Be-songo.or.id

Perawatan dan Pemanfaatan Tanaman Obat: Pesantren Besongo Wujudkan Kemandirian Kesehatan lewat TOGA

Semarang, 15 Februari 2026 – Suasana khidmat menyelimuti serambi Madrasah Diniyah (Madin) Raudlatul Jannah pada Minggu pagi. Santri Darul Falah Besongo, Semarang berkumpul mengikuti Seminar Pengelolaan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang digelar sebagai wujud kepedulian terhadap kemandirian kesehatan.

Ketua panitia, Irfa’ Zuka Ahmada, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata dalam merealisasikan pesan Prof. Dr. H. A. Umar, M.A. yang disampaikan dalam muhadharah ‘ammah beberapa waktu lalu.

“Seperti yang ditekankan KH Umar, santri seharusnya bisa hidup sederhana sembari memanfaatkan potensi alam di sekitar. Seminar ini adalah langkah nyata dari kami untuk menunjukkan bahwa alam menyediakan segala hal jika kita tahu cara mengelolanya,” ujarnya.

Seminar berlangsung pukul 08.00–10.00 WIB yang menghadirkan dua narasumber, yakni  Ustadzah Shofiyyah, M.Pd. dan Ustadzah Muzayyinatun Nadhifah, S.Pd. Materi yang disampaikan meliputi pengertian TOGA, jenis tanaman obat, manfaatnya yang spesifik bagi kesehatan, cara perawatan tanaman obat hingga cara pengolahannya menjadi obat yang dapat buat sendiri.

Antusiasme santri terlihat dalam sesi tanya jawab. Para santri aktif mengajukan pertanyaan, mulai dari cara mengenali rimpang yang serupa hingga cara meracik tanaman obat yang sesuai untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan mereka.

Sesi praktik menjadi bagian paling menarik dalam kegiatan ini. Para santri tidak hanya menonton, tetapi juga ikut meracik jamu kunir asam dan rebusan daun sirih. Jamu kunir asam memiliki banyak manfaat, antara lain membantu mengurangi rasa nyeri yang dialami santriwati saat menstruasi. Selain itu, santri juga belajar langsung cara merebus daun sirih dengan suhu dan kadar air yang tepat untuk digunakan sebagai obat kumur alami (antiseptik).

Aroma segar kunyit dan sirih memenuhi ruangan saat para santri mulai menumbuk dan merebus bahan-bahan herbal. Santri sangat antusias saat melihat ramuan jamu selesai dibuat. Wajah penasaran seketika berubah menjadi senyum puas setelah mencicipi jamu hasil racikan mereka sendiri. Hal ini membuktikan bahwa ramuan sehat juga dapat terasa nikmat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kecakapan hidup (life skills) yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Transformasi dari teori menuju praktik ini diharapkan mampu melahirkan generasi santri yang sehat, mandiri, dan selaras dengan alam, sebagaimana dicita – citakan dalam pesan Prof. Dr. H. A. Umar, M.A.

Oleh: Ayu alimatus sa’diya (Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo)

REKOMENDASI >