Personal Branding: Urgensi Pengembangan Citra Diri dan Kereligiusan

Sabiq Kamaludin Haq sedang memaparkan materi personal branding

Be-songo.or.id Di era digital seperti saat ini personal branding dianggap mampu menunjukkan eksistensi manusia. Untuk itu Pondok Pesantren Darul Falah Besongo adakan Seminar Personal Branding, yang merupakan bagian dari acara tahunan pasca liburan 2021 hari ke-7, tepatnya pada hari Senin (08/02/2021).

Seminar tersebut merupakan kegiatan opsional diikuti oleh sebagian santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo baik secara offline maupun online. Personal Branding disampaikan oleh Sabiq Kamaludin Haq, yang merupakan salah satu alumni Pondok Pesantren Al Islah Semarang.

Salah satu alumni UIN Walisongo, Sabiq juga memaparkan bahwa personal branding merupakan bagaimana memperkenalkan diri kita pada orang lain. Hal tersebut sesuai dengan hakikat manusia dalam tujuan mencapai eksistensinya. “Personal branding membuat orang mengenal dan mengejar kita,” Tutur Sabiq.

Berproses dalam personal branding perlu memahami perasaan orang lain, hal tersebut berkaitan dengan citra dan potensi yang dikembangkan dan dilihat oleh orang lain. Sehingga apa yang kita tunjukan tidak berbanding terbalik dengan apa yang diinginkan

“Jika tidak bisa memahami orang lain maka jangan berharap citramu positif. Potensi diri dapat diketahui orang lain, karena sejatinya masing-masing diri mempunyai potensi yang bisa digali. Memahami perasaan orang lain temasuk juga memahami keinginannya. Sehingga apa yang kita tunjukan tidak berbanding terbalik dengan apa yang diinginkan,” tambah Sabiq.

Di samping memahami perasaan orang lain, perlu memperbaiki citra dengan tidak sering hutang dan memposting status galau. Hal tersebut berkaitan dengan upaya peningkatan branding dengan selalu  berhati-hati berkaitan dengan sikap ke depannya.

“Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetaplah berbuat baik kepada orang lain,” Ujar Sabiq.

Sabiq juga mengatakan,“Buanglah galau pada tempatnya, apalagi dunia rebahan menyebabkan kita tidak produktif. Apapun yang dirasa oleh diri kita harus berhati-hati untuk publish di media sosial karena tidak tahu akan berakibat baik atau buruk kepada orang lain. Bahkan terkadang tanpa sadar bisa saja kita iri, dan orang lain iri pada diri kita hanya disebabkan lewat status.”

Baca juga :  TOS 2018: Outbound

Personal branding pada dasarnya berkaitan dengan mengenal kemampuan diri dan membangun relasi dengan sesama. Penting membangun branding positif yang jauh dari nilai negatif seperti pornografi dan SARA.

Memposting prestasi juga bagian dari eksistensi karena potensi yang kita miliki dapat diketahui masyarakat. Namun di sisi lain perlu adanya filter dalam memposting prestasi untuk meminimalisir adanya perspektif negatif dari masyarakat, misalnya dianggap sombong.

Upaya peningkatan branding dapat dengan berorganisasi karena mampu menyokong personal branding untuk berkarya. Sabiq sangat menganjurkan pentingnya bersikap istiqomah dalam berkarya dan mengembangkan diri.

Beliau juga mengatakan,“Jangan malu untuk menampilkan karya yang dimiliki karena tentunya itu dapat mengembangkan diri. Istiqomah adalah sesuatu yang sangat penting, apalagi istiqomah berkarya karena itu akan terus memupuk apa yang kita punya.”

Personal branding juga berkaitan dengan nilai kereligiusan. Pesantren dan santri mempunyai nilai branding yang positif di masyarakatnya karena kental dengan kajian keagamaannya. Dalam hal ini perlu membangun intuisi dengan munajat dan tirakat.

“Karena branding butuh intuisi, bermunajatlah, tirakatlah! kalau intuisi kita kuat, rejeki akan datang sendiri.” Tutup beliau.

Reporter          : Firda Soghiroh dan Octavina Indriyanti

Editor              : Ati Auliyaur Rohmah

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *