Be-songo.or.id

Takbir Raya

Alam bertajuk, udara merasuk

Rintiknya menderu, seakan ikut memburu

Daun berguguran, serta merta membawa dosaku raib tertelan

Nirmala kian melambai

Aku ditinggalnya pergi, berharap akan berjumpa lagi

Bahkan rembulan tak sanggup menahan air mata yang terbendung sedari tadi

Basah, membasahi hati yang kalap

Seraya bibirnya komat-kamit mengucap

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Laailahaillallahu Wallahu Akbar

Allahu Akbar, Walillahil hamd

Semenjak takbir raya dilangitkan malam itu, seluruh umat Islam bersuka cita menunggu udara pagi ini. Mengenakan pakaian terbaiknya, berbondong-bondong sambil tergopoh-gopoh menuju surau.

Senyum yang disuguhkan bukan serta-merta sebagai topeng seperti hari-hari biasa. Kini mereka sumringah, senyumnya merekah, sangat indah. Meraup segala kenikmatan selama satu purnama.

Bak lirik lagu Gita Gutawa, “berjabatan tangan sambil bermaaf-maafan” menjadi tradisi yang dilakukan antar sesama muslim di Hari Kemenangan ini. Berjabat tangan mampu menggugurkan dosa-dosa yang sering diukir oleh manusia.

Itulah seni mereka. Seni mengukir dosa, pada batu yang sering dipijaknya, dan membuat dirinya terpelosok sendiri kedalam ukirnya. Diantara telapak tangan mereka menyatu, seakan membawa kita kembali ke fitrah sebagai pengingat akan pentingnya tali silaturahmi yang harus selalu terikat.

Momen raya menjadikan sebuah kemenangan jiwa yang dapat meninggalkan duka, amarah, dan nestapa. Mengabadikan momen raya dengan berfoto ria, penuh cita, canda tawa. Aroma ketupat dan opor ayam melambai-lambai, menarik gemuruh ramai untuk bersorai-sorai.

Namun halnya tak sesuai yang mereka kira. Bersamaan dengan suara takbir yang sedari tadi masih menggema di angkasa, memutarbalikkan memori sebagian insan akan sajian tangan Ibu yang sudah berapa tahun lamanya tak dirasa oleh mereka. Perasaan itu hidup kembali. “Padahal aku sudah melupakan meja makan kuno itu”, kata mereka.

Segala puji bagi Allah, masih memberi kita kesempatan untuk meraih banyak kemenangan di bulan suci Ramadhan yang hanya bisa kita rasakan secara individu betapa ajaib sentuhan-Nya. Dibuatnya aku menganga, segala celah perilaku ku, Ia hadir dengan segudang Rahmat dan Rahim. Membersihkan pakaian ku yang sudah koyak nan kumuh.

Oleh: Fina Nur Anisah Rohmatika (Santriwati Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)

Editor: Zakiyah Kibtiah

REKOMENDASI >