SEMARANG – Liburan semester bagi santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang bukanlah masa untuk sekadar melepas penat fisik. Di bawah temaram fajar, mereka justru diajak menyelami kedalaman spiritualitas melalui pengajian subuh yang diampu langsung oleh pengasuh pesantren, Abah KH Imam Taufiq. Dalam kajian terbarunya, Kyai Imam membedah tuntas hakikat Surah Al-Ikhlas dengan merujuk pada pemikiran jernih Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi, ulama besar Mesir yang dikenal dengan gelar Mu’jizat al-’Ashr.
Kajian dibuka dengan kupasan mendalam mengenai alasan mengapa Surah Al-Ikhlas memiliki kedudukan istimewa hingga setara dengan sepertiga Al-Qur’an. KH Imam Taufiq memberikan catatan teologis yang tajam untuk membedakan antara pahala (al-jaza’) dan pemenuhan kewajiban (al-ijza’). Meski secara pahala melimpah, membaca surah ini tidak lantas menggugurkan kewajiban mempelajari hukum dan kisah yang tersebar di sisa ayat Al-Qur’an lainnya. Namun secara esensi, Al-Ikhlas adalah jangkar akidah, fondasi utama sebelum seseorang melangkah pada dua pertiga kandungan Al-Qur’an lainnya yang berisi hukum dan sejarah.
Menariknya, pengajian ini tidak hanya berhenti pada teori tafsir, namun juga menyentuh dimensi praktis melalui tradisi tarekat. Kyai Imam menjelaskan bahwa gerak kepala dalam dzikir Lā ilāha illallāh memiliki filosofi yang mendalam. Gerakan dari pusar ke ubun-ubun saat melafalkan Lā merupakan simbol penafian seluruh nafsu duniawi. Saat menoleh ke kanan pada kata Ilāha, seseorang sedang menepis segala bentuk berhala ambisi dari pundaknya. Hingga akhirnya, kalimat Illallāh dihujamkan ke jantung di dada kiri untuk membakar cahaya tauhid di pusat ruhani. Teknik Dzikir Nafi Itsbat ini bukan sekadar gerak fisik, melainkan cara mengikat seluruh saraf tubuh agar bersaksi dan terhindar dari kelalaian jiwa.
Masuk ke dalam perspektif Syekh Sya’rawi, Kyai Imam memaparkan logika ketuhanan yang sangat menyentuh hati. Dimulai dari pemilihan kata Ahad yang menegaskan keesaan mutlak yang tak terbagi, berbeda dengan Wahid yang masih menyisakan ruang bagi angka selanjutnya. Allah kemudian diperkenalkan sebagai Ash-Shomad, tumpuan segala urusan. Ibarat urusan birokrasi yang paling efisien, Allah adalah “Direktur Tertinggi” yang tidak memerlukan perantara, tempat semua makhluk bergantung sepenuhnya tanpa Dia bergantung pada siapapun.
Sifat kemanusiaan pun ditanggalkan secara total melalui ayat Lam Yalid wa Lam Yulad. Kyai Imam menjelaskan bahwa reproduksi hanyalah cara bagi makhluk fana untuk menyambung keberadaan mereka. Karena Allah bersifat kekal (Baqa’), maka ketergantungan pada keturunan menjadi mustahil bagi-Nya. Kesempurnaan ini dikunci dengan prinsip Kufuwan Ahad, sebuah pengingat bahwa apapun imajinasi yang melintas di pikiran manusia tentang bentuk Tuhan, maka Allah dipastikan tidak seperti itu.
Menutup kajiannya, KH Imam Taufiq menyebut Surah Al-Ikhlas sebagai “KTP” atau identitas resmi yang diperkenalkan Allah kepada hamba-Nya. Dengan memahami identitas ini, seorang Muslim tidak akan lagi terjebak dalam imajinasi liar tentang zat Sang Pencipta. Fokus seorang hamba seharusnya kembali pada kemurnian tauhid, sebab siapa pun yang meyakini isi surah ini, sesungguhnya ia telah memurnikan seluruh agamanya hanya untuk Allah semata.
Oleh: Abdus Salam Bariklana (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)



















