Potret Moderasi Pesantren Ala Santri Dafa Besongo

Dari kiri: Pdt. Aryanto Nugrho (Ketua JAGI), Lutfi Rahman (Sekretaris RMB), M. Badruz Zaman (Penulis Buku PMP) (Foto: Tim KKN RDR)

Besongo.or.id – Semarang, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler Dari Rumah (KKN RDR) ke-77 kelompok 09, 10, dan 11 UIN Walisongo Semarang adakan Webinar Nasional dan Bedah Buku Potret Moderasi Pesantren bertajuk ‘Memaknai Nasionalisme dalam Bingkai Moderasi Beragama’ sebagai refleksi Hari Santri Nasional, Senin (25/10/2021) siang.

Dalam acara yang diselenggarakan secara luring, di Pondok Pesantren Darul Falah (Dafa) Besongo Semarang, Asrama B9. KH Imam Taufiq, Pengasuh Pondok Pesantren Dafa Besongo menegaskan bahwa moderasi beragama ini adalah respon dari keragaman yang ada di Indonesia.

“Keragaman yang ada di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari diri kita. Berapa pun jumlah suku, bahasa, dan agama itu menunjukkan intregritas Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, muncul lah kebhinnekaan, berbeda-beda tetapi tetap satu jua,” paparnya saat membuka acara sebagai keynote speaker.

Dalam acara yang juga diselenggarakan secara daring melalui zoom dan kanal youtub PP Dafa Besongo, KH. Imam Taufiq menambahkan, kemajemukan di Indonesia itu harus dianggap sebagai sebuah fitrah yang harus direspon dengan perspektif kemajemukan, bukan perspektif penyeragaman.

“Maka kemajemukan ini sebagai sebuah kodrat kebangsaan yang harus direspon dengan perspektif kemajemukan, bukan perspektif penyeragaman,” tambahnya.

M. Badruz Zaman penulis buku Potret Moderasi Pesantren mengatakan, menjadi kelompok atau umat beragama yang ideal itu bisa diraih dengan memulai dari diri sendiri, salah satunya dengan menurunkan sikap egois.                                

“Itu memang suatu jalan yang sulit. Tetapi ini bisa kita lakukan mulai dari hal-hal yang sederhana, mulai dari diri kita sendiri, misalnya dengan menurunkan ego, berfikir secara jernih dan tidak mudah terpengaruh,” ujar saat menyampaikan materi terkait moderasi pesantren.

Ia juga mengatakan, bahwa moderasi tidak lantas diartikan bahwa kita bersikap netral dan plin-plan dalam beragama. Namun, moderasi adalah memegang teguh prinsip kita dengan menghargai kepercayaan orang lain yang berbeda.

Baca juga :  Ramah Tamah Walisantri Wisudawan Santri Darul Falah Be-Songo

Turut hadir dalam acara tersebut Makmun Abha, Dosen Pembimbing Lapangan KKN RDR, Pdt. Aryanto Nugroho Ketua Jemaat Allah Gereja Indonesia (JAGI), dan Luthfi Rahman Sekretaris Rumah Moderasi Beragama (RMB) UIN Walisongo Semarang.

Reporter: M. Raif Al Abrar

Editor: Imam Mawardi

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *