Semarang, 4 Maret 2026 rutinitas pengajian Sabtu pagi di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang kembali menghadirkan kajian mendalam yang menggugah refleksi spiritual. Dalam kesempatan kali ini, pengasuh pesantren, KH Imam Taufiq, menyampaikan tafsir Surah Al-Anbiya ayat 87 dengan menggunakan rujukan kitab Mafātīḥ al-Ghaib karya Fakhruddin al-Razi.
Kitab tafsir monumental ini dikenal luas sebagai mahakarya yang berhasil memadukan ketajaman analisis bahasa dengan kedalaman logika filosofis. Karena itu, tafsir ini tidak hanya menjelaskan makna ayat secara tekstual, tetapi juga menunjukkan bagaimana Al-Qur’an dapat dipahami melalui pendekatan rasional tanpa kehilangan kedalaman spiritualnya.
Dalam kajian tersebut, kisah Nabi Yunus AS dipahami melalui tiga pendekatan utama: linguistik, teologis, dan psikologi pendidikan.
“Dhun-Nun” dan Makna Marah dalam Perspektif Bahasa
Ayat dimulai dengan penyebutan Dhun-Nun, yang secara bahasa berarti pemilik ikan besar. Sebagian mufasir mengaitkannya dengan al-hūt (ikan paus), sementara dalam riwayat lain disebut sebagai shāhib al-hūt.
Ungkapan mughādhiban (dalam keadaan marah) menjadi bagian penting dalam refleksi ayat ini. Marah bukanlah sesuatu yang sepenuhnya harus dihilangkan dari kehidupan manusia, tetapi harus dikelola agar tidak berubah menjadi sikap yang merusak diri sendiri.
Dalam penjelasannya, KH Imam Taufiq menekankan bahwa seseorang tidak pernah mengetahui kapan akhir kehidupannya. Karena itu, meninggal dalam keadaan marah merupakan sesuatu yang sangat disesalkan. Pengendalian emosi menjadi bagian dari kedewasaan spiritual manusia.
Selain itu, frasa fī al-ẓulumāt (dalam kegelapan-kegelapan) dipahami para mufasir sebagai tiga lapisan kegelapan: kegelapan malam, kegelapan dasar laut, dan kegelapan di dalam perut ikan. Tiga lapisan ini menjadi simbol situasi keterdesakan manusia ketika seluruh jalan terasa tertutup.
Tauhid sebagai Jalan Keluar: Doa Nabi Yunus
Dalam kondisi paling sempit sekalipun, Nabi Yunus tetap memanjatkan doa:
Lā ilāha illā anta, subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.
Pengakuan ini menjadi puncak tauhid sekaligus bentuk kerendahan diri di hadapan Allah SWT. Dalam pengajian tersebut juga disampaikan doa yang diijazahkan oleh KH Bisri Syansuri:
Yā Ḥayyu Yā Qayyūm, lā ilāha illā anta, subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.
Menurut perspektif Imam Ar-Razi, kekuatan doa terletak pada pengenalan sifat-sifat Allah terlebih dahulu (ma‘rifatullah). Penyebutan Yā Ḥayyu Yā Qayyūm merupakan pengakuan bahwa Allah adalah sumber kehidupan sekaligus penopang seluruh keberadaan.
Sementara pengakuan innī kuntu minaẓ-ẓālimīn menunjukkan kesadaran atas keterbatasan akal dan amal manusia di hadapan kebenaran mutlak. Dalam metode tafsir Ar-Razi, kesadaran atas keterbatasan rasio merupakan pintu menuju ketundukan kepada wahyu.
Tawadhu dalam Perspektif Psikologi Pendidikan
Ayat ini juga menghadirkan pelajaran penting dalam psikologi pendidikan Islam, yaitu nilai tawadhu atau kerendahan hati.
Seorang nabi sekalipun tetap mengakui kekhilafannya. Sikap ini menjadi pelajaran penting bagi manusia biasa agar tidak kehilangan kesadaran diri dalam menjalani kehidupan.
Jika seorang nabi saja mampu bersikap rendah hati di hadapan Allah, maka manusia yang penuh keterbatasan justru seharusnya lebih dahulu menghadirkan sikap tawadhu dalam kehidupannya.
Ayat 88: Dari Doa Menuju Kepastian Pertolongan
Kajian kemudian dilanjutkan pada Surah Al-Anbiya ayat 88:
Fa istajabnā lahu wa najjaināhu minal-ghamm, wa kadzālika nunjil-mu’minīn.
Ayat ini merupakan jawaban langsung atas doa Nabi Yunus pada ayat sebelumnya. Jika ayat 87 adalah pintu menuju pertolongan, maka ayat 88 adalah kepastian hasilnya.
Kata al-ghamm dalam ayat ini menunjukkan kesempitan batin yang sangat menyesakkan, seolah seluruh jalan terasa tertutup dari segala arah, sebagaimana keadaan Nabi Yunus di dalam perut ikan. Para ulama menjelaskan bahwa kondisi ini berbeda dengan al-ḥuzn, yaitu kesedihan yang berkaitan dengan peristiwa masa lalu, serta al-hamm, yaitu kegelisahan terhadap sesuatu yang belum terjadi di masa depan.
Dengan demikian, ayat ini tidak hanya berbicara tentang penyelamatan Nabi Yunus secara fisik, tetapi juga menggambarkan pembebasan manusia dari tekanan psikologis secara menyeluruh: kesedihan masa lalu (ḥuzn), kecemasan masa depan (hamm), dan kesempitan situasi yang sedang dihadapi saat ini (ghamm).
Penutup ayat:
wa kadzālika nunjil-mu’minīn
menjadi pesan universal bahwa pertolongan Allah kepada Nabi Yunus bukan hanya peristiwa khusus bagi seorang nabi, tetapi janji terbuka bagi setiap mukmin yang menempuh jalan yang sama: tauhid, pengakuan diri, dan ketulusan doa.
Di akhir pengajian, KH Imam Taufiq menutup kajian dengan pesan yang sederhana namun kuat: “Marah boleh, tapi harus dikelola. Marah itu pilihan, tapi introspeksi adalah sebuah keharusan bagian dari kesadaran.”
Pesan ini menjadi pengingat bahwa kematangan spiritual bukan ditentukan oleh hilangnya emosi, melainkan oleh kemampuan mengelola emosi secara bijak.
Sebagai refleksi penutup, dapat dikatakan bahwa jika marah membuat seseorang cepat menua, maka marah yang dikelola bersama kesadaran kepada sang pencipta justru menjadikan proses menua lebih bermakna. Menua bukan sekadar bertambah usia, tetapi bertambahnya kedewasaan jiwa yang lebih hakiki, lebih sadar, dan lebih abadi maknanya.
Oleh: Abdussalam Bariklana (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)



















