Kegiatan “Pascaliburan” Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang, diawali dengan nuansa penuh makna melalui seminar manasik haji dan umroh. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kembali semangat belajar para santri setelah masa liburan. Seminar ini menghadirkan narasumber Ibu Naila Faiza, S. Pd., yang memaparkan gambaran umum seputar manasik haji dan umroh.
Haji dan umrah bukan sekadar perjalanan ibadah biasa, melainkan sebuah kehormatan besar. Dalam Islam, jamaah haji dan umrah disebut sebagai duyūfur raḥmān (tamu-tamu Allah) dan duyūfur rasūl (tamu Rasulullah). Sebutan ini menegaskan bahwa haji dan umrah merupakan panggilan murni dari Allah Swt, bukan semata hasil kemampuan finansial. Tidak semua orang yang mampu secara finansial dapat menunaikan ibadah haji dan umrah. Ada yang telah menabung bertahun-tahun, tetapi belum juga berangkat. Ada pula yang secara ekonomi biasa saja, tetapi Allah mudahkan langkahnya menuju Tanah Suci. Realitas ini menegaskan bahwa menjadi tamu Allah tidak cukup hanya bermodal biaya, melainkan juga menuntut kesiapan fisik, kesiapan mental, serta bekal ilmu manasik haji dan umrah.
Dalam realita kehidupan, tidak sedikit orang yang belum siap menunaikan haji dan umrah karena faktor fisik. Rangkaian ibadah di Tanah Suci menuntut ketahanan tubuh. Seperti halnya thawaf, sa’i, dan wukuf yang membutuhkan kondisi tubuh atau stamina yang baik. Selain itu, kesiapan mental juga menjadi kunci utama dalam melaksanakan ibadah haji dan umrah. Ibadah haji dan umrah bukan hanya menguji raga, tetapi juga kesabaran dan kemampuan mengendalikan diri. Tanpa kesiapan mental, seseorang akan mudah tersulut emosi, marah, dan sulit mengendalikan diri. Kondisi ini dapat mengurangi kenyamanan dan kekhusyukan dalam menjalankan ibadah haji dan umrah.
Allah Swt. telah memberikan pedoman yang jelas terkait bekal terbaik dalam ibadah haji, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 197:
اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ ١٩٧
Artinya: (Musim) haji itu (berlangsung pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Siapa pun yang mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, janganlah berbuat rafas, berbuat maksiat, dan berdebat dalam (melakukan ibadah) haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan (pasti) Allah Swt mengetahuinya.. Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 197, Allah Swt. menegaskan bahwa sebaik-baik bekal adalah takwa (khairu zādit taqwā). Takwa inilah yang menjadi pokok dari kesiapan mental seorang jamaah haji dan umrah. Takwa dapat diwujudkan melalui upaya memperbaiki hubungan dengan Allah (ḥablum minallāh) dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia (ḥablum minannās).
Dalam memperbaiki hubungan dengan Allah, jamaah haji dan umrah perlu menanamkan rasa syukur atas kesempatan menjadi tamu-Nya, menjaga niat agar ibadah haji dan umrah dilakukan semata-mata karena Allah, memperbanyak zikir dan doa sebagai bentuk kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat membutuhkan pertolongan Allah. Selain itu, muhasabah diri dan taubat menjadi bagian penting dari kesiapan mental. Perjalanan ke Tanah Suci seharusnya menjadi momentum meninggalkan maksiat dan memperbaiki diri. Seluruh ikhtiar tersebut kemudian disempurnakan dengan sikap tawakkal, yakni berserah diri sepenuhnya kepada Allah sejak keberangkatan hingga kembali ke tanah air.
Takwa juga tercermin dalam hubungan dengan sesama manusia. Ibadah haji dan umrah mempertemukan jutaan umat Islam dari berbagai latar belakang budaya, bahasa, dan karakter. Dalam situasi seperti ini, kesabaran, empati, dan kemampuan mengendalikan diri menjadi ujian yang nyata. Menjaga lisan, mengelola hati, serta saling menghormati merupakan wujud konkret dari ketakwaan selama berada di Tanah Suci.
Dengan demikian, kesiapan mental dan fisik bagi jamaah haji dan umrah merupakan bekal utama agar ibadah haji dan umrah dapat dilaksanakan dengan khusyuk, tertib, dan sempurna. Ketika kesiapan ini dilandasi oleh takwa, maka haji dan umrah tidak hanya menjadi perjalanan spiritual, tetapi juga menjadi sarana transformasi diri menuju pribadi yang lebih sabar, tawadhu’, dan bertakwa.
Oleh: Niswatul Azkiya (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)



















