Semarang, 14 Februari 2026 — Tim Redaksi Besongo Online Pondok Pesantren Darul Falah Besongo menggelar acara bedah buku berjudul Suara Perempuan Akar Rumput di Madin Raudlatul Jannah. Kegiatan ini merupakan rangkaian acara pascaliburan yang bertujuan meningkatkan literasi santri sekaligus menumbuhkan empati dan kepekaan sosial di lingkungan sekitar.
Acara bedah buku kali ini menghadirkan penulis Arina Millataka, seorang aktivis perempuan sekaligus penulis buku, serta M. Makmun Abha, M.Ag., dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang, sebagai pembanding. Acara ini diikuti oleh seluruh santri serta dihadiri oleh pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, Prof. Dr. KH. Imam Taufik, M.Ag., serta dewan asatidz.
Ketua panitia, Nur Muchammad Syafi, dalam sambutannya menyampaikan harapan kepada seluruh santri agar setelah mengikuti bedah buku ini dapat meningkatkan literasi dan minat belajar.
“Acara kali ini diharapkan mampu meningkatkan literasi kita semua untuk memudahkan kita dalam memahami lalu juga menguasai apa yang akan kita kaji, karena belajar itu tidak ada batasnya,” ujarnya.
Buku Suara Perempuan Akar Rumput mengajak para pembaca untuk lebih peka terhadap realitas kehidupan perempuan di lapisan masyarakat bawah yang kerap luput dari perhatian. Melalui kisah nyata yang ditulis secara jujur dan reflektif, buku ini menghadirkan potret perjuangan, keteguhan, serta harapan perempuan dalam menghadapi persoalan sosial, ekonomi, dan budaya.
Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo menyampaikan bagaimana perempuan berikhtiar mendobrak tradisi yang membatasi ruang geraknya serta menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan. Oleh karena itu, upaya pemberdayaan, kesetaraan, dan pendampingan bagi mereka yang isu dan faktanya termarjinalkan di lingkungan pondok, keluarga, maupun organisasi perlu diperjuangkan. Menurut beliau, hal tersebut menjadi isu penting yang patut dikritisi oleh para santri.
Dalam pemaparannya, Arina Millataka menjelaskan bahwa buku ini berisi pengalaman autentik perempuan dari berbagai latar belakang yang menghadapi ketidakadilan dan keterbatasan. Ia menegaskan bahwa buku ini bukan sekadar dokumentasi cerita, melainkan bentuk pengakuan atas suara yang selama ini terpinggirkan. Melalui kegiatan bedah buku ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif untuk menghargai peran perempuan serta mendorong terciptanya ruang yang lebih adil dan setara dalam kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, M. Makmun Abha memberikan apresiasi atas terbitnya buku ini. Menurutnya, buku ini tidak ditujukan khusus bagi laki-laki atau perempuan, melainkan bagi siapa saja yang masih berada dalam tradisi patriarkis. Isi buku ini dirancang untuk menggugah kesadaran tentang gender. Selain itu, beliau juga menyampaikan pengalamannya setelah membaca buku tersebut.
“Saya teringat ketika membaca judulnya Suara Perempuan Akar Rumput. Dulu sekitar tahun 2008, saat kuliah di Jogja, kami membuat majalah kecil, namanya Suara Rumput Ilalang. Semangat pemikiran baru saat itu sangat positif,” ujarnya.
Kegiatan bedah buku ini tidak hanya menjadi ruang literasi, tetapi juga ruang perenungan dan penguatan komitmen bersama untuk lebih peka, adil, dan peduli terhadap realitas sosial di sekitar. Semoga semangat yang tumbuh dalam forum ini terus menginspirasi langkah nyata dalam memperjuangkan martabat serta suara perempuan akar rumput di tengah masyarakat.
Oleh: Muhammad Khalkaan Tsaqif (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)



















