Refleksi Perang Karbala: Kepemimpinan dan Meningkatkan Perdamaian

seputarlampung.com

Be-songo.or.id-Bulan Muharram merupakan bulan yang mulia. Di bulan penuh berkah ini kita bisa belajar dari kepemimpinan yang dihadapi para pemimpin Islam dari mulai khulafaur rasyidin sampai masa sesudahnya, terlebih mengingat bulan Muharram ini terdapat kejadian besar; Perang Karbala.

Sejarah Perang Karbala merupakan bagian dari rentetan panjang sisi kelam dari sejarah umat islam. Diakui atau tidak, klaim kebenaran dan pertumpahan darah juga menjadi bagian dari sejarah Islam. Khalifah kedua, Khalifah Umar bin Khattab terpaksa meregang nyawa setelah ditikam Abu Lu’luah ketika sholat subuh, kemudian berlanjut pada masa Khalifah Utsman bin Affan, konflik berkepanjangan yang berujung pada terbunuhnya sang khalifah. Tak hanya itu, pertumpahan darah juga terjadi pada Khalifah Ali yang dibunuh oleh barisan patah hati, kaum Khawarij; eksekutornya, seorang yang hafal kitab suci, Abdurrahman bin Muljam.

Problematika, perpecahan, klaim kebenaran hingga pertumpahan darah memang sulit dihindarkan. Bahkan perebutan kekuasaan masih terjadi sampai menjelang perang pada abad 7 Masehi. Peperangan antara pendukung dan keluarga cucu Nabi Muhammad SAW dengan pasukan militer dari Yazid bin Mu’awiyyah. perang yang  menumbangkan cucu nabi, sampai saat ini tercatat dalam sejarah sebagai Perang Karbala. Perang Karbala merupakan buntut panjang dari perebutan kekuasaan setelah wafatnya Khalifah Ali bin Abi Ahalib.

Setelah wafatnya Khalifah Ali, Sahabat Muawiyah berambisi merebut kekuasaaan atas Hasan, putra Khalifah Ali. Padahal Khalifah Ali sendiri tidak menyuruh ataupun melarang keturunannya untuk melanjutkan kepemimpinan. Awalnya Hasan menolak pembaiatan atas dirinya. Sampai kepemimpinannya stagnan selama hampir dua  bulan.

Dalam sejarahnya, Hasan mengirim surat perdamaian yang berisi sebuah ajakan kepada Mu’awiyyah untuk bergabung bersama orang yang membaiatnya. Seketika itu penolakan ajakan tersebutlah yang diterima oleh Hasan, hingga Mu’awiyah mengirimkan pasukan untuk menyerang Hasan.

Kemudian mulai muncul beberapa pengkhianat yang diterima oleh Hasan, sehingga membuat Hasan mengalah untuk memberikan kekuasaanya kepada Mu’awwiyah, yang membuat Hasan pergi meninggalkan Kuffah dan memutuskan pergi ke Madinah hingga akhir hayatmya. Hal ini dilakukan supaya tidak ada lagi pertikaian antara mereka dengan didukung tabiat Hasan yang sangat menyukai perdamaian.

Menurut Al-Hamid Al-Husaini dalam Al-Husein bin Ali, Pahlawan Besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya (1978), karakter Hasan disini menjadi salah satu figur pemimpin yang mencintai kedamaian dibandingkan perebutan kekuasaan dan pertumpah darahan.

Baca juga :  Santri Ngaji Internet

Beliau menjelaskan “Jika aku yakin bahwa engkau lebih tepat menjadi pemimpin daripada diriku, dan jika aku yakin bahwa engkau sanggup menjalankan politik untuk memperkuat kaum Muslimin dan melemahkan kekuatan musuh, tentu kedudukan khalifah akan kuserahkan kepadamu,”

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari, yang dikutip Hamka dalam pengantar di buku karya Al-Hamid Al-Husaini, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya anakku [Hasan]—Rasulullah kerap memanggil cucunya dengan ungkapan ‘anakku’—ini adalah Sayid (Tuan). Dan moga-moga Allah akan mendamaikan dengan anak ini di antara dua golongan kaum Muslimin.”

Sementara Mu’awiyyah wafat pada tahun ke 60H setelah mewariskan kekuasaannya kepada anaknya yang bernama  Yazid bin Mu’awiyyah. hal ini menjadi problematika baru, karena harusnya setelah Mu’awiyah, kepemimpinan kembali ke tangan Hasan. Namun, dengan dalih Hasan telah wafat, Mu’awiyah mengangkat anaknya. Terlebih lagi, di tengah kepemimpinannya banyak keresahan yang dirasakan oleh masyarakat atas semua kebijakan yang dibuat Yazid bin Mu’awiyyah, berbagai faktor inilah yang memancing lahirnya gejolak baru.

Masyarakat menginginkan kembalinya Husein untuk menggantikan posisi Yazid bin Mu’awiyyah. Namun di tengah perjalanan Husein ke kuffah, Yazid bin Mu’awiyyah memutuskan mengambil langkah tegas kepada Husein; adik Hasan, cucu nabi yang mulia beserta rombongannya diserbu. Peperangan tak dapat dihindarkan, hingga akhirnya terbunuhlah Husein di tangan tentara utusan Yazid bin Mu’awiyyah.

Dari catatan sejarah kelam ini, terutama terjadinya Perang Karbala di bulan Muharram. Maka di bulan mulia ini, kita dapat merefleksi diri sembari mengambil hikmah dari sejarah kehidupan masa lalu. Perpecahan dan pertikaian akan selalu hadir  menghantui setiap zaman. Penting bagi kita untuk belajar dan mencermati, agar kita bisa melakukan antisipasi demi menjaga perdamaian.

Urgensi menjaga kedamaian dan membangun kepemimpinan yang baik perlu kita teguhkan dalam sanubari. Kita juga perlu memanajemen diri dan masyarakat untuk membangun citra yang lebih baik, karena pada dasarnya kepemimpinan merupakan amanah besar yang harus dijaga bukan untuk diperebutkan. Sejarah Karbala menjadi bukti nyata, kekuasaan mampu menumbangkan siapa saja, termasuk cucu nabi yang mulia.

Penulis             : Resti Fariha dan Ati Auliyaur

Editor              : Faiq Azmi

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *