Be-songo.or.id

Mengupas Kedalaman Surah An-Nas Lewat Tafsir Al-Sha’rawi

SEMARANG – Mengisi liburan semester dengan kegiatan spiritual, Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang menggelar kajian subuh yang mendalam. Pengasuh pesantren, KH Imam Taufiq, membedah Surah An-Nas melalui kacamata Syaikh Muhammad Mutawalli al-Sha’rawi, mufasir kenamaan asal Mesir yang dikenal dengan analogi-analogi logisnya.

Kesadaran akan Dimensi Superior dan Inferior

Dalam paparannya, Beliau menekankan bahwa dunia terdiri dari berbagai lapisan dimensi, mulai dari yang nyata hingga yang gaib. Sebagai makhluk yang terbatas (inferior), manusia mutlak membutuhkan perlindungan dari Sang Pencipta yang tanpa batas (superior).

“Sifat Isti’adhah atau memohon perlindungan bukan sekadar rutinitas doa, melainkan kewajiban hamba yang sadar akan keterbatasannya di tengah dimensi kehidupan yang kompleks,” ujar beliau.

Analogi Lidah Pedas dan Maling Tertangkap

Syaikh Al-Sha’rawi, melalui beliau Kyai Imam Taufiq, menjelaskan hakikat perlindungan Allah dengan dua analogi yang cukup simple:

  1. Analogi Lidah dan Cabai: Saat kita menaruh cabai di lidah, rasa pedas muncul otomatis tanpa perlu diusahakan. Begitu pula Isti’adzah. Jika diucapkan dengan iman yang benar, perlindungan Allah langsung meliputi hamba secara otomatis. Kekuatannya bukan pada bunyi hurufnya, tapi pada Dzat yang dimintai pertolongan.
  2. Analogi Maling yang Tertangkap: Setan diibaratkan maling yang hanya perkasa di kegelapan. Namun, saat pemilik rumah menyalakan “lampu” kesadaran (dzikir), maling tersebut seketika menjadi hina dan tidak berdaya. Setan adalah Al-Khannas—ia bersembunyi saat kita ingat Allah dan hanya menyerang saat kita lalai (ghaflah).

Rahasia Berdoa dengan ‘Nama’ yang Tepat

Satu poin menarik dalam kajian ini adalah tentang efektivitas doa. Kyai Imam Taufiq mencontohkan perbedaan antara kalimat “Ya Allah berikanlah rezeki” dengan “Ya Allah, Ya Rozzaq berikanlah rezeki”.

Penyebutan nama spesifik (Ya Rozzaq) menunjukkan ketauhidan yang lebih dalam. Ibarat mendatangi seorang kawan yang berprofesi pengacara, memanggilnya dengan sebutan “Wahai Pengacara” menunjukkan kita sadar penuh akan kapasitas dan keahliannya. Berdoa dengan Asmaul Husna adalah bentuk kesaksian hamba bahwa ia meminta kepada “Pakar” yang mustahil gagal.

Anatomi Godaan: Mengapa Menyerang Dada?

Tafsir Al-Sha’rawi menjelaskan bahwa setan tidak menyerang akal secara langsung, melainkan menyerang Sudur (dada/perasaan). Dada adalah tempat berkecamuknya keinginan. “Jika perasaan di dada sudah goyah, maka akal biasanya akan mulai mencari-cari pembenaran untuk melakukan kemaksiatan,” urai Kyai Imam Taufiq.

Tiga Benteng Perlindungan

Sebagai penutup, kajian ini menggarisbawahi mengapa Allah menyebut tiga sifat-Nya secara berurutan dalam Surah An-Nas:

  • Rabbun-Nas: Allah sebagai Pemelihara sejak kecil.
  • Malikin-Nas: Allah sebagai Penguasa saat manusia mulai memiliki ego kekuasaan.
  • Ilahin-Nas: Tujuan akhir, di mana hanya Allah yang layak disembah secara total.

Melalui pemahaman ini, diharapkan santri dan masyarakat luas tidak lagi melihat Surah An-Nas hanya sebagai bacaan pelindung tidur, melainkan sebagai manifesto kekuatan iman dalam menghadapi godaan, baik yang datang dari bisikan jin maupun sesama manusia.

Personal note: Kalau punya banyak keinginan hebat, shalat jangan sampai telat. Kalau punya banyak impian, shalat jangan dilalaikan. Kalau semuanya ingin terwujud, jangan sampai kita jarang bersujud. Shalat itu jangan nunggu sometime apalagi freetime, tapi shalat harusnya itu ontime dan fulltime.

Ingat, kematian itu anytime. See you next time.

Oleh: Abdus Salam Bariklana (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)

REKOMENDASI >