Be-songo.or.id

GALERI MANUSKRIP

روضة العلماء ٢
 
Terlindungi:

Prof Quraish Shihab Jelaskan Perbedaan Al-Qur’an dan Tafsir

Cendekiawan Muslim Indonesia Prof KH Quraish Shihab menjelaskan, tafsir berbeda dengan Al-Qur’an ,perbedaan utamanya Al-Qur’an itu wahyu ilahi pasti benar. Tafsir merupakan produk manusia bisa benar dan bisa salah. Dalam konteks penafsiran-penafsiran, seseorang bisa dipengaruhi oleh banyak hal antara lain, kondisi sosialnya, perkembangan ilmu, dan lain sebagainya.

“Karena itu, kata Abbas Al-Aqqad seandainya sahabat-sahabat nabi itu hidup sekarang pasti pendapatnya yang lama diubah karena perkembangan,” kata beliau dalam tayangan Youtube Quraish Shihab.

“Salah satu hal yang digarisbawahi oleh sebagian ulama kita adalah bahwa kita sering kali terlalu terikat dengan pendapat lama yang justru baik pada masanya, tidak baik lagi pada masa kita sekarang. Saya ingin garis bawahi pendapat-pendapatnya itu benar pada masanya, sudah harus berubah pada masa kita, ini tantangan kita, Itu satu,” tambahnya.

Dikatakan, sekarang ini muncul sekian banyak pendapat yang sudah populer tapi salah, karena dikemukakan orang yang tidak memenuhi syarat-syarat untuk menafsirkan Al-Qur’an. Dulu ulama-ulama menetapkan sekian banyak syarat untuk yang mau menjadi penafsir ada beberapa butir yang saya ingin garis bawahi di sini.

“Yang pertama, mufassir itu berbeda dengan guru yang mengajar penafsiran, mubaligh yang menyampaikan penafsiran, mufassir itu yang menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan nalar dan kebersihan hatinya dia yang punya pendapat,” ujarnya.

Beliau mencontohkan, bahwa di zaman sekarang ini terdapat banyak sekali orang yang menyampaikan pendapat orang lain, padahal itu salah. Hal ini dikarenakan tanpa belajar terlebih dahulu hanya dengan mendengarkan dan mengambil beberapa ayat sudah berani untuk menyampaikannya.

“Padahal untuk menafsirkan itu diperlukan syarat-syarat. Imam Suyuti ada menyebut lebih dari 10 syarat. harus tahu bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Isytiqaq harus tahu semuanya Itu. Asbabun Nuzul, Nasikh Mansukh, Ushuluddin, Ushulul Fiqh, banyak,” tuturnya.

Menurut beliau, terdapat banyak orang yang salah mengartikan ayat Al-Qur’an, sehingga berbeda dengan makna aslinya bahkan berlawanan, karena hanya melihat arti bahasa arabnya secara dasar, tanpa belajar dan tanpa mengetahuinya secara mendalam.

“Jadi hal-hal semacam ini kita harus pahami, dan itu sering terjadi dari mereka yang bermaksud baik tapi bodoh,” jelasnya.

Oleh: Ahmad Uwes Alqoroni (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang dan Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)