Dalam setiap kegiatan, perencanaan yang matanng menjadi kunci keberhasilan. Proposal dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) bukan sekedar dokumen administratif, tetapi fondasi utama agar kegiatan berjalan terarah dan terukur. Permasalahan yang sering terjadi dalam penyusunan proposal dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) umumnya berakar pada kurangnya riset, perencanaan yang tidak logis, serta ketidaksesuaian antara narasi kegiatan dengan kebutuhan riil dana.
Dari sisi anggaran, RAB sering kali tidak realistis, baik terlalu mahal atau justru terlalu rendah (underbudget) serta tidak berdasarkan survei harga pasar terkini. Ketidaksesuaian antara rencana dan rincian biaya inilah yang sering membuat proposal sulit disetujui. Menyadari kesalahan tersebut, pada Senin 2 Februari 2026, Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang mengadakan seminar Proposal Kegiatan dan RAB dalam kegiatan tahunan yaitu Pascalib.
Menghadirkan pemateri Ustadzah Tutik Setiyowati, S.Sos.I yang menjelaskan dan mempraktikkan cara menyusun proposal kegiatan dan RAB yang baik dan sistematis, dengan tujuan menjembatani kemampuan teoritis keilmuan dengan kemampuan manajemen praktis, serta menjadi alat pendukung utama dalam berorganisasi. Kemampuan ini memperkuat nilai-nilai tanggung jawab, disiplin, kejujuran, dan kerjasama yang ditanamkan di pondok pesantren dan masyarakat umum.
Lebih dari sekedar keterampilan teknis, kemampuan ini juga memperkuar nilai-nilai tanggung jawab, disiplin, kejujuran, dan kerja sama yang ditanamkan baik di lingkunga pondok pesantren mapupun masyarakat umum. Hal ini menegaskan bahwa penyusunan proposal dan RAB bukan sekedar pekerjaan adminsitratif, melainkan strategi penting untuk meyakinkan pihak lain bahwa sebuah kegiatan layak didukung dan direalisasikan.
Dalam menyusun proposal dan RAB yang harus diperhatikan adalah keseimbangan antara daya tarik visual dan akurasi data. Proposal yang baik harus menarik sekaligus akurat secara data, sementara RAB harus disusun realistis dan transparan dengan mencantumkan volume, satuan, dan harga pasar yang realistis untuk membangun kepercayaan.
Transparansi anggaran bukan hanya soal kejujuran, tetapi juga menunjukkan profesionalitas dalam perencanaan risiko, sehingga pihak penyetuju merasa aman dan yakin bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan memiliki dampak nyata yang terukur.
Oleh: Diah Hidayatul Azizah (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)



















