SEMARANG – Dalam upaya mengakselerasi pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi produktif, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jawa Tengah menggelar pelatihan “Digital Marketing dan Teknik Penataan Parcel.”
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pertemuan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) pada 12–13 Maret 2026 ini, diikuti oleh 160 peserta dari berbagai penjuru wilayah Jawa Tengah. Salah satu delegasi yang hadir memenuhi undangan dari Sekretariat RMI PWNU Jateng adalah perwakilan dari Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, Semarang.
Keikutsertaan santri Besongo ini menjadi langkah strategis dalam mengembangkan unit usaha pesantren yang berfokus pada produk handmade hasil karya santri itu sendiri.
Mendorong Kemandirian Ekonomi
Ketua Baznas Jateng, Ahmad Darodji, menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar memberikan keterampilan teknis, melainkan sebuah strategi besar untuk mengubah status penerima zakat (mustahik) menjadi pemberi zakat (muzakki).
“Tujuan utama kita adalah pengentasan kemiskinan. Kita harapkan mereka nanti dari mustahik menjadi muzakki,” ujar Darodji usai pembukaan kegiatan pada Kamis (12/3/2026).
Ia menambahkan bahwa pemilihan pelatihan parcel didasari oleh besarnya peluang pasar menjelang Idulfitri, yang kemudian diperkuat dengan kemampuan pemasaran digital.
Zakat Produktif: Dari Konsumtif ke Jariyah
Dalam sesi seminar, Wakil Ketua 4 Baznas Prov. Jateng, H. Sholahudin Aly, S.H., memberikan analogi mendalam mengenai pengelolaan zakat. Beliau menekankan pentingnya lembaga resmi dalam mengelola zakat agar tidak habis untuk keperluan konsumtif sesaat.
“Uang Rp200 ribu rupiah jika dibagikan langsung mungkin hanya jadi semangkuk bakso yang kenyangnya cuma sehari. Namun, melalui akumulasi zakat di Baznas, dana tersebut bisa dikelola menjadi bantuan yang lebih berkelanjutan, seperti pelatihan atau modal usaha,” jelas sosok yang akrab disapa Gus Sholah tersebut.
Sentuhan Teknologi: Branding dan AI
Selain teknik menata parcel, para peserta termasuk para santri dibekali materi Digital Marketing oleh Wijayanto, Founder & CEO Whizisme. Ia menekankan bahwa “Brand is simply trust”. Membangun merek adalah tentang membangun reputasi dan konsistensi, sebagaimana filosofi yang dipegang oleh Steve Jobs.
Menariknya, pelatihan ini juga memperkenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) seperti Gemini untuk melakukan product mapping, riset target pasar, hingga pembuatan copywriting. Penggunaan AI ini dinilai menjadi solusi hemat biaya bagi para pelaku usaha kecil dan santri dalam meminimalkan anggaran jasa kreatif.
Sinergi Lintas Sektoral
Program ini merupakan hasil kolaborasi apik antara Baznas Jateng, RMI PWNU Jateng, TP PKK, dan GP Ansor Jateng. Indah Sumarno dari TP PKK Jateng menyatakan komitmennya untuk membantu pemasaran produk para peserta melalui jaringan kader yang tersebar di 35 kabupaten/kota, baik secara digital maupun promosi langsung.
Kehadiran santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo dalam forum ini membuktikan bahwa pesantren kini tidak hanya menjadi pusat literasi keagamaan, tetapi juga inkubator bagi wirausahawan muda yang siap bersaing di pasar digital.
Oleh: Abdus Salam Bariklana (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)



















