Berita

PSB

Ustadz Tajuddin Jelaskan Bahayanya Perilaku Sum’ah dalam Beribadah

Penyakit hati dapat mengurangi ataupun menghilangkan pahala amalan baik seseorang. Dalam Islam penyakit hati cukup banyak, salah satunya adalah riya’.

“Jadi,ketika kita itu melakukan suatu amal kebaikan yang berpotensi ada pujian di sana, tetapi kita tidak pernah berfikiran seperti itu. Seperti kita ingin istiqomah tadarus, tetapi kita tidak pernah berpikiran, tidak mempunyai niat agar mendapatkan pujian. Maka, hal itu bisa menjadi pamer ketika kita tidak hati-hati,” tutur Ahmad Tajuddin Arafat yang merupakan Ustadz di Ponpes Darul Falah Besongo Semarang .

Beliau mencontohkan, ketika selama pada bulan Ramadhan, kita ingin istiqomah tadarus Al-Quran, kemudian ada masyarakat yang menawarkan atau memberi makanan atau minuman seperti kopi, lalu kita menolaknya. Kemudian, masyarakat itu memberi pujian kepada kita, dan kita nyaman dengan pujian itu, maka itu termasuk dari bagian sum’ah dan bisa menimbulkan pada riya’.

“Islam mengenal adanya sifat sum’ah. Sifat ini termasuk perilaku tercela yang dilarang oleh Allah SWT. Sebab, sum’ah bisa menjadikan seseorang kehilangan pahala serta keberkahan dari amal ibadah yang dikerjakan,” paparnya.

Ustadz Tajuddin menyampaikan hal tersebut, dalam Ngaji Sanadan Kitab Minahus Saniyah, yang bertempat di Masjid Raudlatul Jannah Perumahan Bank Niaga Semarang, Ahad (26/3/2023).

Lanjut beliau, sementara ini yang sering kita lihat bahwa riya’ adalah memamerkan kebaikannya. Meninggalkan atau melakukan sesuatu yang baik karena orang lain itu baru dikatakan pamer dan melakukan sesuatu yang baik karena orang lain itu syirik. Jadi, yang selama ini kita pahami bahwa itu riya’ dalam menurut versinya Imam imam fudayl ibn iyad itu syirik, karena menduakan kita dengan Allah.

Disampaikan, ikhlas dalam bahasa ilmu tasawuf tidak murni dari kita. Tetapi harus ada ridlo Allah di dalamnya. Sehingga kita tidak terjebak dari dua hal ini. Ketika terdapat seseorang ingin menceritakan kelebihannya, meskipun tidak memiliki niat sama sekali untuk pamer, maka itu tetap termasuk bagian dari riya’. Beda lagi kalau untuk memotivasi. Seperti pada waktu ngaji, kiai bercerita tentang pengalamannya.

Ditambahkan, salah satu indikasi yang menjadi perkara baik yang diceritakan menjadi perkara sombong diantaranya indikasinya adalah bagaimana respon orang yang diajak ngomong. Kalau responnya menjadikan semangat untuknya, maka itu namanya tahadduts bil-Ni’mah.

“Tetapi, jika orang yang diajak berbicara responnya tidak suka, maka itu termasuk bagian dari sombong,” pungkasnya.

Oleh: Ema Magfiroh (Santriwati Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang dan Mahasiswi UIN Walisongo Semarang)