Berita

PSB

Ustadzah Mutma’inah Sebut Aktualisasi Diri Sebagai Kebutuhan Tertinggi Manusia

(Narasumber Kesetaraan Gender/Ustadzah Mutma’inah/Pascalib 2023)

Dewasa ini semakin marak isu kesetaraan antara laki-laki dan perempuan atau lebih populer dikenal dengan ungkapan kesetaraan gender. Gender dan jenis kelamin itu berbeda. Gender berkaitan dengan identitas berdasarkan konstruksi sosial (bisa ditukar). Adapun jenis kelamin berkaitan dengan peran biologis yang erat berkaitan dengan alat reproduksi yang melekat pada laki-laki atau perempuan.

“Jika di Pondok Pesantren Besongo terlihat kang dan mbak santri yang saleh-salehah bersama-sama menyapu halaman, itu tidak melanggar kodrat mereka. Sebab, itu adalah peran gender,” ujar Dosen Ushuluddin dan Humaniora (FUHum) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang (UIN) Mutma’inah.

Hal itu disampaikan dalam acara Pasca Liburan (Pascalib) 2023 dalam Seminar yang bertajuk “Kesetaraan Identitas dalam Produktivitas Diri Pada Santri” yang dihelat Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang, Selasa (07/02/2023).

Disampaikan, salah satu variabel yang berkaitan dengan tema tersebut adalah kesetaraan identitas yaitu kedudukan yang sama sebagai manusia seutuhnya. Lebih jauh beliau mengemukakan teori Abraham Maslow tentang hierarki kebutuhan manusia atau a theori of human motivation yang menyebutkan bahwa kebutuhan tertinggi manusia adalah aktualisasi diri yang di dalamnya terdapat pengembangan diri, pemenuhan ideologi, dan lain-lain.

Beliau lanjut menceritakan sejarah munculnya feminisme. Konsep feminisme pertama kali dimunculkan oleh Mary Wollstonecraft di Inggris pada abad ke-18. Setelah itu muncul dan berkembang feminisme-feminisme yang lain. “Yang membedakan feminisme-feminisme tersebut adalah bagaimana mereka menganalisis akar ketimpangan perempuan atau apa yang membuat perempuan itu diperlakukan secara tidak adil,” tuturnya.

Beliau menyebutkan bahwa laki laki dan perempuan itu diciptakan setara sebagaimana ditegaskan dalam QS. Az-Zariyat ayat 56. “Laki-laki dan perempuan diciptakan bukan untuk menguasai satu sama lain karena keduanya hanyalah hamba Allah,” ujarnya.

Lebih lanjut beliau mengemukakan bahwa dampak ketidaksetaraan adalah adanya kesenjangan atau ketimpangan gender yang berimplikasi kepada diskriminasi terhadap salah satu pihak. Hal itu menyebabkan salah satu dari mereka tidak bisa melakukan aktualisasi diri dengan baik. Laki-laki dan perempuan bukan hanya makhluk fisik melainkan juga makhluk sosial, intelektual, dan spiritual. “Laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam mewujudkan aktualisasi diri sesuai dengan kelebihan masing-masing,” ungkapnya.

Pada akhir pemaparan materi, Mutmainah memberikan tips kepada para santri dalam mewujudkan kesetaraan tersebut. Salah satunya adalah dengan mengamalkan nilai-nilai kesetaraan baik dalam berpikir maupun berperilaku.

Oleh: Nur Izatun Nafsyi (Santriwati Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang dan Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)

Editor: Lyna Anifa