Resolusi Ramadhan, Meneguhkan Dawamul Istighfar dan Malu ala Kitab Al Minahus Saniyyah

(dokumen istimewa/ be-songo.or.id)

Besongo.or.id Ramadhan merupakan bulan kemuliaan yang menjadi ladang keberkahan dan ibadah. Ramadhan juga sering dikaitkan dengan resolusi diri atau sebagai upaya menggapai pencapaian yang lebih baik terutama dalam sisi spiritual. Aktivitas ibadah sudah sepatutnya ditingkatkan seperti mengaji, perbanyak shodaqoh dan sebagainya. Tujuannya tak lain mendekatkan diri kepada Allah sebagai Dzat pemilik segalanya.

Memaknai Ramadhan melalui kajian Kitab Al Minahus Saniyyah, kitab karya Syekh Sayyid ‘Abd al-Wahhab asy-Sya’rani yang merupakan syarah Syekh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuliy dalam Kitab Qomi’ ath-Thughyaan.Dalam kitab tersebut menjelaskan mengenai perjalanan menempuh spiritual dalam bentuk tarekat.

Dari 17 bab dalam kitab tersebut, penulis mengfokuskan pembahasan dawamul istighfar dan pentingnya rasa malu sebagai upaya resolusi diri di bulan Ramadhan. Keduanya menjadi upaya untuk membumikan kemuliaan bulan Ramadhan.

Mencitrakan Diri dengan Dawamul Istighfar

Ramadhan menjadi bulan yang tepat untuk memperbaiki diri, bukan hanya secara lahiriah namun juga secara batiniah, termasuk memperbaiki citra diri dengan meneguhkan istighfar.

Istighfar memiliki banyak keutamaan, di samping sebagai wujud meminta ampun kepada Allah pemilik segala kasih dan sayang, istighfar juga menjadi salah satu bentuk mawas diri untuk terus belajar dari kesalahan.

Dikutip dalam Kitab Al Minahus Saniyyah;

إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori tersebut dijelaskan bahwasanya Rasulullah beristighfar 70x seharinya. Rasulullah yang memiliki sifat maksum atau terjaga dari dosapun tetap beristighfar setiap harinya.

Rasulullah mengajarkan untuk tetap rendah hati dan selalu meminta ampunan kepada Allah, sifat maksum tersebut tidak lantas membuat beliau sombong. Dari pemahaman tersebut, seharusnya manusia yang notabenenya tak bisa lepas dari dosa dan kesalahan perlu sadar akan urgensi istighfar dalam kesehariannya. Istighfar bukan hanya sebagai upaya mensucikan diri namun sebagai cermin yang menjaga diri dari kesalahan dan dosa.

Dalam kitab tersebut dijelaskan keutamaan mendawamkan istighfar dalam kehidupan, karena istighfar memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan, memberikan kelapangan, dan menjauhkan dari dosa.

Selain itu, istighfar menjadi riyadhoh diri untuk terus sadar akan kekurangan agar selalu membenahi diri lebih baik. Seringkali kita jatuh dalam kata citra yang baik di masyakat namun kualitas batiniah tersebut belum sesuai dengan realitasnya, sehingga urgensi istighfar tersebut untuk meminta ampun pada Allah atas segala pengelabuan tersebut.

Istighfar menjadi upaya manajemen diri, dalam artian mendawamkan istighfar sebagai upaya untuk menyadarkan manusia yang memiliki kelebihan untuk tetap rendah hati dan menjadikan kelemahan untuk terus memperbaiki. Manajemen diri disini juga diartikan menempatkan dirinya secara proporsional, jangan sampai berada pada celah kesombongan.

Baca juga :  Momentum Menggugah Tradisi Santri

Membiasakan Malu Kepada Allah

Urgensi malu bagi kehidupan sebagai upaya malu berbuat dosa dan kesalahan. Malu pada bab ini dijelaskan malu secara syar’i bukan secara tabiat, maksudnya malu bertentangan dengan ketentuan Allah.

Dalam Kitab Al Minahus Saniyyah ibadah memiliki 71 bab, dimana 70 babnya terkandung perintah untuk malu. Malu disini digambarkan dengan menjaga kepala beserta pikirannya dari segala keburukan, begitupun perut dari segala perkara yang haram sehingga manusia tidak mati dalam kebinasaan.

Dikutip dari penjelasan,

خمس من علا مات الشقاء: القسوة في القلب، وجنود العين، وقلة الحياء، والرغبة في الدنيا وطول الا مل

bahwasanya kecelakaan akan menimpa pada lima tempat. Pertama bagi orang yang hatinya keras yakni orang yang tidak mau beristighfar dan dzikir. Kedua orang yang matanya keras;  orang yang tidak pernah menangis akan kesalahan dan dosanya di dunia.

Ketiga orang yang sedikit malunya; dalam kitab tersebut jelas menjelaskan bahwasanya rasa malu sangat penting untuk mengurangi kemaksiatan. Keempat orang yang cinta dunia; dunia adalah hal fana’ yang berbanding terbalik dengan sifat akhirat yang kekal. Kelima orang yang terlalu berangan-angan; kecelakaan akan menimpa orang yang banyak berharap tanpa usaha dan doa kepada Allah.

Sikap malu juga berkaitan dengan munculnya sikap zuhud (meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat di akhirat) dan wara’ (meninggalkan perkara yang diharamkan dan subhat) dalam hati. Malu dan qanaah mampu menembus hati yang menjadi tempatnya zuhud dan wara’, sehingga akan berdampak pada ketenangan batiniah pelakunya. Hal tersebut sesuai dengan kutipan dalam Kitab Minahus Saniyyah hal 15,

و كا ن السري رحمه الله تعالي: ان الحياء والانس يطرقان القلب، فإن وجدا فيه الزهد والورع خطأ والا رحلت وعلا مة المستحيي عدم وقوعه في الذنب

Begitupun sebaliknya, rasa malu akan hilang jika tidak diimbangi dengan adanya zuhud dan wara’.

Ramadhan bisa dijadikan resolusi diri dalam upaya peningkatan spiritualitas. Dengan memahami makna dawamul istighfar dan rasa malu kepada Allah dalam Kitab Al Minahus Saniyyah tersebut diupayakan mampu menambah mahabbah kepada Allah, Dzat Pemilik Cinta. Wallahu a’lam

Penulis             : Ati Auliyaur Rohmah

Editor              : M. Faiq Azmi

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *