Berita

PSB

Rais PWNU Jateng: Peran Ibu Nyai Penting dalam Pendidikan Pesantren

Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Wilayah Nahdlatul Ulama (RMI PWNU) Jawa Tengah adakan halal bihalal dengan pengasuh pondok pesantren putri se-Jawa Tengah di Balai Sasana Widya Praja (SWP) Badan Diklat Provinsi Jateng, Banyumanik, Semarang, Senin (29/5).

Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH. Ubaidullah Shodaqoh menyampaikan, selama ini pendidikan wanita terabaikan, terutama di pedesaan atau bahkan barangkali di kalangan santri. Akan tetapi, setelah lahir para Ibu Nyai yang tentunya saat ini banyak yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, baik dari keilmuan agamanya maupun keilmuan umumnya.

“Maka, pondok-pondok pesantren putri mulai marak dengan kualitas-kualitas yang banyak sekali mengalahkan kualitas santri putra,” ucapnya.

Baca Juga: Wakil Ketua Umum PBNU Sampaikan Pentingnya Kiprah Perempuan dalam Dakwah dan Pendidikan

Dikatakan, dapat dilihat dari cara hafalan atau kedisiplinan, rata-rata santri putra kalah dengan santri putri.

“Ini merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa diabaikan,” tegasnya.

Lanjut beliau, bagaimana Rasulullah mengajarkan keagamaannya melalui Aisyah dan beberapa istrinya. Andai kata tidak ada Aisyah serta istri-istri Rasulullah yang lain maka, niscaya banyak sekali misi-misi risalah yang harus disampaikan, baik kepada kaum wanita maupun kepada kaum laki-laki tidak akan sampai kepada kita semuanya.

“Karena dalih akal budi serta batin istri-istri Rasulullah itu lah maka kita menerima risalah secara utuh,” paparnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, Ibu Nyai memiliki peran penting di pondok harus diperankan dan menentukan sendiri, terutama pendidikan putri di pondok pesantren.

“Yang namanya pendidikan memang tidak membedakan antara putra dan putri. Bahkan, ada suatu istilah “Nyawa itu tidak mempunyai jenis kelaminnya”,” katanya.

Ditambahkan, tidak ada bedanya antara laki-laki dan perempuan kecuali jasad yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT ini.

Baca Juga: RMI PWNU Jateng Minta Peran Ibu Nyai Wujudkan Pesantren Ramah Anak

“Mereka punyak hak yang sama untuk mengetahui pengetahuan-pengetahuan setinggi apa pun, juga mempunyai hak untuk mengamalkan keilmuannya, serta hak sama dengan lelaki untuk mengaktualisasikan kreatifitasnya,” tambahnya.

Menurut beliau, NU berasal dari pesantren. Dan Nu dilahirkan oleh para tokoh ulama yang memegang dan mengasuh pesantren.

“Para Pengasuh pesantren saling membahu bagaimana mendirikan, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Maka, kita juga harus bersinergi khususnya dengan pemerintah,” pungkasnya.

Oleh: Istna Nur Khoiriyah (Santriwati Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang dan Mahasiswi UIN Walisongo Semarang)

Editor: M. Raif Al Abrar

REKOMENDASI >