Be-songo.or.id

Tafaqquh Fiddin di Dua Dunia: Pesan Prof. H.A. Umar, M.A. untuk Santri Nyata dan Santri Digital

Semarang, 8 Februari 2026 – Santri Pondok Pesantren Darul Falah menggelar acara muhadharah ammah sebagai penutup acara pascaliburan sekaligus penanda dimulainya kembali kegiatan pesantren. Kegiatan ini berlangsung di Asrama C13 dengan mengusung tema “Santri Adaptif di Era Digital, Berdaya, dan Berakhlak” dengan menghadirkan narasumber Prof. H.A. Umar, M.A.

Santri saat ini tidak lagi hidup dalam satu ruang kehidupan. Mereka berada di dua dunia sekaligus: dunia nyata dan dunia maya. Hal inilah yang menjadi benang merah muhadharah ammah yang disampaikan Prof. H.A. Umar, M.A. Menurut beliau, situasi ini menuntut kesadaran tafaqquh fiddin, adab, dan kemampuan mengendalikan diri.“Sekarang kita hidup di dua dunia. Pertama dunia nyata, kedua dunia maya. Ketika kita hidup sebagai santri di Besongo, maka kita hidup di dunia yang nyata, dunia yang terikat oleh nilai dan etika,” tegasnya.

Beliau menjelaskan bahwa dua dunia tersebut memiliki karakter yang kontradiktif. Dunia pesantren menuntut santri menjadi insan tafaqquh fiddin yang berilmu dan beradab, sementara dunia digital cenderung bebas tanpa batas. Prof. Umar menyoroti persoalan penggunaan gawai dan menegaskan bahwa kedisiplinan dalam mengatur gawai sangat berpengaruh terhadap karakter dan prestasi santri.

“Satuan pendidikan yang memberlakukan aturan penggunaan gawai secara ketat itu cenderung santrinya berprestasi, disiplin, dan taat aturan,” ujarnya.Beliau juga memberikan nasihat praktis, “Biasakan sebelum tidur tidak menggunakan handphone. Kalau tidak bisa mengendalikan yang kecil, kita akan dikendalikan olehnya.”

Selain itu, beliau menekankan pentingnya budaya membaca sebagai dasar belajar dengan berlandaskan Surah Al-‘Alaq ayat 1–5. Menurut Prof. Umar “Belajar itu intinya membaca. Tidak ada orang pintar dan sukses yang tidak rajin membaca,” ujarnya. Lebih jauh, beliau mengingatkan agar santri tidak bersandar pada kehebatan diri semata.“Kalau belajar, jangan mengandalkan kemampuan diri sebagai manusia. Ilmu itu harus diawali dengan membaca sampai tahu, merasa tahu, dan sampai menguasai,” jelasnya.Dari sini, beliau menegaskan bahwa proses belajar tidak instan. “Kesimpulannya, belajar itu harus ikhtiar. Tidak ada ilmu yang datang tiba-tiba.”

Menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (AI). Prof. Umar menegaskan bahwa santri tidak dilarang menguasai teknologi, bahkan justru dianjurkan menjadi santri adaptif.“Belajar menggunakan AI itu tidak apa-apa, yang penting bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.Beliau juga menambahkan bahwa teknologi sejatinya adalah produk manusia yang tetap berada dalam kehendak Allah SWT. “Teknologi itu memudahkan manusia, tapi santri harus memilih yang bermanfaat. Harus screening dan selektif dalam menerima informasi,” ujarnya.

Prof. Umar menekankan pentingnya adab santri digital dalam penggunaan AI dan media sosial. Beliau mengingatkan agar santri tidak menggunakan hasil AI tanpa memahami isi dan tujuannya. “Jangan ambil mentah-mentah hasil GPT sebelum Anda paham isinya dan benar tujuannya. Ilmu itu harus disertai adab,” tegasnya.

Beliau juga menyoroti etika bermedia sosial serta memperbolehkan santri memiliki banyak akun media sosial dengan catatan untuk kemanfaatan.“Santri Besongo boleh punya akun media sosial, tapi konsentrasinya harus 1 banding 9. Satu untuk diri sendiri, sembilan harus bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.Seraya menambahkan bahwa kemandirian santri itu dibangun dari kesungguhan mengurus hal-hal sederhana.

Sebagai penutup, Prof. Umar mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menjauhkan santri dari jati dirinya.“Teknologi boleh maju sejauh apa pun, tapi santri harus ingat tiga tempat untuk kembali: kembali kepada Allah, kembali kepada ilmu, dan kembali kepada akhlak,” pungkasnya.Kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui, menurut beliau, harus melahirkan rasa syukur dan kehati-hatian dalam setiap langkah kehidupan santri baik di media sosial maupun di dunia nyata.

Oleh: Nur Muchammad Syafi (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)

REKOMENDASI >