Be-songo.or.id

GALERI MANUSKRIP

روضة العلماء ٢
 
Terlindungi:

Santri sosial: Cegah Konflik Sosial di Pesantren dengan Sikap Husnudzon

Konflik sosial di pesantren

Pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang didalamnya terdapat sekelompok orang, yang terdiri dari pengasuh, pendidik, guru, santri, dan beberapa orang yang bertempat tinggal disana.

Dalam proses berkembangnya pesantren sebagai lembaga pendidikan yang dihuni oleh berbagai macam bentuk karakter orang yang berbeda-beda tentu tidak akan terhindar dari permasalahan konflik sosial.

Hal ini disebabkan karena fitrah manusia itu mampu berfikir dan bergerak selaras dengan keinginan pribadinya (hawa nafsunya), bahkan masih banyak orang yang belum mampu mengontrol hawa nafsunya dengan baik.

Begitu juga secara naluriah setiap manusia memiliki kepentingan pribadi yang berbeda-beda. Ada yang selalu sibuk dengan dunia pribadinya, Bahkan ada juga yang terlalu sibuk masuk di kehidupan orang lain.

Sebagai sesama manusia dan sesama santri, penulis rasa ada beberapa permasalahan yang dapat menimbulkan konflik sosial di pesantren:

1. Kurangnya sikap toleran

Kurangnya sikap ini disebabkan oleh perbedaan latarbelakang lingkungan setiap orang, sebelum mereka masuk dunia pesantren lingkungan merekalah yang membentuk karakter setiap individu. Kenapa demikian? karena 50-70 persen lingkungan itu dianggap sangat berpengaruh membentuk karakter dan kepribadian seseorang.

Oleh karena itu, individu yang belum bisa menerima perbedaan latar belakang yang berbeda ini sering kali menimbulkan konflik sosial, karena masih ada orang yang belum bisa menerima dan bertoleransi terhadap perbedaan satu sama lain. Khususnya bagi setiap orang yang hidup di pesantren sendiri.

2. Kurang bersosial dan Tidak Mau Terbuka

Sering menyendiri dan berdiam diri akan menjadi problem tersendiri bagi orang yang hidup di pesantren. Terlebih, kehidupan di pesantren yang notabenya selalu bersinggungan satu sama lain akan terasa berat bagi setiap orang yang tidak suka bersosial dengan warga pesantren lainnya.

Orang yang cenderung diam dan menyendiri maka pikirannya akan mudah dan cepat terganggu, begitu juga sikap yang tidak mau terbuka (berlagak misterius) akan menimbulkan beban sosial tersendiri bagi individu tersebut.

Apalagi jika seseorang diam-diam membicarakan permasalahannya di belakang dan mengeluh di media sosial, sehingga merambah ke wali santri atau oknum yang membenci pesantren, hal itu pasti menjadi problem yang serius bagi nama baik lembaga dan pendidikan pesantren.

3. Penyimpangan Prinsip yang berbeda dengan Pesantren

Keberadaan sekelompok orang maupun individu yang memiliki prinsip yang berseberangan dengan prinsip pesantren dapat menimbulkan konflik sosial di pesantren.

Tujuan dan pola prinsip yang berbeda dengan pesantren akan berakibat fatal bagi setiap orang yang hidup di pesantren, karena perbedaan cara pandang terhadap lingkungan, peraturan, bahkan aqidah akan membuat mereka merasa tidak nyaman dan tidak betah hidup dilingkungan pesantren.

Jika dikaitkan dengan Human Error, Menurut Rasmussen (1926), human error adalah tindakan manusia yang menyebabkan sistem berjalan kurang memuaskan. Tindakan-tindakan yang menyimpang tersebut berpotensi menimbulkan sistem berjalan kurang memuaskan, hal tersebutlah yang akan menjadi konflik sosial bagi setiap orang yang hidup di pesantren.

Sikap husnudzon

Husnudzon berasaldari bahasa Arab namun kini telah diserap ke dalam bahasa Indonesia, dengan arti prasangka baik. Dilihat dari bahasa Arab, husnudzonn terdiri dari 2 kata Dzan dan husn, yang berarti prasangka dan baik.

Husnudzon sendiri merupakan sikap terpuji yang harus dimiliki oleh setiap orang, karena jika sudah memiliki prasangka yang tidak baik (Suudzon) bisa menjerumuskan seseorang ke dalam dosa.

Sedangkan dalam sisi sosiologis, manusia pasti membutuhkan orang lain. Sehingga seseorang itu dituntut untuk berperilaku baik dan sopan kepada orang lain.

Sikap ini juga bisa dijadikan pegangan bagi setiap orang yang hidup di pesantren, untuk menghindari konflik-konflik sosial yang ada didalamnya. Dengan berbaik sangka orang akan bisa lebih menerima perbedaan, orang akan lebih terbuka kepada sesama, bahkan tidak menimbulkan kesenjangan bagi orang yang memiliki prinsip yang berbeda-beda.

Oleh: Ahmad Haris Sa`dullah (Santri Ponpes Darul Falah Besongo dan Mahasiswa UIN Walisongo )

Editor: Nizar Zuhdi