Menjadi mahasiswa di era disrupsi digital menuntut kecepatan adaptasi yang luar biasa. Kuliah di kota besar seperti Semarang sering kali menyeret mahasiswa ke dalam pusaran gaya hidup modern yang serba instan, rasional, dan tak jarang menepikan aspek spiritual. Namun, bagi para mahasiswa-mahasantri Darul Falah Besongo Semarang, ada satu prinsip yang menjadi jangkar hidup mereka:
“Al-muhafadhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdhu bi al-jadid al-ashlah” (Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).
Untuk membedah bagaimana prinsip ini diaplikasikan secara nyata dalam skala peradaban, santri Darul Falah Besongo melakukan rihlah ilmiah, sebuah studi banding menembus batas kota menuju sebuah situs sejarah yang melegenda di Pacitan: Perguruan Islam Pondok Tremas. Di sana, mereka tidak hanya melihat bangunan fisik, melainkan terkesima oleh rahasia abadi kekuatan spiritual dan intelektual yang tersimpan di balik dinding ikonik Ndalem Paguron Soko Papat.
Misteri ‘Soko Papat’ dan Masa Keemasan Tremas
Bagi setiap peziarah ilmu yang datang ke Pondok Tremas, Ndalem Paguron Soko Papat adalah episentrum kekaguman. Bangunan ini merupakan kediaman peninggalan Simbah KH Dimyathi (Periode III: 1894-1934) yang terdiri dari empat tiang utama (Soko Papat) yang hingga kini masih terjaga keasliannya. Di balik kesederhanaan struktur kayu tersebut, tersimpan rahasia kejayaan peradaban Islam Nusantara.
Pada masa KH Dimyathi yang akrab disapa “Mbah Guru” inilah, Pondok Tremas mengalami Masa Keemasan I. Ketinggian ilmu dan karomah spiritual beliau berhasil memikat para pencari ilmu dari berbagai penjuru, hingga kuantitas santri melesat tajam menyentuh angka 3.000-an sebuah angka yang sangat masif untuk ukuran zamannya. Beliau pula yang menegaskan identitas institusi ini dengan nama “Perguruan Islam Pondok Tremas”, sebuah tempat di mana ruh untuk berguru benar-benar dihidupkan. Kedekatan emosional dan intelektual Mbah Guru dengan pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, bahkan diperkuat melalui ikatan keluarga (besan), yang semakin menegaskan posisi strategis Tremas dalam peta sejarah ulama Jawa.
Mahasiswa Besongo menyadari, Soko Papat bukan sekadar penyangga bangunan, melainkan simbol empat pilar keteguhan mahasantri: kedalaman ilmu, kemuliaan akhlak, keteguhan spiritual, dan pengabdian pada umat.
Meretas Jejaring Global dari Pedalaman Pacitan
Hal yang paling membuat mahasiswa Besongo terpukau adalah kenyataan bahwa pesantren yang terletak jauh dari pusat keramaian ini justru menjadi motor penggerak intelectual chains (jejaring intelektual) dunia. Rahasia ini berakar sejak masa KH Abdul Mannan (Periode I: 1820-1862), sang peletak batu pertama Pondok Tremas. Selepas mengaji di Pondok Tegalsari Ponorogo di bawah asuhan KH Hasan Besari, beliau sempat mendirikan pondok di Semanten sebelum akhirnya bermutasi ke Tremas demi mencari tempat yang lebih kondusif bagi santri untuk fokus belajar, jauh dari hiruk-pikuk pemerintahan.
Siapa sangka, dari desa terpencil di Pacitan ini, KH Abdul Mannan melangkah menjadi generasi pertama orang Indonesia yang menembus Universitas Al-Azhar, Mesir pada tahun 1850-an. Tinggal di Ruwak Jawi (asrama khusus penuntut ilmu asal Indonesia), beliau berguru langsung kepada Grand Syeikh ke-19, Ibrahim Al-Bajuri. Dialektika internasional ini membuahkan hasil luar biasa; beliau membawa pulang kitab-kitab babon seperti Fath al-Mubin dan mempopulerkan kitab Ithaf Sadat Al-Muttaqin (syarah Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali) untuk pertama kalinya di tanah Jawa.
Estafet keilmuan ini diteruskan oleh putranya, KH Abdullah (Periode II: 1862-1894). Meskipun di zamannya akses jalan menuju Pacitan belum ada kendaraan dan santri harus berjalan kaki melewati gunung dan hutan lebat, KH Abdullah sukses meletakkan landasan kemajuan yang kokoh. Beliau mengirimkan seluruh putra laki-lakinya ke Makkah untuk bermukim dan menuntut ilmu.
Salah satu putranya adalah Syaikh Mahfudz Attarmasi, seorang ulama besar yang berhasil menduduki posisi terhormat sebagai pengajar di Masjidil Haram. Syaikh Mahfudz diakui dunia sebagai Isnad (mata rantai) sah terakhir pada masa itu dalam transmisi pengajaran Shohih Bukhori, sebuah ijazah berantai melalui 23 generasi ulama langsung dari Imam Bukhori. Dari tangannya, lahir murid-murid hebat yang kelak menjadi pilar Nusantara: KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, hingga KH Raden Asnawi Kudus. Fakta historis dari Studi Banding ini menampar kesadaran para mahasantri Besongo: keterbatasan fasilitas geografis bukanlah alasan untuk mandek menjadi intelektual kelas dunia.
Ujian Darah dan Resiliensi Manajemen Modern
Pesantren Tremas tidak melulu melewati jalan bertabur bunga. Rahasia abadi bertahannya lembaga ini terletak pada daya lenturnya (resilience) saat dihantam badai sejarah. Pada masa KH Hamid Dimyathi (Periode IV: 1934-1948), Tremas memasuki fase kemunduran yang memilukan. Akibat kebiadaban politik “Affair Madiun” yang dilancarkan oleh PKI, KH Hamid Dimyathi gugur menjadi korban pembantaian dalam perjalanannya menuju Yogyakarta untuk menyelamatkan diri atas anjuran Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Kehilangan figur kiai membuat ribuan santri pulang demi keselamatan jiwa, membawa pondok ke dalam masa vakum total selama beberapa tahun.
Namun, ruh Tremas menolak mati. Kebangkitan besar kedua atau Masa Keemasan II lahir berkat manajemen modern yang digawangi oleh tiga serangkai: KH Habib Dimyathi, KH Haris Dimyathi, dan KH Hasyim Ihsan sekembalinya mereka menuntut ilmu dari Pondok Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Ma’sum. Mereka tidak lagi menggunakan sistem kepemimpinan tunggal yang konvensional, melainkan merintis pembagian tugas (job description) yang profesional:
- KH Habib Dimyathi memegang kendali penuh atas seluruh administrasi lembaga pendidikan.
- KH Haris Dimyathi fokus mengembangkan metodologi pengajaran dan inovasi kurikulum.
- KH Hasyim Ihsan menangani urusan sosial-spiritual, baik internal santri maupun eksternal masyarakat sekitar.
Hasilnya luar biasa. Manajemen yang rapi membuat santri kembali berdatangan hingga mencapai angka 2.500-an. Bagi mahasiswa Besongo yang akrab dengan teori organisasi kampus, pola ini adalah contoh nyata al-akhdhu bi al-jadid al-ashlah: mengadopsi manajemen modern demi menyelamatkan warisan nilai-nilai tradisional.
Menuju Masa Keemasan III: Mengawinkan Salaf dan Teknologi
Kekaguman para mahasiswa UIN Walisongo sekaligus santri Pondok Pesantren Darul Falah BesongovSemarang ini mencapai puncaknya saat melihat wajah Tremas hari ini di bawah kepemimpinan KH Fuad Habib Dimyathi & KH Luqman Haris Dimyathi (1997-Sekarang). Sebagai figur pemimpin muda yang responsif dan visioner, mereka melakukan lompatan besar. Pembenahan diawali dari restorasi Masjid Pondok Tremas sebagai pusat peradaban senilai Rp 2,5 Miliar yang diresmikan langsung oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2006.
Tidak berhenti di sana, infrastruktur modern dibangun berturut-turut: laboratorium komputer, laboratorium bahasa, ruang diklat, hingga penguatan sektor ekonomi melalui koperasi santri. Puncaknya adalah keberhasilan Tremas meraih status “Pesantren Mu’adalah” secara resmi melalui SK DIRJEN Pendidikan Islam tahun 2006 dan diperkuat lewat Peraturan Menteri Agama (PMA) oleh Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifuddin pada tahun 2014.
Status Mu’adalah ini memberikan pengakuan hukum yang setara bagi lulusan Tremas dengan sekolah formal mana pun untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri, tanpa mengharuskan pesantren mengubah sistem salaf (kitab kuning) aslinya. Dengan jumlah santri yang stabil di angka 2.000-an, Tremas kini mantap melangkah “Menuju Masa Keemasan III”.
Refleksi Akhir: Menjadi Mahasiswa Tanpa Kehilangan Mahasantri
Perjalanan studi banding santri Darul Falah Besongo Semarang ke Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan telah membongkar rahasia besar. Rahasia abadi di balik tembok Soko Papat bukanlah jimat atau mantra, melainkan konsistensi memegang teguh sanad ilmu, ketangguhan mental dalam menghadapi krisis ideologi, serta keberanian membuka diri terhadap manajemen modern tanpa meluruhkan spiritualitas pesantren.
Pulang dari Tremas, para mahasiswa Besongo membawa oleh-oleh kesadaran yang mahal: kuliah dan mengejar IPK tinggi di kampus adalah sebuah keharusan akademis, tetapi mempertahankan jiwa mahasantri di dalam dada adalah kehormatan spiritual yang mutlak. Tembok Soko Papat Tremas telah menjadi saksi bisu, bahwa peradaban yang abadi adalah peradaban yang mampu mengawinkan luhurnya tradisi masa lalu dengan tajamnya inovasi masa depan.
Ditulis Oleh: Abdus Salam Bariklana (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)



















