Meski sudah hampir tiga tahun sejak pertama kali dirilis pada 2022, lagu “33×” ini sedang naik daunnya berkelindan di telinga generasi muda, terlebih dalam menghadapi QLC (Quarter Life Crisis). Sepadan dengan Hindia dan Feast, mereka mengemas kehidupan dalam sebuah melodi. Fragmen spiritualitas yang dibalut dalam realisme magis keseharian.
Lagu “33×” dari Band Perunggu tidak menawarkan puncak yang berapi-api, bukan suatu klimaks yang menggaungkan kemenangan. Ketidaksempurnaan, perlambanan, pengulangan, dan rasa berserah yang mampu diaduk dalam gelas kehidupan. Bak catatan batin manusia yang baru saja menurunkan bahu, selepas sekian lama menegakkan dadanya.
Bukan dari Ketaatan Formal, melainkan Pengakuan Keterbatasan
“Risalah terikatnya”
Lagu Perunggu tersebut diawali dengan kata risalah. Bergumam dalam diri bahwa risalah merupakan pesan yang dititipkan tanpa berteriak. Diterima oleh batin dan raga yang saling berkoneksi namun terkunci. Dunia tak memenjarakan manusia. Sebaliknya, manusialah yang terlalu keras mengendalikan genggamannya sendiri.
Sejatinya kendali berada “di atas Sang Maha Daya”. Lagu ini tak sedang berkhotbah, melainkan mengacak-acak pundak kita untuk segera tersadar bahwa manusia mempunyai titik di mana ia harus mengakui hidup yang tak sepenuhnya sesuai dengan takaran angannya.
Overtune tanpa Bridge dan Interlude
Nada melangkah terlalu tinggi dari tatanan harmoni yang sudah mapan. Bukan ½, melainkan 1 nada. Nada dasar G mayor yang bermodulasi menjadi A mayor pada bagian verse 3 selepas chorus, tanpa adanya interlude maupun penambahan bridge, seperti halnya masuk ke dimensi lain. Menimbulkan perasaan ganjil yang tak salah, hanya saja jarang terjadi pada lagu ber-genre Indie.
Bak realita yang tak sesuai dengan harapan. Ketidakselarasan ini menjadi suara batin manusia yang sering kali menimbulkan banyak pertanyaan kepada Tuhan. Kiranya bukan solusi yang dibutuhkan, melainkan menoleh ke belakang dan mem-“buka lagi visimu”. Bukan untuk memperbaiki dunia, tetapi memperbarui cara pandangnya.
Lirik “rotasikan pandanganmu” membersamai overtune A mayor yang menjadi refleksi kita agar tetap berikhtiar dalam menghadapi masalah, mengajak kita untuk melihat hidup bukan hanya dari point of view sendiri, tetapi sebagai pengakuan bahwa tak sepenuhnya yang sudah kita rencanakan itu tepat dan sesuai.“… . Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” QS. Al-Baqarah (2):216.
Muhasabah dalam Balutan Nirfungsi
Frasa yang sunyi nan kejam, sekaligus menggambarkan keadaan manusia tetap bergerak, hidup, bekerja, namun tak tahu lagi bagaimana dan untuk apa. Manusia akan lupa dengan tujuan ilahiah hidupnya, disitulah “pusaran nirfungsi” menyuruh untuk memetakan ulang, mengingat kembali titik tuju yang sudah terpatri.
Menoleh ke dalam, bukan ke luar. Dalam spiritualitas, serupa dengan konsep muhasabah. Bukan menjadi masalah jika dalam proses menemukan tujuan hidup dengan cara perlahan, sebab “melamban bukanlah hal yang tabu” untuk mengembalikan makna, bukan menambah kecepatan. Terlepas dari hiruk pikuk duniawi, terkadang melamban memang diperlukan untuk sejenak menghibahkan beban, bersandar pada bahu-Nya yang selalu hadir walaupun kondisi kita sedang kocar-kacir.
Analogi Judul Lagu “33×” dengan Repetisi Dzikir
Chord pada bagian verse yang berulang sama persis polanya menjadi simbolis tentang judul lagu yang merupakan pengulangan tasbih, tahmid, dan takbir. Mulut komat-kamit, tangan menghitung pengulangan nama-Nya, namun pikiran menghitung dunia. Penggambaran seorang yang kalut dalam pencarian makna spiritual untuk menghidupkan jiwanya yang kian lama mati.
Repetisi dalam praktik spiritualnya merupakan jembatan menuju fase trans yang mengarah pada kekhusyukkan. Angka 33 pada lagu Band Perunggu ini sebagai leitmotif, yakni motif yang berulang untuk menyatukan tatanan emosional lagu. Maknanya bukan sebagai hitungan matematis, melainkan setelah pencarian panjang. Terkadang iman hadir setelah lelah mencoba segalanya berulang kali. Repetisi ini mengingatkan pada intuisi dzikir bukan sebagai ritual, namun sebagai genggaman di tengah penatnya dunia. Tiga puluh tiga kali, sebagai upaya manusia fana untuk mengetuk langit secara persisten.
“Sebutlah nama-Nya, tetap di jalan-Nya, resapilah jalan-Nya”.
Dialog Dramatik antara Ego dan Ilahi
Pergulatan hebat dengan Tuhan yang tak selalu menyuguhkan pujian mulus, namun keluh kesah. Memprotes segala proses yang akhirnya merujuk pada penyerahan diri total yakni tawakkal. Pada akhir sesi ini tidak memintanya untuk diam, melainkan untuk “terus berenang, lanjutlah mendaki”. Ketenangan yang tetap bergerak sepanjang niat itu sendiri, sebab “jalanmu kan sepanjang niatmu”.
Ketidaksempurnaan inilah yang membuat insan berani untuk jujur tentang rapuhnya seorang hamba, menyuguhkan konflik internal tanpa antagonis eksternal. Entah sudah berapa kali aku menyebut nama-Nya, bukan sebagai pembersihan diri, semata agar tak tenggelam lagi.
Gemuruh riuh nan anggun, gumam meringkuk pikun. Terbangun dalam alun-alun, kirana sangat tertegun. Berapa lama lagi samudra ini berselimut dalam lamun?
Hingga aku menyadari dunia tak sekedar pantun, yang rima dan polanya selalu tekun.
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” QS. Al-Hasyr (59):19.
Oleh: Fina Nur Anisah ( Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)



















