Semarang – (31/01/2026) Pondok Pesantren Darul Falah Besongo secara resmi membuka rangkaian kegiatan Pasca Liburan (Pascalib) 2026 sebagai agenda tahunan untuk membangun kembali semangat belajar dan adaptasi santri setelah masa liburan. Bertempat di Ndalem C13, yang dihadiri langsung oleh para pengasuh, ustadz dan ustadzah, serta para santri dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa memiliki dan cinta santri terhadap pondok, agar dianggap sebagai rumah kedua.
Ketua Panitia Pascalib, Bintang Diqri Hidayatullah, menyampaikan bahwa kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih satu minggu dengan rangkaian seminar dan pembinaan. Jihan Siti Afifah, selaku Ketua Pondok Darul Falah Besongo menjelaskan bahwa Pascalib berfungsi sebagai “warming up” mental dan spiritual sebelum santri menghadapi perkuliahan dan pembelajaran pondok.
Ia juga menyampaikan harapannya, kegiatan pascalib ini dapat di ikuti dengan baik dan dapat mengambil pelajaran dari setiap seminar yang di ikuti. “Semoga teman-teman bisa mengikuti kegiatan pascalib dengan semangat dan dapat mengambil materi yang telah disampaikan”, ujarnya.
Pengasuh Pondok, KH. Imam Taufiq, menegaskan nilai historis Pascalib sebagai ciri khas Pondok Besongo sejak awal berdiri. Beliau menekankan pentingnya adaptasi santri melalui materi beragam, mulai dari praktis hingga aktual, serta pemahaman tirakat ubuddiyah, spiritual, dan digital untuk membangun bobot rohaniah dan ilmiah. Pembukaan acara ini ditandai dengan simbolisasi pemukulan bass oleh abah KH. Imam Taufiq.
Acara inti pembukaan mengangkat tema “Memaknai Ekoteologi: Santri yang Responsif terhadap Lingkungan”, dipandu oleh moderator Indy Ainun Hakimah dan menghadirkan pemateri luar biasa yaitu Bapak Ahmad Fauzan Hidayatullah. Dalam pemaparannya, mengenai ekoteologi dijelaskan bahwasannya manusia itu sebagai pengelola bumi, bukan pemiliknya, dengan potensi adanya pesantren dapat mendorong kesadaran ekologis melalui pendidikan nilai, iman, ilmu, dan tanggung jawab sosial.
Setelah sesi pemaparan materi selesai, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab kepada santri putra maupun santri putri mengenai fenomena yang terjadi belakangan ini. Dari beberapa pertanyaan yang di sampaikan, dapat disimpulkan bahwasannya:
- Peran Santri dan Mahasiswa dalam Konflik Kebijakan Negara: Ekoteologi di pesantren dapat berjalan melalui praktik internal, namun ketika negara mendorong eksploitasi seperti tambang nikel dan deforestasi, santri dan mahasiswa harus berperan sebagai agen kritis. Mereka perlu membangun kesadaran publik, mengedukasi masyarakat, serta mengawal kebijakan melalui advokasi, riset, dan keterlibatan organisasi sosial untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan keberlanjutan ekologis.
- Penyebab Eksploitasi: Populasi vs Konsumtif: Eksploitasi sumber daya alam tidak hanya dipicu keinginan konsumtif, tetapi juga pertumbuhan populasi global yang meningkatkan kebutuhan dasar seperti energi, pangan, dan perumahan. Hal ini mendorong negara dan industri untuk eksploitasi, namun tanpa pengendalian, berpotensi merusak lingkungan dan memperbesar ketimpangan sosial.
- Peran Sektor Manufaktur dalam Kemajuan Negara: Sektor manufaktur penting untuk menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah dari bahan mentah, didukung oleh pertambangan dan industri. Namun, pembangunan harus diimbangi prinsip keberlanjutan agar tidak merusak lingkungan. Negara perlu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan perlindungan lingkungan untuk kemajuan yang adil, stabil, dan berkelanjutan.
Melalui Pascalib 2026, Pondok Pesantren Darul Falah Besongo berharap santri kembali menjalani pendidikan dengan semangat baru, kesiapan mental, serta kesadaran spiritual dan sosial yang lebih kuat. Serangkaian kegiatan pembukaan Pascalib 2026 ditutup dengan doa bersama yang di pimpin oleh ustadz Ahmad Tajuddin Arafat.
Oleh: Najih Syauqi (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)



















