Berita

PSB

Prof KH Imam Taufiq: Dunia dan Akhirat, Harus dengan Ilmu

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Ilmu sendiri merupakan salah satu alat untuk tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat serta dapat memudahkan jalan menuju ke surga.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo KH Imam Taufiq mengatakan, ilmu dalam Al-Qur’an adalah sebuah kapasitas, pengetahuan, ma ’unah, kegiatan, penjelasan, keterangan, sebuah sesuatu yang diberikan Allah dan hanya Allah yang mampu memberikan kepada kita.

Kiai Imam Taufiq mengatakan hal itu dalam khutbah salat jum’at di Kauman, Masjid Agung Semarang yang bertajuk “Ilmu dan Hidup Maslahat”, Jumat (10/03/2023).

Dikatakan, orang yang mempelajari ilmu agama akan diberi kemampuan untuk bisa membimbing masyarakat sekitar

“Ini untuk dapat mampu membedakan mana yang benar dan salah, yang halal dan haram serta yang haq dan bathil,” tegas Kiai Imam Taufiq yang juga Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang itu.

Lanjut beliau, bagi orang yang mempelajari ilmu dibidang ekonomi, maka dia akan diberikan kemampuan untuk bisa mengelola lebih baik daripada yang lain, bagaimana bisa mengelola dan menggunakan ilmu tentang harta serta materi duniawi. “Tentunya agar bisa memberikan manfaat kepada orang lain,” ucapnya.

Menurut beliau, Al-Qur’an memberikan isyarat bahwa sebetulnya ilmu dapat diperoleh dengan dua cara, pertama kasbi yaitu diperoleh dengan belajar dan ikhtiar, tidak ada ilmu yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan cara belajar. Kedua adalah ilmu yang diperoleh karena fadhol Allah, ada orang yang tidak belajar tetapi ngerti.

“Ilmu ini disebut dengan ilmu ladhuni dan hanya diberikan kepada orang yang terpilih,” ucapnya.

” Dalam Tafsir Ibnu Abbas menyebutkan bahwa tantangan jin dan manusia adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang sebetulnya tidak dapat ditembus kecuali atas izin Allah SWT,” tambahnya.

Dijelaskan, sehebat-hebatnya ilmu yang kita miliki itu adalah milik Allah. Ilmu yang hebat, bermanfaat hanya karena Allah. Karena itu kita tidak boleh mendewakan ilmu yang kita miliki dengan berlebihan. Harus kita yakinkan bahwa tidak akan pernah dapat ilmu seseorang itu kecuali karena Allah SWT.

“Ini sebagai syarat kita untuk mendekatkan diri dan mentaqarrubkan kita kepada Allah SWT,” pungkasnya.

Oleh: Ema Magfiroh (Santriwati Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang dan Mahasiswi UIN Walisongo Semarang)