Di tengah arus digitalisasi, pembelajaran aksara pegon menjadi pengingat penting bahwa tradisi litarasi Nusantara masih hidup dan relevan untuk dipelajari, Seminar Intensif Pegon yang dilaksanakan pada hari keempat rangkaian kegiatan Pasca Liburan (PASCALIB) 2026 Pondok Darul Falah Besongo, bertempat di Asrama B13, menghadirkan Dr. H. Ahmad Tajuddin Arafat, M.S.I. sebagai pemateri. Dijelaskan bahwa aksara Pegon berasal dari kata pego, yaitu pengucapan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan bahasa aslinya. Meskipun secara visual menggunakan huruf Arab, aksara Pegon memiliki sistem yang berbeda dari bahasa Arab.
Aksara ini merupakan hasil proses akulturasi yang panjang, mulai dari adopsi hingga modifikasi oleh masyarakat Nusantara, sehingga mampu digunakan untuk menuliskan bahasa-bahasa lokal seperti Jawa, Sunda, dan Madura. Penjelasan ini menjadi salah satu bagian menarik karena menunjukkan bahwa Pegon bukan sekadar turunan, melainkan bentuk kreativitas intelektual masyarakat masa lalu.
Dalam praktiknya, aksara Pegon hingga kini masih banyak digunakan di lingkungan pesantren, terutama sebagai sarana memaknai kitab kuning. Namun, penjelasan yang diberikan oleh pemateri juga membuka wawasan bahwa pada masa lampau, Pegon tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu belajar, tetapi juga digunakan untuk menulis teks-teks keagamaan dan bahkan prasasti. Fakta tersebut memperkuat pandangan bahwa Pegon memiliki peran penting dalam sejarah literasi Islam di Nusantara.
Selain aksara Pegon, disinggung pula mengenai aksara Jawi sebagai bentuk adopsi aksara Arab yang lebih awal. Banyak orang masih keliru menganggap aksara Jawi sebagai aksara Jawa, padahal aksara ini digunakan untuk bahasa Melayu dan pernah menjadi bahasa resmi di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-15 hingga ke-16. Selain kedua aksara tersebut, terdapat pula beberapa etnis lain di Nusantara yang mengadopsi aksara Arab ke dalam bahasa mereka masing-masing. Di Sulawesi Selatan, dikenal aksara Serang yang digunakan untuk menuliskan bahasa Makassar. Sementara itu, masyarakat Wolio di Buton mengembangkan sistem penulisan Buri Wolio, dan di wilayah Gorontalo dikenal Me’eraji yang digunakan untuk menuliskan bahasa Hulontalo atau Suwawa.
Aksara Pegon tetap memiliki peluang di masa depan karena menjadi salah satu aksara Nusantara yang masih digunakan secara luas di lingkungan pesantren. Namun, terdapat beberapa tantangan yang menyertainya, salah satunya adalah belum adanya tata tulis baku atau ejaan yang disepakati secara umum. Variasi huruf yang beragam membuat setiap penulis dapat memiliki gaya penulisan yang berbeda, bahkan dalam satu lingkungan yang sama.
Menanggapi hal tersebut, pemateri menegaskan bahwa keragaman tersebut justru merupakan karakter utama Pegon. “Aksara Pegon itu dinamis, jadi dalam penulisan tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah.” ujarnya. Selama tulisan tersebut masih mampu merepresentasikan bunyi bahasa yang dimaksud. Pernyataan ini menjadi refleksi penting bahwa perbedaan bentuk dan ejaan dalam Pegon bukanlah sebuah kekeliruan, melainkan cerminan dari proses adaptasi bahasa dan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat pesantren dan Nusantara.
Tidak hanya berhenti pada pembahasan konseptual, pembelajaran Pegon kali ini juga diarahkan pada pengalaman praktik secara langsung. Para santri dan santriwati diajak mencoba menulis aksara Pegon sebagai bagian dari proses pembelajaran dengan menggunakan buku Al-‘Arabiy karya A.A. Bahauddin sebagai pendamping latihan.
Disinggung pula mengenai keberadaan aksara Pegon di ruang digital, baik pada gawai maupun komputer. Pada tahap saat ini, aksara Pegon sebenarnya sudah dapat digunakan dalam bentuk pengetikan pada perangkat digital, meskipun masih terbatas pada perangkat yang telah terpasang font tertentu pada aplikasi yang digunakan. Kondisi ini menunjukkan bahwa Pegon mulai memasuki ruang digital, namun masih memerlukan dukungan teknis dan pengembangan lebih lanjut agar penggunaannya dapat diakses secara lebih luas.
Oleh: Nabil Azfa Azzubair (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)



















