Be-songo.or.id

Antara FOMO dan Perencanaan: Refleksi Keuangan Gen Z di Era Digital

Pengelolaan keuangan bukan hanya sekadar keterampilan tambahan, melainkan sebuah hal yang telah menjadi kebutuhan dasar bagi generasi muda, khususnya Generasi Z yang sedang memasuki fase awal kehidupan mandiri. Kegiatan seminar dengan tema“Refleksi Pengelolaan Keuangan Gen Z” membuka kesadaran bagaimana cara seseorang mengalokasikan uang adalah hal yang sangat dipengaruhi oleh pola pikir (mindset), latar belakang keluarga, pengalaman hidup, serta kondisi sosial, seperti halnya pada fenomena generasi sandwich. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada satu cara yang mutlak benar dalam mengelola keuangan, karena setiap individu memiliki konteks dan tantangan yang berbeda.

Dalam seminar tersebut ditegaskan bahwa uang yang pada dasarnya memiliki sifat netral. Uang dapat disimpan, digunakan, maupun dikembangkan melalui investasi. Adapun nilai baik atau buruk dari uang sangat ditentukan oleh bagaimana individu mengelolanya. Oleh karena itu, persoalan utama bukan terletak pada jumlah uang yang dimiliki, melainkan pada kemampuan mengatur dan mengambil keputusan finansial secara bijak, terutama ketika generasi muda mulai menghadapi fase menerima gaji pertama.

Dalam perspektif Islam, uang tidak hanya dipandang sebagai alat tukar atau nominal rupiah semata, melainkan sebagai amanah dari Allah Swt. Harta yang dimiliki merupakan rezeki yang harus diperoleh secara halal dan thayyib, serta dikelola dengan penuh tanggung jawab. Dengan demikian, pengelolaan keuangan tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga mengandung dimensi moral dan spiritual.

Kita lihat bagaimana era saat ini, tantangan pengelolaan keuangan menjadi semakin kompleks di era digital. Kemudahan akses melalui mobile banking, e-wallet, QRIS, serta berbagai platform keuangan digital disisi lain memang banyak memberikan banyak kemudahan. Namun, di sebaliknya, kemudahan ini juga dapat membawa risiko meningkatnya perilaku konsumtif, penggunaan paylater dan pinjaman online, serta fenomena fear of missing out (FOMO) yang mendorong seseorang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan karena gengsi sosial atau tekanan tren. Banyaknya kalangan masyarakat yang telah termakan oleh arus perkembangan zaman ini, seolah-olah uang hanya menjadi satu-satunya alat yang dapat memuaskan haya hidup, maraknya generasi-generasi FOMO yang saat ini membutuhkan perhatian lebih yang sangat disayangkan.

Perilaku konsumtif dan sikap boros ini bertentangan dengan ajaran Islam. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Isrā’ ayat 26-27:

وَءَاتِ ذَا ٱلْقُرْبَىٰ حَقَّهُۥ وَٱلْمِسْكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ٢٦

إِنَّ ٱلْمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخْوَٰنَ ٱلشَّيَـٰطِينِ ۖ وَكَانَ ٱلشَّيْطَـٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًۭا ٢٧

26. Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

27. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.

Ayat ini menegaskan bahwa sikap tabdzir (boros) merupakan perilaku yang harus dihindari. Oleh sebab itu, generasi muda perlu lebih bijak dan berhati-hati dalam mengelola pengeluaran agar tidak terjebak pada gaya hidup yang melampaui kemampuan finansial, termasuk dalam penggunaan paylater, pinjaman online, serta pembelian barang karena dorongan tren semata.

Berbagai contoh nyata yang dapat kita lihat dari kasus ini yakni, seperti membeli gawai terbaru demi mengikuti tren, nongkrong estetik meskipun harus berutang, hingga penggunaan pinjaman online dengan bunga yang memberatkan. Realitas ini menunjukkan bahwa betapa lemahnya perencanaan keuangan individu dapat berdampak pada ketidakstabilan finansial di masa depan. Oleh karena itu, kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan menjadi kunci utama dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.

Dengan demikian, pesan penting yang dapat kita fahami yakni: harta bukanlah hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang bagaimana harta tersebut dikelola dengan penuh tanggung jawab, dengan menanamkan prinsip kehati-hatian, perencanaan, serta menjauhi sikap boros, generasi muda diharapkan mampu membangun kemandirian finansial yang tidak hanya stabil secara ekonomi, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai Islam.

Oleh: Nadia Na’immatun Nadhifah (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)

REKOMENDASI >