Refleksi Haji dalam Kacamata Sains

Ilustrasi by Rikza Nada Auliya

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. Karena pada bulan ini menjadi bulan peringatan Hari Raya Idul Adha (hari raya kurban) yang jatuh pada 10 Dzulhijjah. Hari raya kurban  juga bersamaan dengan perintah ibadah haji bagi umat Islam yang sudah mampu. Dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 97, Allah Swt berfirman

فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًا ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ

Artinya :”Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”

Islam merupakan agama yang  tak pernah memaksakan pemeluknya, termasuk dalam melaksanakan ibadah haji jika memang belum mampu. Baik itu dari segi finansial maupun yang lain. Mengingat ibadah haji bukan hanya soal ibadah secara nurani, hati dan pikiran akan tetapi juga  secara fisik . Sehingga redaksi “mampu” disini harus bisa dipenuhi oleh setiap calon jamaah. 

Al-Haththab ar-Ru’aini dalam Kitab Mawabib al-Jalil Syarhu Mukhatshar al-Khalil  juz 3, halaman 468 berpendapat,

مَنْ لَا يُمْكِنُهُ الْوُصُولُ إِلَى مَكَّةَ إِلَّا بِأَنْ يَسْتَدِينَ مَالًا فِي ذِمَّتِهِ وَلَا جِهَةَ وَفَاءٍ لَهُ فَإِنَّ الْحَجَّ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ لِعَدَمِ اسْتِطَاعَتِهِ وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَأَمَّا مَنْ لَهُ جِهَةُ وَفَاءٍ فَهُوَ مَسْتَطِيعٌ إِذَا كَانَ فِى تِلْكَ الْجِهَةِ مَا يُمْكِنُهُ بِهِ الْوُصُولُ إِلَى مَكَّةَ

“Barang siapa yang tidak mungkin bisa sampai ke Makkah kecuali dengan berutang dan ia tidak memiliki kemampuan untuk membayarnya, maka ia tidak wajib haji karena ketidakmampuannya. Ini adalah pandangan yang disepakati para ulama. Adapun orang yang bisa mampu membayarnya, maka dikategorikan sebagai orang yang mampu seandainya ketika ia berutang memungkin baginya untuk bisa sampai ke Makkah”

Substansi dari ibadah haji bukan terbatas dari segi fiqih saja namun juga dari segi sains yang terkandung di dalamnya. Karena pada dasarnya sains dan agama bisa diintegrasikan menjadi pandangan yang harmonis.

Saat ini integrasi sains dan agama (Unity Of Sains) sudah tak asing lagi di telinga kita, terlebih beberapa tokoh ikut andil memberikan karyanya dalam bidang pengetahuan. Salah satunya Dr. KH Aguk Irawan dalam bukunya “Totalitas Haji dan Umroh”  juga menjelaskan beberapa pandangan sains terhadap serangkaian ibadah haji. Adapun pandangan tersebut sebagai berikut.

Ihram

Ihram disertai niat menjadi rukun ibadah haji . Memakai pakaian serba putih lalu niat melakukan ibadah haji; sudah berikrar untuk siap meninggalkan segala yang diharamkan selama ibadah haji berlangsung. Hal yang menarik disini mengapa dipilih warna putih sebagai kain ihram?

Warna putih merupakan warna dasar yang berada dalam komposisi yang sama besar dan maksimum. Tujuan penggunaan warna putih juga karena warna ini menjadi simbol universalitas. Setiap jamaah diharapkan memurnikan ihram sebagai ibadah dan menjadi sosok manusia menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, menghormati antar sesama dan tidak saling mengkerdilkan.

Teori sains yang hampir senada dijelaskan oleh teori Tabula Rasa yang banyak dipengaruhi oleh pendapat John Locke, ilmuwan abad 17 asal Inggris. Tabula Rasa bisa diartikan sebagai “kertas putih ” tanpa coretan, putih bersih dan juga seluruh pengetahuan diperoleh secara bertahap melalui proses pengalaman alat indera.

Sehingga manusia dengan warna putih kain ihram diajarkan untuk tidak mengotori hatinya setelah melakukan ibadah haji. Hal tersebut menjadi salah satu upaya resolusi diri untuk berfitrah dan mengurangi perbuatan dosa.

Baca juga :  Mu’asyarah bil Ma’ruf dalam Bingkai Pernikahan

Wuquf di Arafah

Wuquf bermakna berhenti atau diam. Ibadah tersebut dilakukan para jamaah haji pada tanggal 9 Dzulhijjah dari waktu Dzuhur sampai waktu fajar 10 Dzulhijjah. Dilakukan di Padang Arafah. Diam dalam hal ini dengan melakukan perenungan, instrospeksi diri terhadap perbuatan yang mereka lakukan selama ini sembari membaca dzikir dan kalimat thoyibah lainnya.

Secara biologis keadaan tersebut juga mirip dengan tubuh kita, misalnya lambunga akan berkerja secara maksimal dalam membantu proses pencernaan, yakni sekitar pukul 07.00-09.00. Maka dari itu sangat dianjurkan untuk sarapan di jam jam tersebut.

Kemudian pada ginjal akan melakukan pekerjaan maksimalnya pada pukul 17.00-19.00. Dianjurkan pada jam ini untuk melakukan kegiatan seperti belajar , karena di saat  yang sama terjadi pembentukan sumsum tulang dan otak yang berorientasi pada kecerdasan seseorang. Kemudian pada usus besar akan melakukan pekerjaannya secara maksimal pada pukul 05.00-07.00 dan kita dianjurkan untuk buang air besar di jam tersebut sebagai proses pengeluaran feses dari tubuh kita sebagai proses ekskresi demi menjaga kesehatan tubuh.

Thawaf

Jamaah haji wajib melaksanakan thawaf sebanyak 7 putaran dengan Ka’bah sebagai titik tengah rotasi. Dalam sains perputaran macam ini juga terjadi pada reaksi yang terjadi pada elektron elektron yang senantiasa berputar mengelilingi inti atom. Dalam pengandaian orang yang sedang melakukan thawaf, proton diibaratkan Ka’bah , sedangkaan elektronnya adalah thaifin (orang orang yang berthawaf). Dalam  sistem tata surya, planet  termasuk bumi juga bergerak mengelilingi matahari sebagai poros . Planet tersebut bergerak sesuai jalur yang ada dan tidak saling berbenturan. Ini juga merefleksikan bahwa pergerakan thawaf yang dilaksanakan jamaah haji itu secara teratur layaknya sunatullah.

Sa’i

Pelaksanaan ibadah sa’i, jamaah haji berlari dari Shofa ke Marwah sebanyak 7x. Namun hal tersebut unik jika dikaitkan dengan fenomena di luar angkasa. Asteroid 2010 So16 merupakan benda langit yang melakukan pergerakan yang aneh. Disampaikan  dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society sebuah jurnal astronomi paling bergensi di dunia, asteroid tersebut membuat jalur pergerakan yang berbentuk ladam atau sepatu kuda. Asteroid ini juga telah  mengorbit bumi selama 250.000 tahun terakhir, namun menurut penelitian orbit unik asteroid ini tak akan abadi. Asteroid ini aneh dan memang memiliki kemiripan dengan gerakan sa’i dalam ibadah haji . Berbeda dengan planet yang mirip gerakan thawaf  di Ka’bah.

Tahallul

Tahallul secara bahasa bermakna menghilangkan atau menggunduli rambut hingga habis. Dalam praktek pelaksanaannya, memang ada batas minimal yakni 3 helai rambut . Namun disunnahkan untuk di gundul. Dalam dunia kesehatan pun , memotong rambut setiap 2 bulan sekali sangat baik untuk menjaga rambut agar kuat dan sehat. Minimal sekali dalam setahun . Hal ini dapat membuat lapisan rambut tetap kuat dan mencegah ujung rambut menjadi bercabang. Lantas mengapa haji yang notabene ibadah universal umat Islam turut peduli dengan praktek tahallul?

Fatanya dalam sains modern, rambut yang tidak pernah dipotong bisa tumbuh rata-rata 2-6 tahun. Jika sudah lebih dari 6 tahun maka rambut tersebut akan mati.  Hal tersebut membuktikan betapa Islam sangat memperhatikan hal yang sangat kecil sekalipun termasuk urusan potong rambut. Minimal setahun sekali saat tahallul. Demi menjaga kesehatan rambut  dan dapat terus tumbuh secara alami sampai usia 60 – 70 tahun misalnya.

Berbagai pelajaran akan sebuah ilmu memang bisa didapat dari beragam sudut pandang . Satu kegiatan ibadah  juga tidak hanya bisa di pelajari secara fiqih, namun juga setidaknya mampu direfleksikan secara sains dalam kehidupan sehari-hari dan juga menjadi penambah wawasan bagi kita semua. Wallâhu a’lam

Penulis             : Wahyu Dwiyanto

Editor              : Ati Auliyaur R

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *