Be-songo.or.id

Haji Saleh yang Egois: Belajar Keadilan Berpikir dari “Robohnya Surau Kami”

Pernahkah bertemu dengan orang yang merasa sudah pegang tiket surga karena ritual ibadahnya, di saat yang sama bersikap abai terhadap sesama?  jika pernah, kita sebenarnya sedang melihat versi nyata dari Haji Saleh, tokoh utama dalam cerpen legendaris karya A.A. Navis, Robohnya Surau Kami. Cerpen yang ditulis puluhan tahun lalu ini bukanlah sekadar cerita tentang sebuah tempat ibadah yang runtuh secara fisik. Lebih dari itu, Navis sedang melayangkan tamparan keras,  satire tajam tentang runtuhnya logika, nalar kritis, dan keadilan dalam bertindak manusia modern.

Opini ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari refleksi sebelumnya mengenai beban moral kaum terpelajar. Jika sebelumnya kita membedah kritik Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia tentang pentingnya “berlaku adil sejak dalam pikiran”, kali ini kita melihat contoh konkret dari kegagalan berpikir tersebut. Melalui kisah runtuhnya surau di cerpen Navis ini, kita diajak untuk melangkah lebih jauh, yaitu memahami satu hal krusial bahwa keadilan dalam bertindak adalah kunci utama untuk mendapatkan jalan yang benar dan kebahagiaan sejati.

Landasan dari semua itu bermula dari cara kita menggunakan akal untuk berpikir secara mendalam. Kita tidak boleh terjebak dalam hitam-putih kehidupan yang dangkal. Kita dituntut untuk mampu membedakan esensi di balik tiga spektrum tindakan manusia, yaitu hal yang buruk, hal yang terlihat baik, dan hal yang memang benar-benar baik.

Menakar Keburukan Secara Tepat

Respon masyarakat saat melihat hal buruk biasanya mencaci, mengutuk, atau justru menjauhinya. Haji Saleh dalam cerpen Navis mengambil jalan yang terakhir. Ia menganggap urusan dunia yang carut-marut sebagai hal buruk yang najis, sehingga ia memilih dengan cara mengurung diri di dalam surau. Namun, menyikapi hal buruk secara bijak berarti berani mencari akar masalahnya, bukan sekadar menghindarinya.

Kemiskinan yang terjadi di sekitar surau Haji Saleh tidak akan pernah hilang hanya dengan khotbah sepihak atau rapalan doa yang pasif. Keburukan sosial sering kali subur karena adanya sistem yang pincang atau pembiaran dari orang-orang yang merasa dirinya sudah menjadi “orang baik”. Jika kita bertindak tidak adil dengan hanya menghakimi dampak buruk tanpa mau mengintervensi penyebabnya, kita sebenarnya sedang memelihara keburukan itu sendiri.

Membongkar Kebaikan Abu-Abu Semu

Di sisi lain, jebakan paling mematikan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat adalah sesuatu yang terlihat baik secara kasat mata. Sesuatu yang tampak suci sering kali langsung ditelan bulat-bulat oleh masyarakat tanpa dikunyah terlebih dahulu oleh akal sehat. Memuji Tuhan, berdoa sepanjang hari, dan menjauhi urusan duniawi adalah hal-hal yang secara visual terlihat sangat mulia. Di dunia, hidup Haji Saleh hanya diisi dengan munajat dan beriktikaf. Terlihat suci dan tidak ada satu pun orang yang berani menyebut aktivitas tersebut sebagai hal yang buruk.

Namun, fenomena ini menguji kita untuk membongkar kulit luar yang menipu logika tersebut. Di balik kesalehan ritualnya, Haji Saleh lupa berbuat adil kepada dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya sendiri. Ia membiarkan anak dan istrinya telantar dalam kelaparan, ia membiarkan tanah airnya dikuasai dan diperas oleh bangsa lain, dan ia bertindak egois karena hanya memikirkan keselamatan jiwanya sendiri di akhirat.

Salah kaprah inilah yang dikritik Navis secara telak. Haji Saleh mengira kebaikan ritual bisa menggantikan keadilan sosial. Ketika di akhirat ia mendapati dirinya dilemparkan ke neraka, ia protes. Melalui dialog fiksional tersebut, Navis menegaskan bahwa kebaikan yang tidak membawa manfaat bagi sesama adalah kebaikan yang keliru dan manipulatif.

Kebaikan tanpa keadilan juga salah dalam menempatkan konteks ruang dan waktu justru bisa berubah menjadi petaka baru.

Beribadah kepada Tuhan adalah hal yang baik dan tidak terbantahkan. Namun, nilai tersebut menjadi cacat ketika Haji Saleh meletakkannya di luar konteks keadilan hidup yang seimbang. Ia beribadah dengan cara mengorbankan dan merebut hak-hak orang lain yang hidupnya bergantung pada dirinya.

Kebaikan yang hakiki tidak pernah berdiri sendiri di ruang hampa, melainkan harus selalu bergandengan tangan dengan keadilan. Menguji hal yang baik berarti memastikan bahwa tindakan mulia kita dilakukan pada porsi yang tepat dan tidak merenggut hak kemanusiaan yang lain.

Keadilan sebagai Pemelihara yang Menyeluruh

Keadilan sejati tidak akan pernah lahir dari tindakan moral yang pincang, karena jalan yang benar adalah jalan yang seimbang. Jika kita hanya mengejar urusan spiritualitas tetapi mengabaikan realitas sosial, kita sedang bertindak tidak adil. Begitu pula sebaliknya, bekerja keras mencari materi tetapi melupakan nilai-nilai moral adalah ketimpangan yang lain.

Keadilan bertindak berarti menempatkan segala sesuatu pada porsinya, yaitu menjadi hamba yang taat di dalam rumah ibadah sekaligus menjadi manusia yang konkret bermanfaat di tengah masyarakat.

Ketika kita sebagai masyarakat gagal berpikir secara mendalam, kita akan menjadi seperti Haji Saleh yang terjebak dalam kebebalan spiritual. Kita merasa sudah berada di jalan yang benar hanya karena formula ritual kita lengkap, padahal kita sedang berjalan menuju keruntuhan moral yang parah. Kondisi ini persis seperti surau dalam cerita Navis yang pada akhirnya roboh tak terawat dan kayunya keropos karena masyarakatnya sibuk dengan ego kesalehan masing-masing tanpa peduli pada realitas di sekeliling mereka.

Membaca kembali Robohnya Surau Kami pada hari ini membuat kita semua berkaca pada kehidupan yang lebih luas. Navis tidak sedang mengajak kita untuk berhenti beribadah atau meremehkan institusi agama, melainkan mengajak kita untuk naik kelas dalam pola pikir. Sebelum melangkah atau mengambil keputusan, kita harus terus bertanya apakah tindakan kita merugikan orang lain, apakah kebaikan kita hanya untuk memuaskan ego pribadi, dan sudahkah kita adil terhadap tanggung jawab nyata di depan mata.

Kebahagiaan sejati dan jalan yang benar tidak bisa dibeli dengan kepasrahan yang malas. Ia harus dijemput dengan tindakan yang adil, pikiran yang kritis, dan kebermanfaatan yang nyata agar surau di dalam kepala kita tidak roboh oleh kebebalan kita sendiri.

Surau dalam cerepen ini bisa berupa keluarga, lingkup rukun warga, atau bahkan lebih luas lagi.

Ditulis Oleh: Ahmad Dahlan (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)

REKOMENDASI >