Ironi. Di satu sisi, menjadi terpelajar hari ini jauh lebih mudah dibanding masa lalu. Akses pendidikan terbuka luas, informasi mengalir tanpa batas, dan ruang untuk ekspresu terbuka menganga. Siapa pun bisa terlihat pintar, siapa pun bisa terdengar benar, dan siapa pun bisa menyampaikan pendapat.
Namun, muncul pertanyaan: apakah keadilan sudah dapat dihadirkan? Apakah setiap jiwa sudah merasakan keadlian? Dan banyak hal lagi yang berkaitan dengan itu yang masih harus kita renungkan sebagai manusia yang berjiwa Merdeka. Tak ingin terlalu jauh, pembahasan kali ini adalah seputar kegiatan dakwah -dalam makna yang luas- cukup rumut untuk digambarkan.
Dalam refleksi Pramoedya Ananta Toer melalui novel Bumi Manusia, ada satu kalimat yang sangat kuat dan tidak bisa dipandang sebagai hiasan intelektual semata: “Seorang terpelajar harus belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” Kalimat ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi sebuah tamparan kesadaran. Ia menegaskan bahwa ilmu bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar, ilmu seharusnya melahirkan keadilan.
Menjadi terpelajar tidak otomatis membuat seseorang adil. Bahkan, dalam banyak kasus, ilmu hanya membuat seseorang lebih mampu berbicara tanpa menjamin ia lebih mampu memahami secara utuh. Contoh dari hal ini yang sebetulnya bisa menggoncang tradisi kita saat ini adalah ceramah keagamaan yang justru terlihat dangkal. Misalnya, ketika penceramah menyampaikan bahwa dalam menghadapi kesulitan hidup, manusia cukup “sabar dan tawakal”. Kalimat ini benar, tetapi menjadi bermasalah dan tidak adil ketika disampaikan tanpa kedalaman mehamami konteks.
Misalnya kepada masyarakat yang sedang mengalami kemiskinan struktural, kesulitan akses pendidikan, atau beban sosial yang berat, pesan itu bisa terdengar seolah-olah semua masalah cukup diselesaikan dengan pasrah saja. Padahal dalam Islam sendiri, sabar dan tawakal tidak pernah lepas dari usaha, ikhtiar, dan pencarian solusi. Jika disampaikan secara dangkal, ilmu ini tidak lagi membimbing, tetapi bisa membuat orang pasif dan menerima keadaan tanpa usaha perbaikan. Di titik inilah keadilan menjadi ukuran yang sesungguhnya: apakah ilmu digunakan untuk menjernihkan, atau justru untuk membenarkan sesuatu secara terburu-buru.
Di sinilah keadilan dalam ilmu menjadi penting: apakah ilmu digunakan untuk menjernihkan pemahaman, atau justru membenarkan sesuatu secara tergesa-gesa. Karl Marx dalam The German Ideology mengatakan, “The ruling ideas of each age have ever been the ideas of its ruling class.” Artinya, gagasan yang dominan di masyarakat sering kali berasal dari otoritas yang kemudian diterima sebagai kebenaran tanpa kritik.
Dalam konteks dakwah, ini membuat pesan yang tidak utuh mudah menjadi kebenaran sosial, sehingga membentuk kesadaran yang pasif. Karena itu, masalah utama bukan hanya pada isi ilmu, tetapi juga pada tanggung jawab dalam menyampaikannya secara adil dan utuh.
Di sinilah letak ketidakadilan yang halus, tetapi sangat berbahaya. Ketidakadilan itu bukan dalam bentuk kekerasan atau penindasan langsung, melainkan dalam bentuk ketimpangan pengetahuan ketika satu pihak berbicara dengan keyakinan, sementara pihak lain menerima tanpa bekal yang cukup untuk mengkritisi atau memahami lebih dalam.
Jika kita melihat realitas masyarakat hari ini, kita akan menemukan pola yang serupa. Banyak orang dengan mudah berbicara tentang sabar, tawakal, atau nilai-nilai agama lainnya, tetapi tidak semua benar-benar memahami bagaimana konsep itu harus dihidupkan dalam realitas yang kompleks. Akibatnya, ajaran yang seharusnya membebaskan justru bisa terasa menjauh dari kenyataan hidup sebagian orang.
Kita perlu kembali bertanya secara jujur: apakah dakwah yang kita dengar dan sampaikan sudah benar-benar adil? Adil dalam arti tidak menyederhanakan yang kompleks, tidak menyampaikan sesuatu tanpa pemahaman yang memadai, dan tidak membiarkan masyarakat menerima sesuatu yang belum tentu mereka pahami secara utuh.
Wa lā taqfu mā laisa laka bihī ilm, innas-sam‘a wal-bashara wal-fu’āda kullu ulāika kāna ‘an-hu mas’ūlā
“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta.” (Al-Isra’: 36).
Hati nurani pun turut disebut agar berjalan dalam petunjuk ilmu. Ini yang kemudian melahirkan keadilan sejak dalam pikiran.
Kritik ini bukan untuk merendahkan siapa pun, tetapi justru untuk mengingatkan bahwa ilmu membawa konsekuensi moral. Semakin seseorang berbicara di ruang publik, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga kebenaran dan keutuhan apa yang ia sampaikan.
Di titik ini, kembali lagi pada pesan Bumi Manusia: bahwa ilmu tanpa keadilan hanya akan menciptakan ketimpangan baru dalam bentuk yang berbeda. Dalam dakwah, ketimpangan itu muncul ketika yang berbicara tidak cukup berhati-hati, sementara yang mendengar tidak memiliki ruang yang cukup untuk memahami secara kritis.
Maka, menjadi terpelajar dan lebih jauh lagi, menjadi penyampai ilmu bukan hanya soal kemampuan berbicara atau luasnya pengetahuan. Ia adalah soal tanggung jawab untuk bersikap adil: adil dalam memahami sebelum menyampaikan, adil dalam menyampaikan tanpa menyesatkan, dan adil dalam menyadari bahwa setiap kata yang keluar membawa dampak pada cara orang lain memahami kebenaran.
Refleksi ini menjadi sangat penting ketika kita masuk ke wilayah dakwah. Dakwah pada dasarnya adalah proses menyampaikan nilai, membimbing pemahaman, dan menghadirkan kesadaran. Namun menjadi disayangkan, biIa perlahan direduksi menjadi sekadar ceramah, sekadar kemampuan berbicara di depan publik, sekadar retorika yang terdengar meyakinkan.
Pada akhirnya, refleksi ini membawa kita pada satu kesimpulan yang sederhana tetapi berat:
Menjadi terpelajar bukan tentang seberapa banyak kita tahu, tetapi tentang apakah kita sudah benar-benar belajar untuk bersikap adil terutama ketika kita berbicara atas nama ilmu dan dakwah.
Tulisan ini masih belum semprurna, tunggu lagi pembahasan selanjutnya, karena kesempurnaan dan keelokan sebuah tulisan adalah berjalan bersama proses itu sendiri.
Oleh: Ahmad Dahlan (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)



















