Be-songo.or.id

Peringatan Nuzulul Quran di Darul Falah Besongo: Perkuat Cinta Santri terhadap Al-Qur’an

Semarang, Ahad (8/3/2026) — Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, menggelar peringatan Nuzulul Quran dengan tema “Menghidupkan Nilai Wahyu di Tengah Dinamika Kehidupan.” Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman serta penghayatan santri terhadap Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Dalam rangkaian acara tersebut, Ustadzah Rohatin Aulana menyampaikan mau’idhah hasanah yang mengajak para santri untuk memaknai Al-Qur’an tidak hanya sebagai bacaan, tetapi juga sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Beliau menjelaskan bahwa pada bulan Ramadan terjadi peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai peristiwa Nuzulul Quran, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT pada Surah Al-Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Ayat tersebut menerangkan bahwa bulan Ramadan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta pembeda antara yang benar dan yang batil.

Berdasarkan ayat tersebut, Ustadzah Rohatin Aulana menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup bagi umat manusia. Oleh karena itu, memaknai Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membacanya, tetapi juga dengan memahami serta mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.

Beliau juga mengingatkan kembali proses pembelajaran Al-Qur’an yang telah dilalui para santri, mulai dari mempelajari ilmu tajwid, tahsin, hingga menghafalnya. Menurut beliau, tujuan dari proses tersebut bukan semata-mata agar seseorang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, melainkan agar nilai-nilai Al-Qur’an dapat tertanam dan hadir dalam perilaku sehari-hari.

“Hakikat berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah membaca, memahami, dan mengamalkannya,” tutur beliau. “Jika Al-Qur’an hanya dibaca tanpa dipahami dan diamalkan, maka manfaatnya hanya berhenti di lisan, tidak sampai menyentuh hati, apalagi memberi pengaruh terhadap perbaikan kehidupan.”

Dalam tausiyahnya, beliau juga mengisahkan sebuah riwayat ketika Sayyidah Aisyah RA pernah ditanya oleh seorang sahabat mengenai bagaimana akhlak Nabi Muhammad SAW. Sayyidah Aisyah menjawab bahwa akhlak Nabi adalah Al-Qur’an. Hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh perilaku Nabi Muhammad SAW merupakan teladan dari nilai-nilai yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Beliau mencontohkan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan teladan dalam mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an, seperti kesabaran, kejujuran, dan kasih sayang kepada sesama.

Lebih lanjut, beliau mengingatkan bahwa semangat membaca Al-Qur’an perlu diiringi dengan upaya memahami dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam perilaku sehari-hari. Sebab, Al-Qur’an hadir sebagai pedoman yang memberikan arah dan kejelasan bagi manusia untuk menjalani kehidupan.

“Apabila seseorang benar-benar memanfaatkan Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya, maka insyaallah ia akan memperoleh petunjuk serta kemudahan dalam menempuh tujuan hidupnya,” ujarnya.

Menutup mau’idhah hasanah, Ustadzah Rohatin Aulana mengajak para santri untuk semakin mendekatkan diri kepada Al-Qur’an serta menjadikannya sebagai pedoman hidup. Beliau juga mengingatkan agar momentum Ramadan dimanfaatkan untuk melakukan muhasabah diri, khususnya dalam meningkatkan kualitas ibadah puasa.

“Puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kemampuan seseorang untuk mengelola dan mengendalikan diri, baik dalam menjaga pandangan, pendengaran, maupun perilaku sehari-hari agar senantiasa selaras dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Al-Qur’an,” tuturnya.

Kegiatan peringatan Nuzulul Quran tersebut ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Muhammad Mafaz Nabil selaku Pembina Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, Semarang.

Oleh: Nur Muchammad Syafi (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)

REKOMENDASI >