif mau pun negatif. Terlihat dari sosok yang memiliki tujuan hidup, mandiri, membangun relasi yang positif, penguasaan lingkungan, tumbuh secara personal.

“Ketika kalian berada di tempat baru, maka manfaatkanlah. Dan berproseslah menjadi individu yang bermanfaat,” pungkasnya.

Reporter: Anita Rahma Fauziyah

Editor: Siti Niswatun Khoirilia

Tinggalkan Balasan