Semarang — Di tengah kesibukan sebagai santri dan mahasiswa, Tahayyu Unnihayah, santri Darul Falah Besongo, berhasil menorehkan prestasi yang membanggakan sebagai salah satu wisudawan terbaik UIN Walisongo Semarang periode Mei 2026, dari program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Perempuan yang biasa dipanggil Niha merupakan putri dari Bapak Mftuhin Zain dan Ibu Sariana yang berasal dari Tambakpolo, Purworejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak.
Di lingkungan pertemanan, Niha dikenal sebagai sosok yang santai dan apa adanya. Namun, ia tak menyangka dirinya meraih predikat wisudawan terbaik. “Teman-teman mengenal saya orang yang santai saja. Jadi saya juga kaget bisa menjadi wisudawan terbaik,” ungkapnya.
Selama kuliah, Niha tidak aktif mengikuti organisasi internal kampus, tetapi aktif di komunitas luar kampus. Di luar kegiatan akademik, ia juga menekuni dunia konten kreator. Dari aktivitas tersebut, ia memperoleh penghasilan melalui kerja sama endorse dan affiliate, serta sesekali bekerja freelance dan mengikuti syuting di MTV.
Pilihan untuk mondok sambil kuliah ia ambil karena merasa nyaman berada di lingkungan yang ramai dan penuh interaksi. Selain itu, keinginannya untuk tetap mondok juga sejalan dengan harapan orang tua. “Saya memang suka keramaian, jadi di pondok itu bisa bertemu banyak orang. Di sisi lain, orang tua juga ingin saya tetap mondok meskipun sambil kuliah. Saya ingin menyeimbangkan pendidikan agama dan pendidikan akademik,” ujarnya.
Sehari-hari, Niha menjalani rutinitas seperti santri pada umumnya. Pagi hingga siang, ia kuliah sementara malam hari digunakan untuk ngaji. Di sela-sela itu, ia juga menyempatkan diri membuat konten. Menurutnya, rutinitas tersebut menuntut kedisiplinan tinggi, terutama dalam membagi waktu antara tugas kuliah, kegiatan pondok, dan kegiatan sampingan sebagai konten kreator.
Untuk mengatur semua aktivitas itu, Niha terbiasa membuat jurnal harian. Setiap hari ia mencatat apa yang harus dilakukan dan pada jam berapa harus dikerjakan. Meski tidak semua rencana selalu berjalan lancar, ia berusaha memastikan setidaknya ada satu hal yang berhasil dituntaskan setiap hari. “Dari dulu saya memang kesulitan membagi waktu antara pondok dan tugas kuliah. Jadi saya buat jurnal harian, apa yang harus dikerjakan setiap hari. Memang sering tidak semuanya terlaksana, tapi tiap hari harus ada minimal satu yang tercentang,” katanya.
Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah ketika jadwal kegiatan kampus dan pondok saling bertabrakan, terutama saat UAS atau UTS berlangsung bersamaan dengan imtihan di pondok. Kesibukannya sebagai konten kreator juga sering membuat agenda hariannya semakin padat. Namun dengan catatan dan perencanaan yang ia buat, Niha berusaha menyelesaikan semuanya satu demi satu.
Dalam pesannya kepada para santri Besongo, Niha mengajak agar tetap semangat menjalani setiap proses kehidupan. Menurutnya, kehidupan yang dijalani saat ini adalah bagian dari rencana terbaik Allah, sehingga yang terpenting adalah belajar ikhlas dan menyukurinya. “Tetap semangat menjalani kehidupan yang sedang dijalani, karena itu sudah merupakan rencana terbaik dari Allah. Saat kita punya rencana, Allah punya kuasa. Jadi harus ikhlas menjalaninya,” pesannya.
Ia juga sempat merasa belum sepenuhnya terbiasa menjalani kehidupan barunya, namun seiring berjalannya waktu ia mulai memahami bahwa yang paling penting bukan mengubah kehidupan, melainkan bagaimana cara menghadapi kehidupan yang sedang dijalani. “Tapi sekarang saya sadar, hidup yang sekarang tidak bisa diubah. Jadi bagaimana cara kita menghadapi kehidupan yang sedang kita jalani, bukan mengubah kehidupannya,” tuturnya.
Sebagai penutup, Niha berpesan agar para santri dan mahasiswa tetap menikmati setiap proses yang dijalani tanpa terlalu sibuk mengejar pengakuan atau hasil semata. Menurutnya, kuliah dan mondok yang dijalani dengan niat karena Allah akan menghadirkan keberkahan, meski awalnya terasa berat. Ia menegaskan bahwa yang terpenting adalah ikhlas, bersyukur, dan setia menjalani proses dengan sungguh-sungguh.
Ditulis Oleh: Siti Rufaida Aminatussalimah Hilman (Santriwati Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)
Editor: Della Indana



















